Kearifan Nusantara di Sekolah Solo, Penyeimbang AI untuk Karakter Anak
ORBITINDONESIA.COM – Wacana kearifan Nusantara masuk kurikulum SD–SMP di Solo menguat saat demam kecerdasan buatan (AI) kian merasuk ruang kelas. Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan, anak-anak tidak cukup hanya mahir teknologi, tetapi harus berakar pada nilai seperti eling lan waspada dan tepa selira.
Gagasan ini mengemuka dalam Simposium Budaya “Jejak Solo untuk Dunia” di Taman Balekambang pada 1 September 2026. Pemkot Solo ingin budaya tidak berhenti sebagai cerita sejarah, tetapi hadir sebagai kebiasaan yang membentuk watak.
Respati menyebut warisan budaya kerap diperlakukan sebagai kebanggaan simbolik, bukan pedoman hidup. Ia berkata, “Warisan budaya tidak cukup hanya kita kenal dan kita banggakan. Nilai-nilainya harus kita hayati dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.”
Di sekolah, tekanan modernitas makin terasa karena anak diburu target literasi digital dan kemampuan adaptif. Namun, ketika teknologi bergerak cepat, ruang pembentukan karakter sering tertinggal dan dibiarkan menjadi urusan tambahan.
AI mempercepat akses pengetahuan, tetapi juga mempercepat peniruan tanpa pemahaman, termasuk plagiarisme dan budaya instan. UNESCO dalam “Guidance for Generative AI in Education and Research” (2023) menekankan perlunya literasi etika, privasi, dan integritas akademik saat AI digunakan di pendidikan.
Di titik ini, kearifan Nusantara bisa menjadi perangkat etik yang dekat dengan keseharian anak. Nilai eling lan waspada dapat diterjemahkan sebagai jeda sadar sebelum mengunggah, membagikan, atau mempercayai informasi.
Tepa selira dapat menjadi pelatihan empati yang konkret di kelas yang makin beragam. Ia bisa hadir lewat praktik mendengar aktif, bahasa yang tidak merendahkan, dan kebiasaan meminta maaf saat melukai.
Gotong royong relevan untuk membangun kolaborasi, bukan sekadar kerja kelompok formal yang sering berakhir “menumpang nama”. Sekolah dapat menilai proses kerja, pembagian peran, dan tanggung jawab, bukan hanya hasil akhir.
Memayu hayuning bawana memberi bingkai bahwa kemajuan harus merawat kehidupan bersama dan lingkungan. Ini selaras dengan agenda pendidikan berkelanjutan, dari pengurangan sampah sekolah hingga proyek kecil konservasi di sekitar kampung.
Namun, risiko terbesar dari kebijakan bernuansa budaya adalah jatuh menjadi hafalan seremonial. Respati sudah mengingatkan, “Pendidikan berbasis kearifan Nusantara tidak boleh sekadar menjadi tambahan materi hafalan bagi siswa.”
Jika kearifan hanya menjadi slogan di dinding kelas, anak akan melihatnya sebagai retorika, bukan tuntunan. Kunci keberhasilan justru ada pada desain pembelajaran, pelatihan guru, dan indikator perilaku yang bisa diukur.
Solo punya modal sosial untuk memulai, karena narasi budaya hidup di ruang publik dan tradisi komunitas. Tantangannya adalah menerjemahkan nilai menjadi praktik harian yang konsisten, bahkan ketika sekolah sedang mengejar target numerasi dan sains.
Wacana ini tepat, tetapi harus berani melampaui romantisme “kembali ke tradisi”. Kearifan Nusantara perlu diposisikan sebagai sistem etika modern yang kompatibel dengan AI, bukan sebagai lawan dari teknologi.
Justru AI menuntut fondasi karakter yang lebih kuat karena anak akan berhadapan dengan mesin yang bisa “menjawab apa saja”. Tanpa eling lan waspada, anak mudah percaya, mudah menyebar, dan mudah memanipulasi.
Namun, integrasi nilai tidak boleh berubah menjadi indoktrinasi tunggal yang menutup kritik. Tepa selira harus berjalan bersama kebebasan bertanya, karena empati tanpa nalar sering berubah menjadi kepatuhan semu.
Pemkot dan sekolah juga perlu menghindari jebakan lomba-lomba simbolik yang menguras energi, tetapi minim perubahan perilaku. Yang dibutuhkan adalah rutinitas kecil yang disiplin, seperti refleksi harian, proyek layanan sosial, dan penilaian sikap yang transparan.
Jika Solo serius, ukurannya sederhana: apakah konflik antarsiswa menurun, perundungan turun, dan kolaborasi meningkat. Di era AI, ukuran lain adalah integritas, yaitu apakah anak mampu menyebut sumber, mengakui bantuan AI, dan tetap berpikir mandiri.
Solo sedang mengajukan pertanyaan penting: untuk apa anak menguasai AI jika kehilangan arah moral dan identitas budaya. Nilai eling lan waspada, tepa selira, gotong royong, dan memayu hayuning bawana menawarkan kompas yang tidak ketinggalan zaman.
Yang menentukan bukan seberapa indah nilai itu diucapkan, melainkan seberapa sering ia dipraktikkan saat anak berbeda pendapat, saat kalah, dan saat tergoda jalan pintas. Mungkin di situlah ujian pendidikan sebenarnya, yaitu membentuk manusia yang cakap, sekaligus bijak. (Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)