FCA Soroti Kelemahan AML Manajer Investasi, Private Markets Disorot
ORBITINDONESIA.COM – Laporan Financial Conduct Authority (FCA) tentang kontrol kejahatan keuangan di asset management dan alternative firms membuka satu pesan keras: banyak sistem anti pencucian uang (AML) masih rapuh, terutama di private markets. Dari 242 firma yang disurvei pada 2025/26, FCA menemukan kegagalan berulang pada penilaian risiko, due diligence, pemantauan transaksi, hingga tata kelola. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
FCA merilis temuan ini untuk mendorong firma menakar ulang risiko kejahatan keuangan dan menguji efektivitas sistem serta kontrol yang mereka klaim sudah berjalan. Temuan disusun dari survei dan wawancara staf senior, sehingga bukan sekadar audit dokumen, melainkan potret praktik nyata di lapangan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Konteksnya sedang panas karena penegakan hukum FCA makin agresif, termasuk penangkapan empat individu dalam investigasi penipuan dan pencucian uang yang terkoordinasi. Di saat yang sama, FCA menegaskan private markets funds punya risiko inheren lebih tinggi karena struktur kepemilikan kompleks, paparan PEP, dan transfer lintas negara. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Dalam kerangka aturan, kewajiban utama mengacu pada Money Laundering Regulations 2017 (MLRs) dan kepatuhan sanksi Inggris. FCA mengingatkan bahwa memahami aturan saja tidak cukup bila pendekatan manajemen risiko masih “informal” dan meremehkan risiko inheren. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Di jantung masalah ada business-wide risk assessment (BWRA), alat fundamental menurut FCA untuk mengukur risiko kejahatan keuangan. Namun “lebih dari seperlima” firma tidak membuat BWRA atau hanya membuat sebagian, dan 18% firma private markets mengaku BWRA mereka tidak menutup risiko private markets secara spesifik. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Tanpa BWRA yang kuat, firma bisa memfasilitasi kejahatan keuangan tanpa sadar, terutama ketika dana mengalir lewat struktur bertingkat dan yurisdiksi offshore. FCA bahkan menyarankan rujukan ke National Risk Assessment 2025 untuk money laundering/terrorist financing dan National Risk Assessment 2021 untuk proliferation financing saat menyusun BWRA. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Lapisan berikutnya adalah customer risk assessment yang seharusnya formal dan terdokumentasi, bukan sekadar mengandalkan “kedekatan” dengan klien. FCA menemukan 18% firma tidak punya metodologi penilaian risiko nasabah sama sekali, dan sebagian kecil firma private markets tidak punya proses formal memverifikasi ultimate beneficial ownership pada struktur multi-layer atau offshore. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Di titik ini, kelemahan menjadi sistemik karena penilaian risiko nasabah menentukan seberapa dalam due diligence dilakukan. Jika firma bahkan tidak mengklasifikasikan nasabah berdasarkan risiko, maka enhanced due diligence berpotensi berubah menjadi formalitas yang tidak menyasar pihak berisiko tinggi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Masalah membesar ketika 40% firma meng-outsourcing customer due diligence dan enhanced due diligence, biasanya ke konsultan kepatuhan atau fund administrator. Outsourcing boleh menurut MLRs, tetapi tanggung jawab tetap pada firma, dan di sinilah FCA menemukan jurang pengawasan yang mengkhawatirkan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Dari firma yang meng-outsourcing sebagian fungsi kepatuhan kejahatan keuangan, hanya 36% yang punya pengawasan penuh atas proses onboarding AML pihak ketiga. Lebih tajam lagi, 10% firma tidak memverifikasi source of wealth untuk nasabah berisiko tinggi, padahal itulah pertahanan dasar terhadap uang kotor yang disamarkan sebagai modal investasi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Setelah onboarding, banyak firma tampak kehabisan napas dalam pemantauan berkelanjutan. Sebanyak 29% firma melaporkan tidak punya proses formal transaction monitoring, dan 7% tidak melakukan pemantauan nasabah secara sistematis sama sekali setelah onboarding, baik continuous, periodic, maupun trigger-based. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
FCA menyoroti praktik manual oleh satu-dua orang tanpa pemicu yang didefinisikan, yang membuat deteksi aktivitas mencurigakan menjadi tidak konsisten. Padahal ongoing monitoring adalah kewajiban mandatory di bawah MLRs, bukan pilihan yang bisa ditunda demi efisiensi biaya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Di sisi screening, kelemahan tampak pada pemeriksaan ulang PEP dan sanksi sepanjang hubungan nasabah. Sebanyak 7% firma mengaku tidak melakukan repeat screening, sebuah celah yang bisa membuat status PEP atau daftar sanksi “terlewat” ketika profil seseorang berubah. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Tata kelola memperlihatkan akar persoalan yang lebih dalam, yakni prioritas manajemen. Setengah dari seluruh firma tidak berinvestasi untuk remediasi atau peningkatan sistem AML dalam 24 bulan terakhir, sementara hanya “sedikit di atas sepertiga” yang membahas risiko AML secara reguler di forum tata kelola. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Lebih buruk lagi, 36% hanya membahas AML setahun sekali atau bahkan lebih jarang, dan 18% tidak punya quality assurance formal atas aktivitas AML seperti onboarding, alerts, atau reviews. Kombinasi ini menciptakan organisasi yang tidak belajar dari kesalahan dan tidak punya mekanisme untuk memastikan kualitas kontrol. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
FCA juga menyoroti isu staffing MLRO, posisi kunci yang seharusnya menjadi pusat saraf kepatuhan AML. Lebih dari setengah MLRO memegang peran paruh waktu atau berbagi tanggung jawab, dan yang mengejutkan, lebih dari seperempat firma besar dengan AUM di atas £10 miliar juga memakai skema paruh waktu atau shared MLRO. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Di firma besar, kompleksitas klien dan transaksi biasanya meningkat, sehingga model MLRO paruh waktu berisiko menjadi simbol kepatuhan tanpa kapasitas pengawasan. FCA secara eksplisit meminta firma menilai apakah fungsi MLRO mereka cukup untuk memastikan AML oversight dan kepatuhan yang efektif. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Terakhir, pelatihan menjadi titik lemah yang sering dianggap remeh, padahal ia menentukan kualitas keputusan sehari-hari. FCA menemukan sebagian MLRO tidak menerima pelatihan spesifik atas kewajiban legalnya, dan sebagian firma kurang mengikuti pembaruan panduan legislasi maupun industri terkait kejahatan keuangan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Temuan FCA menunjukkan problem yang bukan sekadar teknis, melainkan budaya risiko yang terlalu percaya diri. Banyak firma tampak menganggap reputasi, kedekatan dengan klien, atau outsourcing sebagai pengganti kontrol yang terdokumentasi, padahal kejahatan keuangan justru tumbuh dalam area abu-abu yang “terlihat aman”. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Private markets menjadi panggung paling rawan karena struktur kepemilikan kompleks dan arus dana lintas batas memberi ruang untuk penyamaran beneficial owner dan asal kekayaan. Jika BWRA tidak memasukkan risiko private markets, maka firma seperti berjalan tanpa peta, sementara regulator sudah menyalakan lampu sorot lewat Dear CEO letter 26 Februari 2025. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Yang paling mengganggu adalah sinyal bahwa sebagian firma menunda investasi AML, seolah kepatuhan adalah biaya yang bisa dipangkas saat pasar menekan margin. Padahal ketika FCA menyebut potensi peningkatan enforcement dan menunjukkan kemauan mengejar jalur pidana maupun perdata, penghematan itu bisa berubah menjadi kerugian reputasi dan legal yang jauh lebih mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
FCA secara tidak langsung menantang narasi “kami paham aturan” dengan pertanyaan yang lebih tajam: apakah kontrol benar-benar bekerja saat diuji. Dalam dunia investasi modern, kepatuhan AML bukan lagi urusan back office, melainkan bagian dari manajemen risiko inti yang menentukan keberlanjutan bisnis. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Laporan ini menegaskan bahwa kelemahan AML di asset management dan alternative firms bukan insiden terpisah, melainkan pola yang berulang dari penilaian risiko yang lemah, monitoring yang tidak sistematis, dan governance yang kurang tegas. Dengan angka seperti 29% tanpa transaction monitoring formal dan setengah firma tanpa investasi uplift AML dua tahun terakhir, FCA memberi peringatan yang sulit diabaikan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Pertanyaannya kini bukan apakah firma bisa menulis kebijakan, tetapi apakah mereka mau membayar harga untuk membuatnya hidup melalui data, orang, dan pengawasan yang nyata. Jika private markets memang berisiko tinggi, maka “informal approach” adalah undangan terbuka bagi uang kotor untuk ikut menikmati imbal hasil yang sah. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)
Di ujungnya, kepatuhan adalah soal pilihan moral sekaligus strategi bisnis: menjaga pasar tetap bersih atau membiarkan kompleksitas menjadi selimut bagi penyimpangan. Ketika regulator makin tegas, firma yang bertahan bukan yang paling pandai berkilah, melainkan yang paling disiplin membangun kontrol sebelum krisis memaksa. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)