Ibrahimovic Kritik VAR Portugal vs Kroasia: Offside Palsu, Ronaldo Disorot
ORBITINDONESIA.COM – Kontroversi VAR Portugal vs Kroasia di Piala Dunia kembali memanaskan debat, setelah gol penyama 2-2 Kroasia dianulir pada menit akhir. Zlatan Ibrahimovic menyebut keputusan itu “pencurian” dan menuding ada dorongan agar Portugal dan Cristiano Ronaldo melaju ke babak 16 besar.
Pertandingan Portugal-Kroasia di Toronto berubah dari duel taktik menjadi sidang teknologi, ketika gol Josko Gvardiol yang semestinya membuat skor 2-2 dibatalkan. Alasan resmi mengarah pada offside Matanovic, dengan rujukan sinyal chip di dalam bola yang diterima wasit Norwegia, Eskas.
Ibrahimovic menolak logika keputusan itu dengan argumen sederhana dan tajam: sentuhan terakhir dinilai berasal dari Renato Veiga, bukan dari pemain Kroasia yang dituding offside. Ia menekankan bahwa untuk membatalkan gol menit ke-90, standar “jelas dan meyakinkan” seharusnya mutlak, bukan sekadar “indikasi”.
Kontroversi ini menyorot dua lapis masalah: interpretasi offside dan legitimasi perangkat semi-otomatis. Dalam offside modern, detail kunci bukan hanya posisi, tetapi juga siapa yang terakhir memainkan bola, dan apakah terjadi “deliberate play” dari pemain bertahan.
Jika benar Veiga menyentuh bola secara sengaja, maka fase serangan bisa dianggap “reset” sehingga offside tidak relevan. Namun jika sentuhan itu dinilai defleksi tidak disengaja, maka offside tetap dihitung dari umpan sebelumnya, dan chip hanya membantu mengunci momen sentuhan, bukan menilai kesengajaan.
Masalahnya, publik tidak diberi transparansi memadai untuk memahami kategori sentuhan tersebut. Tanpa rekaman audio VAR, garis offside yang jelas, atau penjelasan stadion yang rinci, keputusan sebesar ini terasa seperti vonis tanpa berkas perkara.
Ibrahimovic menambah bahan bakar dengan menyebut “sensor tidak berfungsi atau ada yang salah”, meski ia tidak membawa bukti teknis. Tetapi kecurigaan seperti ini tumbuh subur justru karena ruang informasi dibiarkan kosong, dan kekosongan selalu diisi narasi.
Di sisi permainan, Ibrahimovic mengakui Portugal tampil lebih unggul dan pergantian Roberto Martínez efektif. Ia menyorot Rafael Leão sebagai pembeda, terutama melalui umpan yang berujung gol Gonçalo Ramos, sementara Pedro Neto dan Bruno Fernandes dinilai di bawah ekspektasi.
Yang paling tajam bukan hanya kritik VAR, melainkan kritik Ibrahimovic pada pusat gravitasi Portugal: Cristiano Ronaldo. Ia menyebut menempatkan penyerang 41 tahun sebagai ujung tombak pada 2026 sebagai “kegilaan” dan “ego yang menyandera tim”, terutama ketika ada Ramos yang masuk dan langsung mencetak gol.
Pernyataan itu memang provokatif, tetapi menyentuh dilema klasik sepak bola: kapan legenda harus menjadi simbol, dan kapan ia harus menjadi opsi taktis. Dalam turnamen besar, keputusan pelatih sering bukan sekadar soal performa, melainkan manajemen hierarki, sponsor, dan psikologi ruang ganti.
Di titik ini, VAR dan Ronaldo bertemu dalam satu isu: siapa yang memegang kendali atas hasil pertandingan. Ketika teknologi memotong euforia gol dan bintang besar tetap menjadi pusat narasi, sepak bola tampak semakin jauh dari rasa “adil yang bisa dipahami” oleh penonton biasa.
Kontroversi VAR Portugal vs Kroasia akan berlalu, tetapi bekasnya menetap sebagai pelajaran tentang transparansi dan akuntabilitas. Jika keputusan menentukan nasib harus diambil oleh kamera, chip, dan ruang VAR, maka penjelasan kepada publik harus setara tegasnya dengan keputusan itu.
Dan jika sebuah tim terus bertumpu pada aura, bukan lagi pada fungsi, maka pertanyaannya bukan sekadar tentang Ronaldo, melainkan tentang keberanian Portugal memilih masa depan. Pada akhirnya, sepak bola hidup dari kepercayaan, dan kepercayaan hanya bertahan jika keadilan tidak sekadar ada, tetapi juga terlihat. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)