Esports Indonesia Masuk Hari Bhakti Postel, Ekonomi Digital Menguat

Uzone.id

Uzone.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Esports Indonesia kini menembus panggung yang dulu identik dengan infrastruktur dan regulasi telekomunikasi. Turnamen Mobile Legends dalam Hari Bhakti Postel ke-81 menandai pergeseran: game bukan lagi hiburan pinggiran, melainkan bagian dari ekonomi digital.

ASPIMTEL untuk pertama kalinya memasukkan kompetisi esports ke rangkaian Hari Bhakti Postel 2026 di Jakarta. Sebanyak 24 tim dari perusahaan ICT, media, hingga lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital ikut bertanding.

Langkah ini lahir dari kesadaran bahwa konektivitas digital dan budaya bermain kini saling mengunci. Tanpa jaringan yang stabil, esports tidak hidup, dan tanpa ekosistem digital, infrastruktur kehilangan salah satu mesin pertumbuhan barunya.

Pejabat Komdigi, Aryo Pamoragung, menegaskan industri game telah menjadi industri besar, bukan “permainan sebelah mata”. Ia menyebut valuasi industri game Indonesia mencapai Rp32 triliun pada 2025.

Data valuasi Rp32 triliun menunjukkan konsumsi game di Indonesia sudah menjadi pasar yang matang. Namun pasar matang tidak otomatis berarti nilai tambah dinikmati pelaku lokal.

Komdigi mendorong agar peserta tidak berhenti sebagai pemain, tetapi masuk ke rantai produksi. Pesannya jelas: Indonesia harus punya kreator dan developer, bukan hanya pembeli konten luar.

Di sisi esports, laporan PwC memproyeksikan nilai pasar esports Indonesia bisa mencapai USD2,4 miliar pada 2029. Angka ini memancing pertanyaan penting: siapa yang akan memanen pendapatan, publisher global atau talenta lokal.

IESPA menambah konteks lewat klaim 68 juta gamers aktif di Indonesia. Ketua Umum IESPA, Ibnu Sulistyo Riza Pradipto, menyebut esports sebagai “future work” dan masa depan ekonomi.

Argumen “future work” masuk akal bila ekosistem pekerjaan dibangun, bukan sekadar kompetisi. Ibnu menekankan profesi seperti event organizer, manajer tim, wasit, dan caster sebagai kebutuhan industri.

Turnamen ini juga menampilkan sisi industri yang sering luput: esports adalah etalase kualitas jaringan. Tema Hari Bhakti Postel “Konektivitas Digital untuk Indonesia Berdaulat” menjadi pengingat bahwa latensi dan stabilitas adalah “lapangan” yang sebenarnya.

Indra Gunawan dari ASPIMTEL menyatakan pendaftar melebihi perkiraan panitia. Antusiasme itu memberi sinyal bahwa pekerja telekomunikasi pun merupakan komunitas gamer yang nyata.

Namun euforia turnamen tidak boleh menutupi pekerjaan rumah yang lebih besar. Jika esports hanya dijadikan hiburan seremonial, dampaknya berhenti pada panggung dan hadiah.

Total hadiah Rp30,5 juta memang memeriahkan, tetapi nilai ekonomi utama ada pada industri pendukung. Nilai itu muncul dari produksi konten, lisensi, sponsorship, pelatihan, dan tata kelola kompetisi.

Final dimenangi PT Telkom Infra Indonesia dengan skor 2-0 atas PT Amron Citinet. MVP diraih Rivaldi dari Telkom Infra, dan Abi menyebut kekompakan serta penguasaan hero sebagai kunci.

Masuknya Mobile Legends ke Hari Bhakti Postel adalah simbol bahwa negara mulai menganggap esports Indonesia sebagai urusan strategis. Ini bukan sekadar soal “main game”, tetapi soal arah ekonomi digital dan daya saing talenta.

Namun simbol harus diikuti desain kebijakan yang rapi dan terukur. Jika tidak, Indonesia hanya menjadi pasar besar yang memberi panggung bagi produk global tanpa kedaulatan nilai.

Target “Indonesia berdaulat” seharusnya diterjemahkan menjadi program yang membangun kapasitas lokal. Insentif developer, penguatan studio, kurikulum keterampilan, dan sertifikasi profesi esports perlu dipercepat.

Industri telekomunikasi juga punya kepentingan langsung, karena esports menguji kualitas jaringan secara brutal dan real-time. Turnamen semacam ini bisa menjadi laboratorium publik untuk memaksa standar layanan naik.

Di sisi lain, ada risiko komersialisasi yang melupakan perlindungan pemain dan etika kompetisi. Esports yang sehat butuh aturan, transparansi, dan jalur karier yang tidak eksploitatif.

Janji mabar dengan pro player dan Timnas Mobile Legends terdengar menarik, tetapi itu hanya pemantik. Yang lebih penting adalah jalur pembinaan yang konsisten dari komunitas, kampus, hingga industri.

Turnamen esports di Hari Bhakti Postel menunjukkan satu hal: konektivitas dan budaya digital telah menyatu menjadi identitas ekonomi baru. Ketika menara, kabel, dan spektrum bertemu arena Mobile Legends, yang dipertaruhkan bukan hanya piala, tetapi masa depan pekerjaan.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi tajam: apakah Indonesia akan berhenti sebagai penonton yang membayar, atau naik kelas menjadi produsen yang mencipta. Jika esports Indonesia ingin benar-benar menguat, panggung seremonial harus berubah menjadi peta jalan industri yang adil dan berdaulat.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)