Kota Kinabalu Rindu Yang Tidak Pamit
Fatin Hamama R. Syam
Di pantai Kota Kinabalu,
riak ombaknya adalah cahaya.
Berkilau menjadi permata di wajah Sumandak remaja,
yang berdiri menantang angin,
sambil menatap cakrawala yang meleleh jingga.
Dia memetik warna senja
dengan jemari yang sabar dan penuh cinta,
kemudian menyematkannya
di sanggul, dalam gulungan seribu cerita.
Cerita tentang nenek yang menenun,
tentang ayah yang melaut,
tentang rumah kayu yang selalu harum kayu basah.
Ada duka yang lara,
disimpan di balik senyum dan tawa pelaut dan peneruka muda
Ada cinta bahagia,
yang tumbuh di bangku sekolah, di bawah hujan.
Ada juga yang tidak memiliki keduanya,
hanya berjalan, hanya berharap,
menunggu ombak
menghantar mutiara dan memberinya nama.
Tapi puisi seperti bendera,
berkibar dari hulu sampai muara.
Dari Kundasang yang berkabut, Ranau yang berbayu,
sampai ke pelabuhan yang panas dan bising kapal.
Ia tidak pernah diam, menjadi persembahan di setiap festival.
Ia menyapa setiap hati yang datang, singgah, dan enggan pulang.
Bahasanya adalah gerak tari,
Sumazau yang memutar rindu.
Narasinya adalah musik,
dari pasar malam yang riuh seribu tawa,
hingga gedung opera yang menampung doa.
Bait-baitnya adalah kuliner di tengah kota:
Udang Butter yang lezat di lidah,
Nasi Lemak beralas daun pisang,
Ambuyat yang kita cicit bersama,
dan Ikan Panggang yang asapnya naik ke udara.
Sedang rimanya,
alunan azan di subuh yang khusyuk,
lonceng gereja yang berdentang,
bihara yang hening di ujung jalan,
dan mantra-mantra di kala panen tiba,
ketika padi menunduk memberi restu.
Semilir angin di ladang sawit
berbisik sepanjang parit dan bukit.
Ia membawa nama-nama yang disebut pelan,
dalam bisik yang khidmat.
Ia membawa pulang rindu
yang tak pernah pamit, selalu menetap.
Dan di ujung hari,
ketika langit berubah ungu,
ada simfoni dari subuh yang khusyuk,
pada tangan-tangan yang tengadah menuju langit.
Memohon agar Kinabalu tetap sejuk,
agar lautnya tetap bening seperti kaca,
agar setiap Sumandak tetap berkilau,
seperti ombak yang tak pernah lelah menjadi cahaya.
Kinabalu, doa itu.
Dukuh, 16.07.2026