Lagu Rap AI China Viral: The OGs, Hak Cipta, dan Demokratisasi Kreator
ORBITINDONESIA.COM – Lagu rap AI China berjudul The OGs menembus 100 juta penayangan dalam kurang dari dua pekan, menurut South China Morning Post (26/10/2026). Viralitas ini mengubah perdebatan lama tentang musik buatan AI, dari sekadar pamer teknologi menjadi pertanyaan tentang empati, kerja kreatif, dan hak cipta.
The OGs tidak menjual fantasi masa depan, melainkan memotret kecemasan hari ini. Liriknya menyentuh mahalnya hunian, tekanan kerja, diskriminasi usia, hingga bayang-bayang PHK.
Di balik lagu itu ada Wang Kunzhe, kreator yang tidak menyerahkan kemudi sepenuhnya pada mesin. Ia menentukan konsep, genre, struktur, tempo, dan rancangan awal lirik, lalu memakai AI untuk mengeksplorasi aransemen serta opsi produksi.
Di sinilah isu besar muncul, karena publik melihat dua hal sekaligus. Pertama, AI memangkas biaya dan waktu, tetapi kedua, AI juga menggoyang definisi “pencipta” dalam industri kreatif.
South China Morning Post mencatat lagu tersebut dibuat hanya dalam tiga sampai empat hari. Biayanya beberapa ribu yuan, terutama untuk langganan perangkat AI dan komputasi.
Angka itu menampar logika lama industri, bahwa studio mahal, kru besar, dan bintang terkenal adalah syarat mutlak sukses. Kini, sebuah karya bisa lahir cepat, murah, dan tetap menembus pasar jika punya gagasan yang mengena.
Namun percepatan produksi juga membawa risiko banjir konten. Wang sendiri mengingatkan, AI dapat memproduksi konten secara massal, tetapi tidak dapat memproduksi resonansi dan empati secara massal.
Karena itu konsep human-in-the-loop menjadi kunci, bukan sekadar jargon. AI bekerja sebagai instrumen, sementara manusia memegang penilaian, selera, dan kepekaan emosional yang menentukan kualitas akhir.
Di titik ini, viralitas The OGs bisa dibaca sebagai kemenangan metode, bukan kemenangan mesin. AI membantu mempercepat eksperimen, tetapi “rasa” tetap datang dari keputusan kreatif manusia yang memilih mana yang relevan dan mana yang kosong.
Pelajaran lain yang lebih keras adalah soal daya tawar pekerja kreatif. Jika produksi musik bisa dipangkas dari bulan menjadi hari, maka negosiasi honor, peran, dan kredit karya akan ikut berubah.
Industri yang lamban beradaptasi akan kalah bukan karena AI lebih “pintar”, tetapi karena ekosistemnya tidak siap. Mereka yang siap akan memanfaatkan AI untuk prototipe cepat, lalu mengunci diferensiasi pada narasi, karakter, dan kedalaman tema.
Viralnya lagu rap AI China ini menegaskan bahwa teknologi hanya kuat ketika menempel pada realitas sosial. The OGs tidak meledak karena suaranya mirip manusia, tetapi karena ia berbicara tentang manusia yang terjepit sistem.
Di sisi lain, euforia “demokratisasi kreator” perlu dibaca dengan kacamata kritis. Ketika semua orang bisa membuat lagu dalam hitungan hari, tantangannya bergeser dari “bisa produksi” menjadi “bisa dipercaya dan diingat”.
Isu hak cipta membuat perdebatan ini makin tajam. Morgan Lewis dalam publikasi “US Supreme Court Declines To Consider Whether AI Alone Can Create Copyrighted Works” (6/3/2026) mengulas penolakan Mahkamah Agung AS meninjau Thaler v. Perlmutter (2/3/2026).
Intinya tegas, karya yang dibuat sepenuhnya secara otonom oleh AI tidak memenuhi syarat “human authorship” dalam praktik hukum AS. Putusan itu menguatkan garis konservatif, bahwa UU Hak Cipta AS melindungi karya ciptaan manusia.
Celakanya, dunia kreatif bergerak lebih cepat daripada hukum. Maka wilayah abu-abu muncul, yaitu seberapa “minimal” keterlibatan manusia agar sebuah karya tetap bisa diklaim sebagai karya manusia.
Praktik terbaiknya menjadi sangat teknis, tetapi menentukan masa depan ekonomi kreatif. Kreator perlu mendokumentasikan kontribusi manusia, dari pengarahan, prompting, hingga penyuntingan, serta memastikan kredit pencipta jelas.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar isu luar negeri. Pemerintah dan DPR RI yang membahas UU Hak Cipta baru perlu melihat bahwa AI akan memaksa definisi kepengarangan, pembuktian proses kreatif, dan mekanisme sengketa menjadi lebih presisi.
Lagu rap AI China yang viral menunjukkan paradoks yang sulit dihindari. AI bisa memangkas biaya dan waktu, tetapi tidak bisa menggantikan alasan mengapa sebuah karya perlu ada.
Jika industri kreatif hanya mengejar efisiensi, kita akan mendapat banyak lagu, tetapi sedikit yang tinggal di kepala dan hati. Namun jika AI diperlakukan sebagai alat, manusia bisa menghemat energi teknis untuk fokus pada gagasan yang lebih berani.
Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah AI bisa membuat musik”, melainkan “siapa yang bertanggung jawab atas makna, dampak, dan haknya”. Dan pada akhirnya, mungkin publik akan selalu memilih karya yang paling jujur, bukan yang paling canggih. (Orbit dari berbagai sumber, 4 November 2026)