Denny JA: Potret Warna-Warni 81 Tahun Indonesia
POTRET WARNA-WARNI 81 TAHUN INDONESIA
- Kata Pengantar Buku SATUPENA Meraba Masa Depan Indonesia Setelah Merdeka 81 Tahun, 2026
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Seorang ayah memandangi anaknya yang tertidur sambil memeluk buku. Malam itu ia tidak menghitung halaman. Ia menghitung bagian tubuh yang masih dapat dijual.
Ginjalnya tiba-tiba mempunyai harga. Bukan karena ia ingin kaya. Ia hanya ingin anaknya tetap bersekolah dan memperoleh masa depan yang lebih baik.
Pagi berikutnya, selembar kardus berbicara lebih keras daripada pidato kenegaraan: “Dijual Ginjal Untuk Biayo Sekolah Anak.” Kemiskinan mengubah tubuh manusia menjadi mata uang.
Adegan getir itu hidup kembali dalam puisi esai Rissa Churria, "Kardus Agustus." Puisi itu terinspirasi kisah Herman, warga Palembang, yang pada 2017 menawarkan ginjalnya agar anaknya tidak putus sekolah.
Di tangan puisi, ginjal tidak lagi sekadar organ tubuh. Ia menjelma metafor tentang harga yang nyaris harus dibayar seorang ayah demi pendidikan anaknya.
Di sanalah kemerdekaan mendadak menjadi sangat personal. Apa artinya delapan puluh satu tahun merdeka jika kemiskinan masih membuat manusia menawar tubuhnya sendiri?
-000-
Buku ini berjudul Meraba Masa Depan Indonesia Setelah Merdeka 81 Tahun. Ia bukan buku perayaan. Ia lebih menyerupai pemeriksaan kesehatan batin sebuah republik.
Di dalamnya terkumpul lebih dari 100 tulisan dari 100 penulis. Bentuknya beragam: esai, puisi esai, puisi, dan cerita pendek karya para penulis SATUPENA dari berbagai latar kehidupan.
Jonminofri Nazir menulis pengantar editor bertajuk Meraba Masa Depan Indonesia: di Antara Harapan dan Kegelisahan. Judul itu sekaligus merangkum denyut utama antologi ini.
Buku ini bergerak dari demokrasi menuju ekonomi, dari pendidikan menuju kebudayaan, dari teknologi menuju lingkungan, lalu kembali kepada manusia sebagai pusat persoalan.
Ada penulis yang datang membawa kemarahan. Ada yang membawa data. Ada yang membawa pengalaman. Ada pula yang membawa harapan seperti lilin kecil dalam kamar gelap.
Karena itu, buku ini tidak menawarkan satu wajah Indonesia. Ia memperlihatkan banyak Indonesia yang hidup serentak, saling berdebat, tetapi berbagi sejarah yang sama.
Indonesia di sini bukan foto resmi yang digantung rapi di dinding kantor. Ia lebih mirip album keluarga dengan senyum, luka, konflik, kehilangan, dan harapan.
Justru karena tidak seragam, buku ini terasa hidup. Sebuah republik memang terlalu besar untuk diceritakan hanya dengan satu nada dan satu sudut pandang.
-000-
Saat membaca buku lebih dari seribu halaman ini, saya menemukan tiga kekuatan utamanya. Yang pertama adalah keberagaman pandangan yang sengaja tidak dipaksa menjadi satu kesimpulan.
Indonesia terlalu luas untuk dimasukkan ke dalam satu kalimat. Ia juga terlalu majemuk untuk dipenjara hanya dalam kotak optimisme atau pesimisme.
Ani Yoslinda Waromi, guru SMP di Kuala Kencana, melihat pembangunan dari ruang kelas Papua. Eddy Salahuddin menakarnya melalui rupiah. Ahkam Jayadi mengujinya melalui negara hukum yang kehilangan nurani.
Perbedaan itu bukan kelemahan buku ini. Justru di sanalah kekuatannya. Bangsa dewasa bukan bangsa yang semuanya sepakat, melainkan yang mampu mengelola ketidaksepakatan.
Masa depan Indonesia kemudian tidak hadir sebagai ramalan. Ia hadir sebagai perdebatan terbuka. Perdebatan semacam itu sering menjadi laboratorium pertama bagi perubahan.
Buku ini mengingatkan bahwa keragaman suara bukan ancaman terhadap persatuan. Persatuan yang matang justru lahir ketika perbedaan memperoleh ruang untuk berbicara.
-000-
Kekuatan kedua adalah kemampuan membawa persoalan besar kembali kepada kehidupan manusia biasa. Statistik mendapat wajah. Teori memperoleh air mata. Kebijakan menyentuh meja makan.
Kita dapat berdebat panjang tentang anggaran pendidikan. Tetapi seorang ayah yang menawarkan ginjal membuat persoalan struktural terasa jauh lebih dekat dan jauh lebih menyakitkan.
Salah satu esai dalam buku ini mengutip perhitungan Oxfam: kekayaan empat orang terkaya di Indonesia lebih besar daripada gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin.
Angka itu mudah dibaca, tetapi sulit dibayangkan. Di baliknya ada keluarga yang harus mengurangi beras, memilih lauk paling murah, atau menunda sekolah anak.
Di sinilah sastra menawarkan sesuatu yang tidak selalu dimiliki laporan resmi. Data memberi ukuran. Cerita memberi makna. Keduanya diperlukan agar bangsa memahami dirinya.
Ketika data bertemu pengalaman manusia, penderitaan tidak lagi menjadi angka anonim. Ia memperoleh nama, wajah, keluarga, mimpi, dan alasan moral untuk diperbaiki.
Kemajuan pun seharusnya diukur demikian. Bukan hanya melalui grafik pertumbuhan, tetapi melalui perubahan konkret yang dirasakan manusia dalam sekolah, rumah, pekerjaan, dan kesehatan.
-000-
Kekuatan ketiga adalah ketegangan kreatif antara kritik dan harapan. Buku ini tidak menjadi propaganda keberhasilan. Namun ia juga tidak berubah menjadi katalog keputusasaan.
Ada kritik terhadap korupsi, oligarki, ketimpangan, kualitas demokrasi, pendidikan, dan kerusakan lingkungan. Tetapi terdapat pula kesaksian mengenai daya lentur luar biasa Indonesia.
Kritik mencegah bangsa berpuas diri. Optimisme mencegah masyarakat menyerah. Keduanya bukan musuh. Keduanya seperti dua mata yang diperlukan untuk melihat dengan utuh.
Kritik tanpa harapan mudah berubah menjadi sinisme. Optimisme tanpa kritik mudah berubah menjadi obat tidur. Indonesia membutuhkan keberanian sekaligus keyakinan untuk memperbaiki diri.
Bagi saya, cinta tanah air menemukan bentuk dewasanya justru di sini. Mencintai Indonesia tidak berarti melupakan kebocoran atap rumah yang kita tinggali bersama.
Cinta yang matang berani mengatakan ada yang salah. Tetapi cinta yang sama juga percaya rumah itu masih layak dirawat, diperbaiki, dan diwariskan.
-000-
Salah satu warna menarik datang dari Berthold Damshäuser melalui "Krisis, Daya Tahan, dan Lain-Lain: Mengamati Indonesia Sejak 50 Tahun."
Ia orang Jerman yang setengah abad hidup bersama Indonesia, sejak pertama kali datang pada 1976. Kedekatannya memberi cinta. Jarak asalnya memberi perspektif yang tidak selalu dimiliki orang dalam.
Pada 1998, setelah Soeharto tumbang, ia meramalkan di depan mahasiswanya bahwa Indonesia akan mengalami Balkanisasi. Ramalan itu meleset. Indonesia ternyata mempunyai daya lentur yang ia sendiri remehkan.
Pengalaman salah meramal itu menghasilkan kerendahan hati intelektual. Damshäuser kemudian lebih berhati-hati menghadapi narasi kehancuran yang begitu mudah berkembang dalam masyarakat.
Namun optimisme itu bukan pujian kosong. Ia tetap menggugat ketimpangan, oligarki, perubahan iklim, dan nasionalisme yang menyala di tribun stadion lalu menguap di meja birokrasi.
Ia seperti peziarah setia yang setengah abad bolak-balik ke negeri ini. Karena tetap memandang dari luar, beberapa retak justru terlihat lebih jelas.
-000-
Nia Samsihono melalui Mencintai Indonesia dengan Mata Terbuka mengambil posisi yang sama pentingnya. Indonesia, baginya, sedang berdiri di depan dua pintu.
Pintu pertama bernama kemajuan. Pintu kedua bernama krisis. Arah akhirnya bergantung pada kualitas institusi, keadilan ekonomi, kebijakan publik, dan keberpihakan kepada rakyat.
Pesannya sederhana, tetapi mendalam. “Negeri ini terlalu indah untuk hanya diratapi dan negeri ini juga terlalu berharga untuk hanya dipuji tanpa kritik.”
Damshäuser mengingatkan bahaya pesimisme berlebihan. Nia mengingatkan bahaya optimisme tanpa koreksi. Di antara keduanya, pembaca mendapatkan ruang untuk berpikir lebih jernih.
Dua tulisan itu memperlihatkan watak buku ini. Indonesia tidak diberi vonis. Indonesia diajak bercermin, lalu memutuskan sendiri wajah seperti apa yang hendak dibentuk.
-000-
Dalam berbagai percakapan tentang Indonesia, saya semakin menyadari sesuatu. Satu negeri dapat hidup dalam banyak pengalaman yang berbeda pada saat yang sama.
Pengusaha mungkin melihat kesempatan investasi. Buruh melihat harga kebutuhan. Guru melihat kemampuan membaca muridnya. Petani melihat pupuk, cuaca, dan harga panen.
Mereka sedang membicarakan Indonesia yang sama. Tetapi mereka berdiri di jendela berbeda. Masing-masing melihat potongan kenyataan yang sungguh ada.
Karena itu, perdebatan mengenai apakah Indonesia sedang maju atau mundur kadang terlalu sederhana. Keduanya dapat terjadi sekaligus dalam wilayah dan kelompok berbeda.
Satu sektor dapat berlari. Sektor lain tertatih. Sebuah kota dapat menikmati teknologi mutakhir, sementara desa lain masih bergulat dengan kebutuhan paling dasar.
Bagi saya, justru di sinilah negara memperoleh maknanya. Negara diperlukan untuk menjahit potongan-potongan pengalaman itu menjadi kesempatan yang lebih adil bagi semua.
Membaca ragam tulisan dalam buku ini terasa seperti memasuki ruangan besar dengan banyak jendela. Setiap penulis membuka satu. Pembaca diajak melihat dari semuanya.
-000-
Dua buku dapat membantu memberi lensa intelektual lebih luas. Yang pertama ialah Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism karya Benedict Anderson, yang terbit pertama kali pada 1983.
Anderson, Indonesianis dari Cornell University, menjelaskan bangsa sebagai imagined community. Warganya tidak mungkin saling mengenal, tetapi mereka membayangkan diri tergabung dalam satu komunitas nasib bersama.
Bahasa, pendidikan, media, simbol, sejarah, dan ingatan kolektif menjahit jutaan manusia menjadi sebuah “kita”. Indonesia adalah salah satu eksperimen terbesar proses itu.
Aceh, Jawa, Dayak, Bugis, Ambon, Bali, dan Papua tidak dipersatukan oleh keseragaman. Mereka dipertemukan melalui imajinasi mengenai rumah bersama bernama Indonesia.
Karena itu, tantangan terbesar bangsa bukan hanya menjaga perbatasan. Tantangannya ialah terus memperbarui alasan mengapa warga ingin hidup bersama dan berbagi masa depan.
Bangsa bisa kehilangan wilayah karena perang. Tetapi bangsa juga dapat kehilangan dirinya ketika warganya berhenti percaya bahwa mereka masih memiliki cerita bersama.
-000-
Buku kedua adalah Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson, yang terbit pada 2012.
Pesan pokoknya tegas. Kekayaan alam, geografi, atau budaya tidak otomatis menghasilkan kemakmuran. Institusi menentukan apakah potensi berkembang atau dikuasai sebagian kecil elite.
Institusi inklusif membuka kesempatan, menjaga hukum, membatasi monopoli kekuasaan, dan mendorong inovasi. Institusi ekstraktif memusatkan keuntungan pada mereka yang menguasai sistem.
Lensa ini sangat berguna untuk membaca Indonesia. Negeri kita tidak kekurangan modal. Kita mempunyai manusia, sumber daya alam, pasar besar, dan posisi geografis strategis.
Pertanyaannya bukan apakah Indonesia kaya. Pertanyaannya apakah institusi mampu mengubah kekayaan itu menjadi kemampuan nyata rakyat untuk hidup bermartabat dan berkembang.
Tambang yang kaya tidak otomatis melahirkan sekolah yang baik. Pertumbuhan tinggi tidak otomatis melahirkan keadilan. Infrastruktur megah tidak otomatis menghadirkan mobilitas sosial.
Sebuah bangsa dapat kaya di bawah tanah, tetapi miskin di atasnya. Di titik itulah kualitas institusi menentukan apakah kekayaan menjadi berkah atau kutukan.
-000-
Tentu ada kontra-argumen. Sebagian pembaca dapat mengatakan bahwa kumpulan seperti ini terlalu penuh kegelisahan sehingga memperkuat kesan Indonesia selalu berada dalam krisis.
Keberatan itu perlu dihormati. Indonesia memang mempunyai capaian nyata. Infrastruktur bertambah, pendidikan meluas, teknologi menyebar, demokrasi bertahan, dan kehidupan banyak keluarga membaik.
Damshäuser bahkan menyebut BPJS Kesehatan, yang sering dicaci karena antreannya, sebagai salah satu lompatan kemanusiaan terbesar di negeri ini.
Ia juga mengingatkan bahaya menjadikan kata “krisis” sebagai kebiasaan intelektual. Bangsa yang terus meramalkan kiamat dapat kehilangan kemampuan mengenali keberhasilan nyata.
Tetapi jawabannya bukan mengurangi kritik. Jawabannya adalah membuat kritik semakin berdisiplin. Ia harus diuji dengan data, sejarah, perbandingan, dan kesediaan mengakui kemajuan.
Hal yang sama berlaku bagi optimisme. Harapan harus memiliki bukti. Pujian perlu diuji. Sebab optimisme yang menolak fakta pada akhirnya sama rapuhnya dengan pesimisme.
Di sinilah buku ini memperoleh keseimbangan. Optimisme diuji oleh kenyataan. Pesimisme diuji oleh daya tahan bangsa yang berkali-kali membuktikan kemampuan untuk bangkit.
Yang kita perlukan bukan Indonesia yang selalu dipuji atau dicela. Kita membutuhkan Indonesia yang terus diperiksa, karena hanya yang diperiksa dapat terus diperbaiki.
-000-
Kemerdekaan sejatinya bukan sekadar monumen sejarah yang dirayakan, melainkan keberanian etis untuk terus menata rumah bersama agar tidak ada tak banyak lagi anak bangsa yang terpinggirkan dari mimpi-mimpinya sendiri.
Pada usia 81 tahun, pertanyaan terpenting mungkin bukan apakah Indonesia berhasil. Tidak ada bangsa yang pernah selesai. Bahkan negara maju tetap membawa masalah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah ini: apakah kemampuan kita memperbaiki kesalahan berkembang lebih cepat dibanding kemampuan kita menciptakan kesalahan baru?
Di titik itu, masa depan berhenti menjadi ramalan. Ia berubah menjadi pilihan tentang pendidikan, institusi, demokrasi, teknologi, keadilan sosial, lingkungan, dan martabat manusia.
Kemerdekaan memang bermula pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Tetapi kemerdekaan menjadi penuh ketika ketakutan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan juga kehilangan kekuasaannya.
Indonesia telah berkali-kali jatuh, berselisih, dan mengalami krisis, lalu menemukan daya hidup yang mengejutkan bahkan para pengamatnya. Luka dan daya sembuh itu hadir bersama dalam potret 81 tahun ini.
Tugas generasi hari ini bukan mewariskan Indonesia tanpa masalah. Itu mustahil. Tugas kita ialah mewariskan manusia dan institusi yang lebih mampu menyelesaikan masalah.
Rissa Churria menulis tentang tubuh yang hampir ditukar dengan pendidikan. Kisah itu seharusnya mengganggu ketenangan kita lebih lama daripada suara kembang api bulan Agustus.
Sebab republik belum sepenuhnya merdeka selama seorang ayah merasa ginjalnya lebih mudah dijual daripada sekolah anaknya dijangkau.*
Jakarta, 7 Oktober 2026
REFERENSI
Benedict Anderson, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, Verso, 1983.
Daron Acemoglu dan James A. Robinson, Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty, Crown Business, 2012.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.
https://www.facebook.com/share/1Dn4CNrLDc/?mibextid=wwXIfr ***