Melihat Prospek KF-21 Boramae di Asia Tenggara

Jet tempur KF-21 Boramae.

Jet tempur KF-21 Boramae.

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM - Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand menjadi empat negara Asia Tenggara yang dikaitkan dengan perkembangan serta potensi pengadaan jet tempur KF-21 Boramae buatan Korea Selatan.

Di tengah berbagai penjajakan dan rencana modernisasi armada udara, perkembangan pengadaan KF-21 di kawasan ini mulai menjadi perhatian. Indonesia bahkan berpeluang menjadi negara kedua di dunia yang mengoperasikan pesawat tempur tersebut setelah Korea Selatan.

Faktanya, setiap negara memiliki hubungan dan tahapan berbeda dalam program pesawat tempur generasi 4.5 ini.

Indonesia

Sejak 2010, Indonesia menjadi mitra pengembangan bersama melalui program KF-X/IF-X dengan komitmen kontribusi awal sebesar 20%. Setelah melalui restrukturisasi kerja sama, skema tersebut berubah menuju pembelian langsung.

Salah satu perkembangan penting adalah kesepakatan transfer satu unit prototipe kelima KF-21 kepada Indonesia, dengan nilai paket yang dikaitkan dengan 600 miliar won. Mekanisme penyerahan pesawat dan dokumen teknologi masih menjadi bagian dari proses penyelesaian kedua negara.

Selain itu, Indonesia dan Korea Selatan tengah mendorong penyelesaian kontrak pengadaan 16 unit KF-21. Pesawat yang direncanakan merupakan varian Block II, dengan pengiriman tiga unit pertama diproyeksikan pada akhir 2028 atau awal 2029.

PT Dirgantara Indonesia juga memperoleh peran industri melalui kerja sama produksi sekitar 15% bagian airframe KF-21. Jika pengadaan 16 unit terealisasi, Indonesia berpeluang menjadi operator kedua KF-21 di dunia sekaligus konsumen ekspor pertama pesawat produksi massal tersebut.

Filipina

Manila disebut sebagai salah satu target ekspor utama KAI. Program Multi-Role Fighter (MRF) Filipina dikaitkan dengan potensi pengadaan hingga 40 unit KF-21. Hubungan industri melalui penggunaan FA-50 serta kemungkinan skema pembiayaan dari Korea Selatan turut menjadi bagian dari pembahasan potensi pengadaan tersebut.

Malaysia

KF-21 Boramae turut masuk dalam proyeksi evaluasi teknis jangka panjang program Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) Malaysia. Negara ini membutuhkan armada baru untuk menggantikan sejumlah jet tempur yang semakin tua, sekaligus mempertimbangkan alternatif pengadaan di luar produsen Rusia.

Hubungan industri pertahanan dengan KAI melalui pemesanan 18 unit FA-50M juga menjadi salah satu faktor pendukung. Dalam sejumlah proyeksi, kebutuhan potensial Malaysia bahkan disebut dapat mencapai 30 unit KF-21 pada masa mendatang. Namun, angka tersebut masih berupa potensi pengadaan, bukan kontrak resmi.

Thailand

Thailand juga disebut masuk dalam radar pemasaran jangka panjang KF-21. Sebagai pengguna T-50TH buatan Korea Selatan, Thailand memiliki hubungan industri yang dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam rencana modernisasi armada udara di masa mendatang.

Dari kemitraan pengembangan hingga peluang ekspor, KF-21 memperlihatkan perkembangan industri penerbangan militer Korea Selatan di pasar Asia Tenggara. Setiap negara memiliki kebutuhan, prioritas anggaran, dan pertimbangan teknologi yang berbeda.

Sementara Korea Selatan telah menerima pesawat produksi massal pertamanya pada 22 September 2026, Indonesia kini memiliki peluang untuk mengikuti sebagai operator berikutnya apabila proses kontrak dan pengadaan berjalan sesuai rencana. Perkembangan ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan KF-21 di kawasan Asia Tenggara.

(Sumber: Forum Military Indonesia & Malaysia/Desi Hasanuddin) ***