Andika Mahesa Menyesal: Waktu Berkualitas Anak Terkikis Jadwal Manggung

detikHOT

detikHOT

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Andika Mahesa mengaku menyesal karena hubungan orang tua dan anaknya kerap kalah oleh jadwal panggung. Vokalis Kangen Band itu menyebut profesi musisi membuatnya lebih sering di luar rumah, sehingga waktu berkualitas anak menjadi kemewahan.

Di Studio Trans TV, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026), Andika menyampaikan pengakuan yang jarang dibahas gamblang oleh figur publik. Ia menautkan penyesalan itu pada ritme kerja musisi yang “jarang di rumah” dan menuntut mobilitas tinggi.

Kerinduan muncul saat ia mengingat momen tumbuh kembang putri-putrinya, Kirana dan Anjani, yang terlewat. Ia mengaku mudah menangis ketika bercerita tentang anak, karena ada tahun-tahun yang terasa hilang.

Andika juga menegaskan persoalan itu bukan sekadar soal rindu, melainkan pembagian perhatian yang rumit. Ia menyebut anaknya lebih dari satu, sehingga ia harus membagi waktu dan energi di tengah tuntutan pekerjaan.

Pengakuan Andika memotret dilema klasik pekerja kreatif: pendapatan dan eksistensi sering bertumpu pada jam kerja yang tidak ramah keluarga. Ketika manggung tiga sampai empat kali seminggu, kualitas hadir di rumah berubah menjadi sisa tenaga, bukan prioritas yang utuh.

Industri musik hidup dari “panggung” dan momentum, bukan dari jam kantor yang stabil. Musisi sering mengejar kota ke kota, sementara rumah menjadi titik singgah yang lebih mirip transit daripada ruang pengasuhan.

Dalam psikologi keluarga, keterlibatan orang tua yang konsisten berkaitan dengan rasa aman anak dan kualitas relasi jangka panjang. UNICEF menekankan pengasuhan responsif dan kehadiran orang dewasa yang stabil sebagai fondasi perkembangan anak, terutama pada tahun-tahun awal.

Di sisi lain, narasi “kerja demi keluarga” kerap dipakai untuk membenarkan absennya orang tua. Pernyataan Andika justru menabrak pembenaran itu, karena ia mengakui ada bagian yang tak bisa ditebus oleh materi atau popularitas.

Fenomena ini tidak unik pada musisi, tetapi lebih ekstrem karena jam kerja yang berulang di malam hari dan akhir pekan. Saat banyak keluarga bertemu di waktu-waktu tersebut, musisi justru berada di luar rumah, sehingga ritme keluarga mudah timpang.

Tekanan juga datang dari ekspektasi publik dan ekosistem industri yang menuntut “always available.” Dalam kondisi seperti itu, batas antara kerja dan rumah kabur, dan keputusan untuk menolak panggung sering berarti kehilangan peluang.

Karena itu, penyesalan Andika dapat dibaca sebagai alarm sosial tentang biaya tersembunyi dari pekerjaan fleksibel. Fleksibel bagi industri, tetapi kerap kaku bagi keluarga yang membutuhkan kepastian.

Kejujuran Andika penting karena memindahkan isu dari ranah gosip ke ranah etika kerja dan pengasuhan. Ia tidak sedang mencari simpati, melainkan mengakui bahwa relasi orang tua dan anak bisa retak pelan-pelan oleh jadwal yang dianggap normal.

Namun, penyesalan tidak cukup bila berhenti sebagai narasi personal. Industri hiburan perlu mulai membicarakan standar kerja yang lebih manusiawi, termasuk jeda tur, manajemen jadwal, dan ruang pemulihan yang melibatkan keluarga.

Di level individu, pengakuan ini menantang orang tua bekerja untuk mengukur ulang definisi “hadir.” Anak sering tidak menuntut hadiah besar, tetapi menuntut keterjangkauan emosi yang konsisten dan dapat diprediksi.

Secara lebih tajam, kisah ini memaksa publik bertanya siapa yang diuntungkan dari romantisasi kerja tanpa henti. Jika keberhasilan selalu diukur dari seberapa sering tampil, maka keluarga menjadi pihak yang diam-diam membayar selisihnya.

Andika Mahesa mengingatkan bahwa waktu berkualitas anak bukan agenda sampingan, melainkan kebutuhan yang membentuk ingatan seumur hidup. Popularitas bisa datang dan pergi, tetapi momen tumbuh kembang anak hanya lewat sekali.

Pengakuan ini seharusnya menjadi cermin bagi banyak keluarga pekerja, bukan hanya musisi. Berapa banyak “tiga sampai empat kali seminggu” versi kita sendiri yang diam-diam menggerus rumah?

Pada akhirnya, pertanyaan paling sulit bukan “berapa banyak panggung yang diambil,” melainkan “berapa banyak momen yang tak kembali.” Jika penyesalan sudah terasa hari ini, keputusan apa yang bisa diubah sebelum esok menjadi terlalu terlambat? (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)