Ingin Merawat Kenangan, Bacalah Buku "Nirmala" Karya Rapi Pradipta

Cover buku Nirmala.

Cover buku Nirmala.

Review Buku

Oleh Iyek Aghnia

“Alhamdulillah... telah terbit ISBN buku Nirmala.” Demikian pesan WhatsApp dari Rapi Pradipta, penulis buku Nirmala, pada Selasa, 22 September 2026.

Pesan singkat itu menandai lahirnya sebuah karya yang tidak hanya memuat rangkaian cerita, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat kenangan, menyuarakan perasaan, dan merekam pengalaman hidup.

Di tengah teriknya cahaya matahari, Rapi terus membunyikan suara hati melalui narasi, cerita, dan kisah yang dituangkannya ke dalam buku. Semangat itu menjadi bagian dari perjalanan literasi seorang tenaga pendidik yang mengabdi di sebuah sekolah dasar di Pulau Panjang, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan.

Nirmala merupakan buku kumpulan cerpen kedua karya Rapi. Sebelumnya, ia menerbitkan buku Lawa Uma pada 2025, yang dipersembahkan sebagai kado Hari Jadi Kabupaten Bangka Selatan pada tahun yang sama.

Kehadiran karya Rapi menambah panjang jejak para penulis asal Bangka Selatan. Mereka tersebar dari Simpang Rimba hingga Pulau Lepar, dengan latar belakang profesi yang beragam, mulai dari pelajar, tenaga pendidik, hingga birokrat. Fenomena ini menunjukkan tumbuhnya gairah literasi yang menjanjikan bagi perkembangan kebudayaan daerah.

Buku tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperoleh inspirasi. Melalui buku, pembaca diajak memikirkan masa depan, memahami kehidupan, serta menemukan dorongan untuk mencapai tujuan. Cerita inspiratif, panduan pengembangan diri, refleksi filosofis, maupun karya fiksi dapat memberikan pengaruh terhadap cara seseorang memandang dunia.

Buku juga memiliki peran penting dalam mewariskan gagasan kepada generasi mendatang. Memoar, catatan sejarah, dan karya sastra dapat menjadi rekaman pengalaman sekaligus cermin nilai-nilai yang ingin diteruskan kepada generasi berikutnya.

Selain itu, buku menyediakan ruang luas bagi imajinasi. Berbeda dengan media visual yang menghadirkan gambar secara langsung, buku mengajak pembaca membangun gambaran sendiri melalui pikirannya. Proses ini tidak hanya merangsang kreativitas, tetapi juga membantu mengembangkan kemampuan kognitif dan empati.

Dengan membaca karya orang lain, seseorang belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, merasakan pengalaman orang lain, dan memahami kompleksitas kehidupan manusia.

Buku juga merupakan ruang pertemuan antara aktivitas membaca dan menulis. Di dalamnya, aksara dan tanda berkumpul untuk membangun gagasan.

Buku menjadi salah satu manifestasi kebudayaan manusia karena mampu menyimpan pemikiran, pengalaman, dan perasaan, sekaligus membuka ruang diskursus antara penulis dan pembaca.

Karena itu, buku bukan sekadar bacaan atau kumpulan kertas yang disusun menjadi sejumlah halaman. Buku merupakan wahana untuk menuangkan pemikiran, mengabadikan gagasan, dan menumpahkan rasa. Ia menjadi tempat penyimpanan gagasan penulis sekaligus jembatan yang memungkinkan pembaca mengakses dan menghayatinya.

Dalam konteks itulah, Nirmala dapat dibaca bukan hanya sebagai kumpulan cerita, tetapi juga sebagai usaha penulis mengabadikan pengalaman dan kenangan melalui karya sastra.

Sebagaimana ditulis Rapi Pradipta dalam prolog bukunya, Nirmala bukan sekadar kumpulan kisah tentang cinta. Buku ini merupakan perjalanan menuju kenangan. ***