Kebakaran Hutan Kalimantan Tengah Ancam Orangutan dan Satwa Liar
ORBITINDONESIA.COM – Kebakaran hutan Kalimantan Tengah kembali menebar asap dan api, dan kali ini orangutan berada di garis paling rapuh. Di tepi kantong habitat yang tersisa, satwa liar lain ikut terjepit karena jalur pakan dan koridor pergerakan terputus.
Di banyak titik, api tidak sekadar membakar semak, tetapi menghabiskan lahan gambut yang menyimpan bara berhari-hari. Ketika kebakaran lahan gambut meluas, penyelamatan orangutan berubah dari evakuasi sesaat menjadi krisis habitat yang panjang.
Kalimantan Tengah memiliki bentang gambut luas yang mudah terbakar saat kemarau panjang dan drainase mengeringkan tanah. Sekali menyala, gambut bisa terbakar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan, sehingga kebakaran hutan berulang dari tahun ke tahun.
Dalam pola yang sama, pembukaan lahan dan fragmentasi hutan membuat satwa kehilangan ruang aman untuk menghindari api. Orangutan yang bergerak lambat di kanopi menjadi sangat rentan ketika pohon pakan dan sarang mereka runtuh atau hangus.
Data KLHK menunjukkan kebakaran besar pernah memuncak pada 2015 dengan sekitar 2,6 juta hektare area terbakar secara nasional, dan gambut menjadi episentrum. Pada 2019, KLHK juga mencatat sekitar 1,6 juta hektare terbakar, menegaskan bahwa siklus risiko belum putus.
Di Kalimantan, orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) berstatus Kritis menurut IUCN. Ketika kebakaran hutan Kalimantan Tengah terjadi di lanskap yang sudah terfragmentasi, ancamannya berlipat karena populasi menjadi terisolasi.
Api mengubah hutan menjadi mozaik lahan terbuka, dan itu mengganggu rantai makanan satwa liar. Orangutan kehilangan buah musiman, lalu terpaksa turun ke tanah atau mendekati kebun, sehingga konflik manusia-satwa meningkat.
Konsekuensi berikutnya adalah stres fisiologis dan penurunan keberhasilan reproduksi. Orangutan bereproduksi lambat, dengan jarak kelahiran bisa 6 sampai 8 tahun, sehingga kehilangan beberapa individu saja berdampak besar pada pemulihan populasi.
Asap kebakaran juga menciptakan krisis yang tak terlihat di tajuk pohon. Partikel halus memperburuk kesehatan satwa dan manusia, dan mengurangi jarak pandang yang menyulitkan patroli serta pemadaman dini.
Yang sering luput adalah efek domino pada satwa lain seperti owa, beruang madu, dan burung rangkong. Mereka bergantung pada pohon besar untuk bersarang, dan kebakaran yang menghanguskan tegakan tua menghapus “rumah” yang butuh puluhan tahun untuk kembali.
Secara ekonomi, kebakaran hutan Kalimantan Tengah sering diperlakukan sebagai biaya musiman, bukan kegagalan tata kelola. Padahal kerugian kebakaran 2015 pernah dihitung Bank Dunia sekitar US$16 miliar untuk Indonesia, menunjukkan bahwa pencegahan jauh lebih murah daripada pemulihan.
Dalam banyak kasus, titik api muncul berulang di lanskap yang sama, menandakan masalah struktural. Ketika kanal mengeringkan gambut dan penegakan hukum lemah, api menjadi alat murah membersihkan lahan, sementara dampaknya ditanggung publik dan satwa.
Kita terlalu sering membingkai kebakaran hutan sebagai bencana alam, padahal banyak pemicunya adalah keputusan manusia. Kebakaran lahan gambut adalah produk dari tata air yang rusak, izin yang longgar, dan pengawasan yang tertinggal.
Orangutan kerap dijadikan ikon kampanye, tetapi habitatnya tetap dipotong-potong oleh kepentingan jangka pendek. Jika koridor tidak dilindungi, penyelamatan individu hanya memindahkan masalah, bukan menghentikan kepunahan yang pelan.
Sudut pandang yang lebih jujur adalah mengakui bahwa krisis ini adalah krisis tata ruang dan akuntabilitas. Ketika lanskap dibangun tanpa menghitung daya dukung ekologis, api akan selalu menemukan jalannya.
Solusi teknis sudah dikenal, mulai dari restorasi gambut, pembasahan kembali, hingga patroli terpadu berbasis desa. Yang sering hilang adalah konsistensi, karena pencegahan tidak memberi sensasi dramatis seperti pemadaman saat api sudah membesar.
Kebakaran hutan Kalimantan Tengah bukan sekadar berita asap, melainkan peringatan tentang rapuhnya sisa hutan yang menopang orangutan dan satwa liar lainnya. Jika habitat terus menyusut, kita akan menyaksikan lebih banyak evakuasi, lebih banyak konflik, dan lebih sedikit hutan yang bisa pulih.
Pertanyaannya sederhana tetapi tidak nyaman, apakah kita ingin dikenal sebagai generasi yang memadamkan api, atau generasi yang mencegahnya sejak awal. Di antara bara gambut dan sunyinya kanopi yang terbakar, pilihan itu seharusnya terdengar semakin jelas. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)