Antartika Membeku: CO2 Turun atau Mantel Bumi Mengangkat Daratan?
ORBITINDONESIA.COM – Antartika membeku 34 juta tahun lalu, dan selama ini publik mengenalnya sebagai akibat turunnya CO2 di atmosfer. Studi baru di jurnal Science menyorot faktor lain yang sama menentukan, yakni pergerakan lempeng benua dan gelombang mantel Bumi yang mengangkat Antartika Timur.
Selama puluhan tahun, penjelasan dominan menyebut penurunan CO2 sebagai pemicu utama transisi Bumi ke kondisi lebih dingin. Narasi ini masuk akal karena CO2 adalah gas rumah kaca kunci yang mengatur neraca energi planet.
Namun ada ganjalan besar dalam kronologi iklim purba. Antartika membeku lebih dulu ketika suhu global diperkirakan masih sekitar 5°C lebih hangat dari sekarang, sementara Arktik baru menyusul puluhan juta tahun kemudian.
Ketimpangan waktu ini membuat para ilmuwan bertanya apakah atmosfer saja cukup menjelaskan segalanya. Jika CO2 adalah tombol utama, mengapa respons kutub utara tidak secepat kutub selatan.
Penelitian yang dipublikasikan di Science mengajukan mekanisme geologi sebagai pengungkit yang terlupakan. Gelombang di mantel Bumi disebut mengangkat daratan Antartika Timur hingga membentuk pegunungan dan dataran tinggi.
Ketinggian adalah variabel iklim yang brutal dan sering diremehkan. Semakin tinggi permukaan, semakin mudah suhu turun, dan semakin besar peluang salju bertahan sepanjang tahun.
Dari titik itu, prosesnya bisa menjadi lingkaran penguat. Salju yang menetap meningkatkan albedo, memantulkan lebih banyak cahaya matahari, lalu mendinginkan permukaan lebih jauh.
Dalam kerangka ini, CO2 tidak dihapus dari cerita, tetapi ditempatkan sebagai latar yang memungkinkan. Geologi menyediakan panggung topografi, sementara atmosfer menentukan seberapa cepat es bisa tumbuh dan bertahan.
Penjelasan ini juga membantu memahami mengapa Antartika “menang start” dibanding Arktik. Kutub selatan memiliki benua besar yang bisa terangkat dan menahan es, sedangkan kutub utara didominasi samudra yang lebih sulit membangun lapisan es permanen.
Perbedaan itu bukan sekadar detail peta, tetapi mesin fisika yang berbeda. Es di daratan lebih mudah menumpuk, sedangkan es laut rentan pecah, hanyut, dan mencair saat arus serta musim berubah.
Implikasinya melampaui sejarah purba. Jika dinamika mantel dan tektonik dapat mengubah ambang pembekuan, maka “iklim” bukan hanya urusan langit, tetapi juga hasil kerja lambat dari perut Bumi.
Temuan ini terasa seperti koreksi cara kita bercerita tentang krisis iklim, meski konteks waktunya berbeda jauh. Kita cenderung menyukai satu penyebab tunggal, padahal sistem Bumi bekerja sebagai jaringan sebab-akibat.
Ada risiko publik salah menangkap pesan ini sebagai penghiburan bahwa CO2 tidak penting. Itu keliru, karena penelitian ini membahas pemicu pembekuan jutaan tahun lalu, bukan menafikan peran CO2 dalam pemanasan cepat akibat emisi modern.
Justru pelajarannya lebih tajam dan tidak nyaman. Jika perubahan topografi dapat menggeser iklim secara drastis, maka sensitivitas sistem Bumi lebih kompleks daripada yang sering disederhanakan dalam debat harian.
Di sisi lain, kompleksitas bukan alasan untuk kebingungan permanen. Ia adalah alasan untuk memperkaya model iklim dengan geologi, dan memperkaya kebijakan dengan kesadaran bahwa planet punya “tombol” lebih dari satu.
Ketika publik hanya mendengar CO2 sebagai satu-satunya kunci, diskusi mudah jatuh menjadi pro-kontra yang dangkal. Padahal, memahami peran mantel Bumi membuat kita melihat bahwa perubahan dapat datang dari banyak arah, dan beberapa di antaranya bekerja tanpa menunggu persetujuan manusia.
Antartika membeku bukan hanya karena atmosfer mendingin, tetapi juga karena daratan terangkat hingga salju bisa bertahan dan menumpuk. Dalam cerita baru ini, CO2 tetap penting, tetapi geologi memberi konteks yang membuat misteri “mengapa Antartika duluan” lebih masuk akal.
Kita hidup di planet yang menggabungkan napas langit dan denyut perut Bumi dalam satu sistem. Pertanyaannya kini bukan sekadar apa yang terjadi 34 juta tahun lalu, melainkan seberapa siap kita membaca sinyal-sinyal kompleks itu sebelum perubahan berikutnya menjadi terlambat untuk ditafsirkan. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)