Review Kembang Jepun Remy Sylado: Geisha, Sejarah Surabaya, dan Luka Kolonial

Kompasiana.com

Kompasiana.com

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Review Kembang Jepun karya Remy Sylado menempatkan Surabaya awal abad 20 sebagai panggung luka kolonial, kekerasan seksual, dan nasionalisme. Novel ini mengikuti Keke alias Keiko, geisha di Shinju, yang cintanya pada jurnalis Tjak Broto dipaksa berhadapan dengan sejarah Indonesia.

Keke berasal dari Minahasa dan dijual saat berusia 9 tahun kepada Kotaro Takamura, pendiri rumah hiburan Shinju di Surabaya. Ia tumbuh sebagai geisha yang menyanyi, bermain musik, memijat, sekaligus “memberikan tubuhnya” bagi pelanggan laki-laki.

Di sisi lain, Tjak Broto bekerja sebagai jurnalis harian Tjahaja Soerabaja dan terlibat garis api politik. Pemberitaannya membuat ia ditangkap, dipenjara, dan medianya dibredel oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pernikahan Tjak Broto dan Keke berlangsung tanpa restu ibu, lalu bergerak dalam ritme hidup yang keras. Kisah mereka menyeberangi pendudukan Jepang, agresi militer Belanda di Surabaya, Permesta di Minahasa, hingga bayang-bayang 1965.

Dalam review Kembang Jepun, terlihat pola khas Remy Sylado: perempuan sebagai pusat narasi dan sekaligus korban yang bertahan. Keke tidak diposisikan sebagai hiasan tragedi, melainkan mesin penggerak yang memaksa pembaca menatap kekerasan sebagai struktur, bukan insiden.

Pilihan itu membuat novel ini sejalur dengan tradisi prosa Indonesia yang menaruh perempuan di garis depan sejarah sosial. Pembaca bisa mengingat jejak serupa pada Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan, meski Remy memiliki irama dan humor getir yang berbeda.

Lapisan sejarahnya bekerja sebagai “arsip emosi” tentang Surabaya, Minahasa, dan Indonesia yang berubah rezim. Represivitas kolonial Belanda, kekejaman pendudukan Jepang di Surabaya dan Blitar, serta konflik Permesta menjadi latar yang menekan tubuh dan pilihan tokoh.

Khusus Permesta, Keke digambarkan terjebak perang hingga hidup sendiri di hutan bertahun-tahun. Detail ini memperlihatkan bagaimana konflik politik di pusat selalu melahirkan korban di pinggir, terutama perempuan yang jarang masuk catatan resmi.

Keunggulan lain adalah strategi bahasa, karena Remy Sylado dikenal poliglot dan memamerkan ragam dialog. Novel ini memuat bahasa Belanda, Jepang, Minahasa, Jawa (Surabaya dan Semarang), serta Sunda, yang mempertebal kesan Indonesia sebagai ruang silang identitas.

Secara struktur, alurnya bergerak mundur lalu maju seperti dongeng yang sadar diri. Remy juga kerap memberi “bocoran” akhir, sehingga ketegangan bukan berasal dari kejutan, melainkan dari proses menuju takdir yang sudah diintip pembaca.

Teknik itu terasa efektif karena pembaca diajak menghitung harga yang dibayar tokoh untuk sampai pada pertemuan kembali di usia tua. Romantisme tidak dibangun dari manisnya cinta, melainkan dari daya tahan menghadapi sejarah yang terus menggulung.

Namun ada catatan editorial yang mengganggu pada edisi Gramedia Pustaka Utama, cetakan keempat, Oktober 2026, setebal 384 halaman. Banyak kesalahan penulisan kata muncul, dan itu mengurangi kelancaran membaca meski tidak merusak cerita secara fatal.

Dalam konteks industri penerbitan, masalah semacam ini sering terkait proses penyuntingan, penataan ulang cetak, atau kontrol mutu yang longgar. Data spesifik jumlah salah ketik tidak disebut, tetapi keluhan pembaca tentang kualitas cetak ulang memang kerap muncul di ekosistem buku populer Indonesia.

Yang paling menggigit dari Kembang Jepun bukan sekadar romansa geisha dan jurnalis, melainkan cara novel ini menelanjangi hubungan kuasa. Keke adalah korban perdagangan anak, tetapi juga saksi yang memaksa pembaca mengakui bahwa kolonialisme bekerja lewat tubuh perempuan.

Tjak Broto mewakili idealisme pers dan nasionalisme, tetapi ia juga hadir sebagai manusia yang tak selalu bisa menyelamatkan orang yang dicintainya. Di sini Remy seperti menegaskan bahwa “cinta” dalam sejarah Indonesia sering kalah oleh mesin politik, perang, dan stigma sosial.

Surabaya dalam novel ini bukan latar eksotis, melainkan ruang ekonomi hiburan, represi, dan perlawanan. “Kembang Jepun” sebagai penanda kawasan juga terasa ironis, karena keindahan nama menutupi praktik eksploitasi yang membuat perempuan menjadi komoditas.

Keputusan Remy untuk tidak mengejar twist besar justru memperkeras pesan: tragedi sosial bukan kejutan, melainkan pola yang berulang. Pembaca jadi dipaksa bertanya, apakah kita benar-benar sudah keluar dari siklus itu, atau hanya mengganti kostum kekuasaannya.

Review Kembang Jepun karya Remy Sylado menunjukkan novel ini sebagai kisah cinta yang ditulis di atas peta luka kolonial dan konflik politik Indonesia. Keke dan Tjak Broto mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya terjadi di rapat-rapat elite, tetapi juga di kamar hiburan, sel penjara, dan hutan tempat orang bertahan hidup.

Kekurangan berupa salah ketik pada edisi 2026 patut dikritik karena meremehkan pengalaman pembaca. Namun daya novel ini tetap kuat, karena ia memaksa kita melihat bagaimana tubuh, bahasa, dan kekuasaan saling mengunci dalam satu nasib.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi menohok: siapa yang kita sebut pahlawan, jika korban seperti Keke nyaris selalu absen dari ingatan publik. Barangkali membaca ulang fiksi sejarah seperti ini adalah cara kecil untuk mengembalikan mereka ke pusat cerita. (Orbit dari berbagai sumber, 7 November 2026)