Indonesia Sudah Antisipasi Potensi Balasan dari Singapura Terkait Pasokan Energi
ORBITINDONESIA.COM - Tahukah? Indonesia ternyata sudah memikirkan antisipasi serta potensi balasan dari Singapura menyusul langkah "hukuman" yang dijatuhkan terhadap negara berjuluk The Red Dot tersebut.
Antisipasi ini mencakup stabilitas pasokan yang berasal dari Rusia hingga Nigeria, yang dibarengi dengan pembangunan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan untuk mengolah minyak mentah menjadi produk BBM.
Meski tetap enggan menyebut nama negara, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menanggapi santai pertanyaan awak media mengenai potensi penurunan pendapatan dari ekspor gas.
"Pemerintah dalam membuat keputusan sudah memikirkan semuanya," kata Bahlil dalam saluran YouTube Okezone yang diunggah pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Bahkan saat disinggung jika negara yang dimaksud melakukan hal yang sama Bahlil tidak memusingkannya. "Ya terserah merekalah, emang gue pikirin."
Sikap tersebut didasari oleh jaminan ketahanan pasokan energi yang telah disiapkan sejak jauh hari. Dalam keterangannya di Istana Merdeka (17 September 2026), Bahlil kembali memastikan bahwa ketersediaan minyak mentah nasional berada pada posisi aman, termasuk pasokan hasil kerja sama pemerintah dengan Rusia.
Indonesia sendiri dilaporkan telah mulai menerima pengiriman tahap pertama dari total kesepakatan impor 150 juta barel minyak Rusia sejak Juni lalu.
Kendati demikian, pemerintah belum dapat membeberkan secara rinci mengenai jadwal realisasi impor minyak mentah dari Rusia untuk tahap kedua. Hal ini diduga karena sensitivitas geopolitik minyak Rusia yang diperhitungkan pemerintah. "Nanti yang teknis lainnya dari Rusia saya akan menjelaskan pada waktu yang tepat," kata Bahlil.
Kementerian ESDM bahkan mengumumkan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026 (26/2026) pada Jumat, 23 Oktober 2026, untuk melancarkan proses impor minyak mentah (crude) dari berbagai negara, khususnya Rusia.
​Strategi diversifikasi sumber energi Indonesia tidak hanya bergantung pada Rusia. Indonesia sejak pertengahan tahun ini telah membuka jalur impor baru dari sejumlah negara seperti Angola, Nigeria, dan Brasil.
Berdasarkan data BPS, Nigeria menyumbang 24,91% dari total impor minyak mentah Indonesia pada Januari-Juni 2026. Posisi berikutnya ditempati Angola dengan pangsa 15,41% dan Arab Saudi sebesar 13,62%.
Secara keseluruhan, nilai impor minyak mentah Indonesia mencapai US$16,16 miliar pada semester I-2026. Sementara itu, impor hasil minyak tercatat sebesar US$5,85 miliar.
Minyak mentah yang diperoleh kemudian akan diproses di kilang-kilang dalam negeri, salah satunya RDMP Balikpapan yang dirancang meningkatkan kapasitas pengolahan dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari (bph).
Meski telah diresmikan oleh Presiden pada Januari lalu, namun proyek ini masih dalam tahap penyelesaian kendala teknis akhir menuju pengoperasian penuh dengan progres mencapai 99%.
Pengolahan domestik ini dipandang sangat krusial untuk menutupi celah produksi minyak bumi nasional yang per 8 September 2026 baru mencapai 571.731 bph dari target APBN sebesar 610.000 bph.
(Sumber: Cipta Indah) ***