Enam Bulan Pascakomitmen, Yayasan Buddha Tzu Chi Rampungkan Ratusan Hunian Tetap bagi Penyintas Banjir

sumber:Yayasan Buddha Tzu Chi

sumber:Yayasan Buddha Tzu Chi

Program Berdampak

Bagi keluarga yang kehilangan rumah akibat banjir dan longsor, memiliki tempat tinggal yang layak bukan sekadar soal bangunan. Di dalamnya tersimpan rasa aman, harapan, dan kesempatan untuk memulai kembali kehidupan yang sempat porak-poranda. Itulah yang kini mulai dirasakan oleh ratusan penyintas bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Enam bulan lalu, tepatnya pada 19 Desember 2025, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyampaikan komitmennya untuk membangun 2.500 hunian tetap bagi masyarakat yang terdampak banjir besar di Pulau Sumatera. Komitmen tersebut lahir dari kebutuhan nyata para penyintas yang tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga tempat tinggal yang aman untuk melanjutkan kehidupan.

Kini, komitmen itu mulai menunjukkan hasil. Ratusan hunian tetap telah selesai dibangun dan secara bertahap diserahkan kepada masyarakat. Rumah-rumah tersebut menjadi awal baru bagi keluarga yang selama berbulan-bulan harus bertahan di pengungsian atau tinggal di tempat yang serba terbatas.

Proses pembangunan dilakukan melalui kolaborasi antara Yayasan Buddha Tzu Chi, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah. Selain membangun rumah, berbagai tahapan pemulihan juga dijalankan, mulai dari penyediaan lahan yang aman hingga pembangunan infrastruktur pendukung agar kawasan hunian benar-benar layak ditempati.

Dampaknya mulai dirasakan di berbagai daerah. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sebanyak 71 keluarga telah menempati hunian tetap yang dibangun di lokasi yang lebih aman dari potensi bencana. Sementara di Aceh, pembangunan terus berlangsung dengan target 1.000 unit rumah yang tersebar di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Ratusan unit di antaranya telah selesai dan mulai dihuni oleh masyarakat.

Menariknya, program ini tidak hanya menghadirkan rumah sebagai tempat tinggal baru. Yayasan Buddha Tzu Chi juga melibatkan masyarakat melalui program Cash for Work, yaitu memberikan kesempatan kepada para penyintas untuk ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan. Skema ini membantu warga memperoleh penghasilan sekaligus membangun kembali rasa percaya diri setelah terdampak bencana.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sesaat. Pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan ruang bagi masyarakat untuk kembali mandiri, bekerja, dan menata masa depannya.

Kehadiran hunian tetap menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan tersebut. Di balik dinding yang berdiri kokoh, tersimpan kisah keluarga-keluarga yang kembali memiliki tempat untuk berkumpul, anak-anak yang dapat tumbuh dengan rasa aman, serta orang tua yang tidak lagi dihantui kekhawatiran kehilangan tempat berlindung ketika musim hujan datang.

Program yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi ini menjadi contoh bahwa kepedulian yang diwujudkan melalui aksi nyata mampu menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Enam bulan setelah komitmen itu disampaikan, rumah-rumah yang kini berdiri bukan hanya menjadi simbol keberhasilan pembangunan, tetapi juga menjadi bukti bahwa harapan dapat dibangun kembali, satu rumah, satu keluarga, dan satu kehidupan pada satu waktu.