Dari Pojok Baca, Abu Biru Membirukan Langit Literasi Bangka Selatan
Komunitas Belajar Abu Biru yang bermarkas di Desa Keposang, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.
CultureOleh Iyek Aghnia
ORBITINDONESIA.COM - “Mana kawan-kawan dari Komunitas Abu Biru? Siapa namanya?” tanya Kang Maman ketika bertemu penulis dalam acara Festival Literasi Bangka Selatan, Oktober lalu.
Abu Biru?
Nama itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan sebuah gerakan anak muda yang perlahan-lahan ikut membirukan cakrawala literasi Bangka Selatan.
Komunitas Belajar Abu Biru yang bermarkas di Desa Keposang, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, kini menjadi salah satu penggerak kegiatan literasi di daerah tersebut. Mereka tidak sekadar mengajak anak-anak membaca buku, tetapi juga menghadirkan ruang belajar, berbagi pengetahuan, dan menumbuhkan kegembiraan dalam proses belajar.
Perjalanan Abu Biru bermula pada 2022. Berangkat dari keresahan melihat anak-anak di lingkungan desa yang belum semuanya memiliki kesempatan mengakses kegiatan belajar yang beragam dan menyenangkan, terutama melalui buku, sejumlah anak muda perempuan di Bangka Selatan berinisiatif membuka sebuah “Pojok Baca” di rumah kawasan Parit 7, Keposang.
Mereka juga membuka bimbingan belajar bagi anak-anak yang berminat. Ruang sederhana itu kemudian mereka sebut sebagai rumah belajar: tempat anak-anak berkumpul, membaca, belajar, bertukar cerita, dan mengeksplorasi hal-hal baru.
“Dengan harapan menghadirkan kesempatan belajar yang lebih dekat bagi anak-anak desa,” cerita Mely Handiati melalui percakapan WhatsApp, Minggu, 8 November 2026.
Dari sebuah rumah sederhana, gerakan itu terus berkembang. Komunitas yang diinisiasi kaum muda perempuan ini mulai menghadirkan beragam kegiatan literasi, dari membaca bersama hingga pelatihan dan aktivitas kreatif yang melibatkan anak-anak serta masyarakat.
Pada 2025, Komunitas Rumah Belajar Abu Biru yang dinakhodai Mely Handiati menggelar Redaksi Fest 2025, festival literasi pertama di Toboali. Mengusung tema “Literasi Tumbuh dari Aksi”, nama Redaksi merupakan akronim dari “Bergerak dengan Aksi”.
Festival tersebut menghadirkan berbagai pelatihan literasi, antara lain mendongeng, menulis cerita pendek, dan membaca nyaring atau read aloud. Pelatihan mendongeng bertema “Mengajar Lewat Cerita” melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pustakawan, pegiat literasi, relawan, hingga perwakilan taman baca dari Bangka Belitung.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya urusan membaca dan menulis. Ada kreativitas, keterampilan bercerita, keberanian berekspresi, serta kemampuan membangun interaksi yang perlu ditumbuhkan sejak dini.
Selain festival, Abu Biru juga memiliki kegiatan rutin yang mereka sebut Lapak Literasi. Setiap Minggu, mereka menghadirkan lapak membaca dan mewarnai gratis di kawasan Kolong Bakung, Toboali. Kegiatan yang dimulai sejak 2024 ini menjadi salah satu cara mereka mendekatkan buku kepada anak-anak di ruang publik.
Namun, membangun gerakan literasi tidak selalu semudah menyusun program di atas kertas. Ada kerja keras, keterbatasan, dan pengorbanan yang mungkin tidak terlihat oleh orang-orang yang datang menikmati kegiatan mereka.
Pada masa awal Lapak Literasi, para anggota harus menggotong kardus besar berisi buku yang dikemas dalam dus mi instan. Mereka membawa meja sendiri, mengangkut perlengkapan dengan sepeda motor Mio J, dan menempuh perjalanan sekitar 13 kilometer menuju lokasi kegiatan. Bahkan, ada anggota yang harus datang dari Desa Sadai.
Selama tahun pertama, seluruh kegiatan anak-anak muda ini sepenuhnya dibiayai secara swadaya oleh para anggota. Mereka mengeluarkan tenaga, waktu, dan dana sendiri demi memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca dan belajar.
Kegigihan itu kemudian membuahkan hasil. Komunitas Belajar Abu Biru mendapat kepercayaan dan dukungan pendanaan dari Kemendikbudristek melalui program Apresiasi Komunitas Literasi.
Atas prestasi dan ikhtiarnya dalam mengembangkan literasi di Bangka Selatan, komunitas yang dipimpin alumnus Sosiologi Universitas Bangka Belitung ini juga memperoleh penghargaan sebagai Komunitas Literasi Terbaik dari Perpustakaan Daerah Bangka Selatan.
Penghargaan tersebut tentu menjadi apresiasi atas kerja yang telah mereka lakukan. Namun, barangkali pencapaian terbesar Abu Biru justru terletak pada anak-anak yang semakin dekat dengan buku, masyarakat yang mulai terlibat, serta tumbuhnya kesadaran bahwa kegiatan belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas.
Kehadiran komunitas seperti Abu Biru menjadi nutrisi penting bagi perkembangan ekosistem literasi daerah. Mereka hadir sebagai pemantik, penggerak, sekaligus ruang edukasi masyarakat mengenai pentingnya membaca dan belajar sepanjang hayat.
Melalui inisiatif lokal yang kreatif dan kolaboratif, kegiatan seperti lapak baca, pelatihan, festival, dan kampanye literasi dapat menghidupkan suasana literasi secara bertahap. Gerakan semacam ini memang tidak selalu menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat. Namun, ketika dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, dampaknya dapat meluas.
Tentu saja, komunitas tidak bisa berjalan sendirian. Dukungan masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta sangat diperlukan agar gerakan literasi memiliki keberlanjutan. Dukungan tersebut bukan hanya berupa bantuan dana, melainkan juga penyediaan akses buku, ruang kegiatan, jejaring, pendampingan, dan kesempatan bagi komunitas untuk berkembang.
Abu Biru telah memperlihatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebuah rumah, beberapa buku, sekelompok anak muda, dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak di lingkungan mereka.
Dari Pojok Baca di Keposang, mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar tempat membaca. Mereka sedang menumbuhkan harapan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar, mengenal dunia, dan mengembangkan potensinya.
Seperti yang diungkapkan Mely Handiati, tidak boleh ada anak-anak, pewaris masa depan, yang jauh dari akses belajar dan buku.
Sebab, buku adalah gerbang dunia, sedangkan membaca adalah kuncinya.
Dan dari sebuah pojok baca sederhana, Abu Biru sedang membantu membukakan gerbang itu bagi anak-anak Bangka Selatan. ***