Pepih Nugraha: Surat Cinta buat PDIP
ORBITINDONESIA.COM - Ada masa ketika PDIP tidak perlu bertanya siapa lawannya. Cukup lihat kaca. Di sana ada banteng. Dan banteng, dalam politik Indonesia, pernah begitu percaya diri bahwa arena itu miliknya.
Sekarang kaca itu agaknya perlu dibersihkan lebih sering. Sebab yang terlihat bukan lagi banteng yang berada paling depan.
Dalam survei Poltracking Indonesia yang datanya dikumpulkan 14–20 Agustus 2026, Partai Gerindra berada di posisi teratas dengan elektabilitas 23,2 persen. PDIP tinggal 11,6 persen. Golkar 10,4 persen, PKB 6,2 persen, Demokrat 6,1 persen, dan NasDem 4,4 persen.
Jarak Gerindra dengan PDIP bukan satu-dua helaan napas. Sebelas koma enam poin persentase. Atau kalau mau sedikit nakal: Gerindra sudah menyalip PDIP bukan sambil klakson-klaksonan. Ia menyalip sambil membawa Prabowo.
Dan banteng? Masih sibuk bertanya mengapa jalan raya politik semakin ramai.
Tentu jangan buru-buru mengatakan Pemilu 2029 sudah selesai. Belum. Jauh sekali.
Lagi pula, survei bukan kotak suara, dan angka Agustus 2026 bukan hasil Pemilu 2029. Poltracking sendiri menyebut temuannya sebagai potret preferensi publik pada periode survei. Sampelnya 1.220 responden di 38 provinsi, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Tetapi justru karena ini belum pemilu, PDIP seharusnya lebih gelisah. Mengapa? Sebab kalau rumah terbakar setelah pemilu, yang diperlukan pemadam.
Kalau asap sudah terlihat dua tahun sebelum pemilu, yang diperlukan mungkin bukan konferensi pers. Yang diperlukan adalah masuk dapur.
Masalahnya bukan sekadar disalip. Mari kita lihat trennya...
Dalam catatan Poltracking, PDIP berada di 15,7 persen pada Oktober 2025. Kemudian 15,4 persen pada Maret 2026, turun menjadi 14,4 persen pada Mei, 12,3 persen pada Juli, dan akhirnya 11,6 persen pada Agustus. Turunnya bertahap. Seperti orang yang turun eskalator, tetapi tidak pernah menekan tombol berhenti.
Gerindra pun sebenarnya tidak sedang terbang tanpa gravitasi. Angkanya sempat 26,1 persen pada Maret 2026, lalu 25,9 persen pada Mei, 23,5 persen pada Juli, dan 23,2 persen pada Agustus.
Tetapi Gerindra masih di atas. Jauh di atas. Itu persoalannya. Jadi kalau ada kader PDIP yang berkata, “Ah, survei kan bisa berubah,” tentu benar.
Tetapi kalimat itu juga bisa menjadi obat bius paling murah dalam politik. Semua angka memang bisa berubah. Pertanyaannya: berubah karena apa? Apakah karena PDIP sedang mengubah diri, atau karena pemilih sedang meninggalkan PDIP? Ini dua hal yang sama sekali berbeda.
Ada persoalan yang lebih menarik. Ketika publik diminta menyebut apa yang paling melekat di kepala mereka ketika mendengar PDIP, jawaban terbesar adalah Megawati Soekarnoputri, 17 persen. Setelah itu baru lambang banteng, 8 persen. Puan Maharani hanya 2,4 persen.
Ini bukan kabar buruk tentang Megawati. Justru sebaliknya: nama Megawati masih sangat kuat melekat pada PDIP.
Tetapi di sinilah pertanyaan yang mungkin agak kurang sopan perlu diajukan: Apakah PDIP terlalu berhasil menjadi Megawati, sehingga belum cukup berhasil menjadi PDIP? Sebab partai politik mestinya lebih panjang umur daripada seorang ketua umum.
Partai mestinya punya regenerasi yang membuat pemilih mengenali bukan hanya siapa yang mendirikan, memimpin, atau menjaga partai, tetapi juga siapa yang akan membawa partai itu sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh tahun ke depan.
Kalau setiap kali orang menyebut PDIP yang muncul pertama-tama adalah satu nama, maka partai itu menghadapi pekerjaan rumah yang tidak sederhana.
Bukan mengganti nama itu. Bukan pula mengurangi penghormatan kepada nama itu. Melainkan membuat PDIP cukup besar sehingga tidak bergantung pada satu nama untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Gerindra juga punya masalah yang serupa, bahkan lebih ekstrem. Ketika orang mendengar Gerindra, Prabowo Subianto disebut 26,1 persen. Tetapi bedanya, Prabowo sedang berada di Istana sebagai Presiden. Artinya Gerindra memiliki figur yang sedang memegang kekuasaan nasional.
PDIP sekarang berada di luar pemerintahan. Maka pertanyaan tentang regenerasi dan identitas partai menjadi semakin penting.
Yang paling lucu: pemilih rupanya tidak terlalu peduli pada romantisme partai. Ini bagian yang mungkin paling mengganggu rapat internal partai.
Sebanyak 53,3 persen responden lebih cenderung memilih calon anggota legislatif, sementara hanya 24,7 persen yang lebih cenderung memilih partai politik.
Artinya, pemilih tidak selalu masuk TPS sambil membawa buku sejarah partai. Mereka mungkin tidak peduli bahwa partai pernah menjadi pemenang pemilu. Mereka mungkin tidak peduli berapa banyak kongres sudah dilaksanakan. Mereka mungkin bahkan tidak hafal siapa sekretaris jenderal partai.
Mereka cuma bertanya: “Calegnya siapa?” Dan ini tamparan yang sebetulnya tidak hanya untuk PDIP. Tetapi PDIP perlu merasakannya lebih keras karena partai ini memiliki sejarah elektoral yang panjang.
Partai boleh punya ideologi. Boleh punya lambang. Boleh punya mars. Boleh punya sejarah. Tetapi pemilih tetap punya hak paling sederhana: tidak memilih.
PAN dan PKS
Ada ironi lain dalam survei ini. PAN memperoleh 3,4 persen. PKS 3,3 persen. Keduanya berada di bawah ambang batas parlemen 4 persen yang berlaku untuk DPR.
Dalam politik, selisih 0,6 atau 0,7 persen mungkin terdengar kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak berarti banyak. Dalam sistem kepartaian, itu bisa berarti: “Silakan pulang, pintu Senayan sedang ditutup.” Mereka yang kemarin berhasil melewati ambang batas, dalam potret survei hari ini justru berada di bawah garis.
Ini mengingatkan PDIP pada sesuatu yang lebih penting: tidak ada partai yang memiliki sertifikat kepemilikan Senayan. Hari ini punya kursi. Besok belum tentu. Kemarin berkuasa. Hari ini oposisi. Dulu nomor satu. Sekarang nomor dua. Dan kalau tidak hati-hati, nomor dua pun bukan posisi yang kekal.
PDIP jangan sampai menjadi museum kemenangan. Ini bagian paling tidak enak untuk dikatakan kepada partai sebesar PDIP. Partai politik tidak boleh berubah menjadi museum yang memajang foto kemenangan masa lalu.
“Ini foto kami ketika menang.”
“Ini foto kami ketika memimpin pemerintahan.”
“Ini foto kami ketika memenangkan pemilu.”
“Ini foto kami ketika kader kami menjadi presiden.”
Bagus bagus saja sih. Tetapi pemilih hari ini tidak hidup di dalam album foto. Mereka hidup dalam harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, biaya sekolah, ongkos transportasi, perumahan, layanan kesehatan, korupsi, dan kualitas pemerintahan.
Mereka tidak memilih masa lalu. Mereka memilih masa depan. Bahkan dalam survei Poltracking, hanya 12,3 persen responden yang merasa dekat dengan partai politik, sementara 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat. Angka ini seharusnya membuat semua kantor pusat partai memasang alarm.
Sebab masalahnya bukan cuma PDIP turun. Masalahnya adalah partai politik secara umum sedang berjarak dengan pemilih. Dan PDIP, sebagai salah satu partai terbesar, seharusnya bertanya: Apakah struktur partai masih mendengar suara akar rumput? Apakah kader masih bekerja ketika kamera televisi tidak menyala? Apakah anggota DPR benar-benar dikenal konstituennya?
Poltracking menemukan 57,6 persen responden tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerah mereka. Jadi jangan heran kalau rakyat tahu logo banteng tetapi tidak tahu siapa wakilnya. Jangan heran kalau rakyat tahu Megawati tetapi tidak tahu anggota DPR dari daerah pemilihannya. Dan jangan heran pula kalau suatu hari rakyat mengenal calon lebih baik daripada mengenal partainya.
Banteng perlu bergerak, bukan hanya menggeram!
Ada satu kesalahan klasik partai besar. Ketika elektabilitas turun, mereka mencari musuh. Ada yang menyalahkan survei. Ada yang menyalahkan media. Ada yang menyalahkan pemerintah. Ada yang menyalahkan lawan. Ada yang menyalahkan algoritma. Ada yang menyalahkan rakyat karena dianggap belum memahami perjuangan partai.
Padahal mungkin masalahnya jauh lebih sederhana: rakyat sudah memahami, tetapi tidak memilih. Kalau begitu, yang perlu diperiksa bukan telinga rakyat. Coba periksa partainya.
PDIP tentu tidak perlu panik. Tetapi mungkin perlu bercermin. Gerindra boleh menikmati posisi 23,2 persen. Tetapi Gerindra sendiri sedang mengalami penurunan dari puncaknya 26,1 persen pada Maret. Artinya, tidak ada alasan bagi Gerindra untuk mabuk angka.
PDIP pun masih 11,6 persen, masih jauh di atas ambang batas parlemen. Namun grafiknya menunjukkan penurunan bertahap.
Itulah yang mestinya membuat internal PDIP lebih banyak rapat tentang mengapa daripada rapat tentang siapa yang harus disalahkan.
Politik tidak pernah memberi hadiah kepada partai yang paling lama merasa benar. Politik memberi kursi kepada partai yang berhasil membuat pemilih berkata: “Saya memilih mereka.” Bukan: “Dulu mereka pernah menang.”
Maka banteng tidak perlu menangis melihat Gerindra berlari di depan. Jangan pula sibuk mengejar ekor Garuda. Banteng punya kaki sendiri. Yang perlu diperiksa barangkali bukan seberapa tajam tanduknya. Melainkan apakah kakinya masih mau bergerak ke tempat rakyat berada.
Jika banteng hanya berdiri gagah di halaman kantor partai, sementara pemilih berjalan ke TPS tanpa menoleh, maka masalahnya bukan siapa yang menyalip. Masalahnya: banteng itu mungkin sudah terlalu lama mengira dirinya masih sedang berlari.
Vila d'Jati, 23 September 2026. ***