The Great Filter: Mengapa Alam Semesta Begitu Sunyi?
ORBITINDONESIA.COM - Alam semesta begitu luas sehingga kesunyian di dalamnya justru terasa mencurigakan.
Ada miliaran galaksi. Di dalam galaksi terdapat miliaran bintang. Kita sekarang mengetahui bahwa planet bukan sesuatu yang langka. NASA telah mengonfirmasi ribuan eksoplanet, dan diperkirakan ada setidaknya 100 miliar planet di galaksi Bima Sakti.
Sebagian di antaranya berada dalam kondisi yang secara teoritis memungkinkan kehidupan. Namun, sampai sekarang, kita belum menemukan bukti yang meyakinkan tentang kehidupan di luar Bumi, apalagi peradaban teknologi yang mampu menjelajah antarbintang.
Maka muncul pertanyaan terkenal yang dikaitkan dengan fisikawan Enrico Fermi: “Where is everybody?”
Kalau kehidupan cerdas memang mungkin muncul di banyak tempat, mengapa kita tidak melihat tanda-tandanya?
Tidak ada sinyal radio yang meyakinkan. Tidak ada wahana alien. Tidak ada megastruktur yang jelas. Tidak ada bukti peradaban yang telah menyebar ke seluruh galaksi.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai Fermi Paradox. Dan salah satu jawaban paling mengerikan terhadap paradoks tersebut adalah sebuah gagasan yang disebut The Great Filter.
Tembok besar dalam evolusi
Gagasan Great Filter dikembangkan secara terkenal oleh ekonom Robin Hanson pada 1990-an. Intinya sederhana: mungkin terdapat satu atau beberapa tahapan dalam perjalanan dari benda mati menuju peradaban antarbintang yang sangat sulit dilewati. Hampir semua kehidupan gagal melewatinya.
Bayangkan evolusi sebagai sebuah tangga. Tangga pertama adalah munculnya kehidupan dari materi tak hidup. Kemudian kehidupan bersel tunggal. Lalu organisme kompleks. Kemudian kecerdasan. Kemudian bahasa dan kebudayaan. Lalu teknologi.
Kemudian peradaban yang mampu menguasai energi dalam jumlah sangat besar. Dan akhirnya, mungkin, kemampuan menjadi peradaban multiplanet dan menjelajah antarbintang. Kita belum tahu di mana terdapat anak tangga yang hampir mustahil dilewati. Itulah Great Filter. Filter tersebut bisa berada di masa lalu. Bisa juga sedang kita hadapi sekarang. Atau, yang paling mengerikan, mungkin berada di masa depan.
Jika Great Filter sudah kita lewati
Ada kemungkinan bahwa tahap paling sulit justru sudah dilewati manusia. Misalnya, ternyata munculnya kehidupan pertama dari materi tak hidup adalah proses yang luar biasa langka. Atau evolusi dari organisme sederhana menuju kehidupan kompleks membutuhkan kombinasi kondisi yang nyaris tidak pernah terjadi.
Jika demikian, manusia mungkin sangat istimewa. Bukan karena kita pasti merupakan satu-satunya kehidupan di alam semesta, tetapi karena jalan menuju kecerdasan dan peradaban teknologi ternyata sangat jarang.
Dalam skenario ini, kesunyian alam semesta justru menjadi kabar yang relatif baik. Kita telah melewati bagian tersulit.
Kita adalah salah satu dari sedikit spesies yang berhasil mencapai tahap teknologi. Tetapi ada sisi lain yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Bagaimana jika Great Filter masih berada di depan?
Bayangkan ternyata munculnya kehidupan itu mudah. Kehidupan sederhana ternyata banyak. Organisme kompleks juga relatif mudah muncul. Kecerdasan pun bukan sesuatu yang terlalu langka. Bahkan peradaban teknologi ternyata dapat berkembang berkali-kali di berbagai planet.
Tetapi hampir semuanya akhirnya musnah sebelum mampu menjadi peradaban antarbintang. Maka pertanyaan yang mengerikan muncul: Apa yang membunuh mereka?
Mungkin perang nuklir. Mungkin perubahan iklim yang tidak terkendali. Mungkin pandemi. Mungkin teknologi biologis yang disalahgunakan. Mungkin kecerdasan buatan yang tidak berhasil dikendalikan. Mungkin perang antara mesin dan manusia. Mungkin sumber daya planet habis sebelum sebuah peradaban mampu keluar dari planet asalnya. Atau mungkin ada sesuatu yang belum pernah kita bayangkan.
Sejumlah kajian kontemporer memang menggunakan Great Filter untuk mendiskusikan risiko seperti perang nuklir, pandemi, perubahan iklim dan AI sebagai kemungkinan hambatan menuju peradaban yang berumur panjang. Bahkan ada penelitian yang secara khusus mengajukan AI sebagai kandidat Great Filter karena perkembangan kecerdasan buatan dapat berlangsung lebih cepat daripada kemampuan masyarakat membangun mekanisme pengaman.
Tentu saja, semua itu masih hipotesis. Tidak ada bukti bahwa AI, perang nuklir atau perubahan iklim adalah Great Filter. Tetapi justru di situlah daya tarik pemikiran ini. Ia memaksa kita mengajukan pertanyaan yang biasanya kita hindari:
Apakah kecerdasan otomatis membuat sebuah spesies mampu bertahan hidup? Belum tentu.
Paradoks penemuan alien
Ada satu konsekuensi pemikiran Great Filter yang terdengar paradoksal. Menemukan kehidupan di luar Bumi belum tentu selalu menjadi kabar baik.
Jika suatu hari kita menemukan mikroorganisme sederhana di Mars, misalnya, hal itu akan menjadi penemuan ilmiah luar biasa. Tetapi dalam kerangka Great Filter, penemuan tersebut tidak serta-merta mengkhawatirkan.
Justru yang lebih menarik adalah jika kita menemukan kehidupan kompleks atau peradaban teknologi yang pernah berkembang di tempat lain tetapi kemudian punah.
Mengapa? Karena hal itu dapat memberikan petunjuk bahwa kehidupan mampu mencapai tingkat kecerdasan dan teknologi, tetapi kemudian menghadapi hambatan yang menyebabkan keruntuhannya.
Namun perlu hati-hati: menemukan peradaban alien yang mati tidak otomatis membuktikan Great Filter berada di masa depan manusia. Kita harus mengetahui tahap perkembangan mereka dan, terutama, penyebab kepunahannya.
Jika kita menemukan banyak planet yang pernah memiliki kehidupan kompleks tetapi semuanya berhenti pada tahap tertentu, kita akan mendapatkan petunjuk bahwa ada hambatan besar dalam evolusi.
Sebaliknya, jika kita menemukan kehidupan sederhana di banyak tempat tetapi tidak menemukan kehidupan kompleks, mungkin hambatan terbesar justru berada di antara kehidupan sederhana dan kehidupan kompleks.
Dengan kata lain, pencarian alien bukan hanya pencarian teman dari luar angkasa. Ia juga merupakan pencarian petunjuk tentang nasib kita sendiri.
Dan di sinilah manusia menjadi cermin bagi dirinya sendiri
Great Filter pada akhirnya bukan hanya cerita tentang alien. Ia adalah cerita tentang manusia.
Kita adalah spesies yang telah mengembangkan kecerdasan luar biasa. Kita mampu membelah atom, mengedit gen, mengirim teleskop ke luar angkasa, mengembangkan kecerdasan buatan, dan mendaratkan wahana di planet serta asteroid yang jauh.
Tetapi kemampuan teknologi kita berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita mengelola konsekuensinya.
Kita memiliki senjata yang mampu menghancurkan kota dalam hitungan detik. Kita mampu mengubah ekosistem planet dalam skala global. Kita sedang menciptakan sistem AI yang kemampuan dan dampak jangka panjangnya masih menjadi bahan perdebatan.
Di sinilah Great Filter berubah dari spekulasi kosmologis menjadi cermin peradaban. Mungkin pertanyaan sebenarnya bukan: “Apakah alien akan datang?” Tetapi: “Apakah sebuah peradaban yang menjadi sangat cerdas juga mampu menjadi cukup bijaksana untuk bertahan hidup?”
Itu persoalan yang jauh lebih dalam. Sebab kecerdasan memberi kita kekuatan untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya mustahil. Tetapi kekuatan tanpa kemampuan mengendalikan diri dapat berubah menjadi ancaman.
Apakah kita sudah melewati Great Filter?
Kita belum tahu. Dan sampai sekarang, tidak ada bukti ilmiah yang memungkinkan kita menentukan di mana Great Filter berada. NASA sendiri menegaskan bahwa pencarian kehidupan di luar Bumi masih berada pada tahap awal dan bahwa kita masih memiliki jauh lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Tetapi ada satu cara menarik untuk memandangnya. Mungkin Great Filter bukan sebuah peristiwa tunggal. Mungkin ia adalah serangkaian ujian. Setiap kali sebuah peradaban memperoleh teknologi baru, muncul pula risiko baru.
Api memberi manusia kemampuan memasak dan menghangatkan diri, tetapi juga memungkinkan kehancuran. Energi nuklir dapat menyediakan listrik, tetapi juga melahirkan senjata pemusnah massal. Bioteknologi dapat menyembuhkan penyakit, tetapi juga dapat disalahgunakan. AI dapat memperluas kemampuan manusia, tetapi juga dapat menciptakan risiko yang belum sepenuhnya kita pahami.
Jika demikian, Great Filter bukan tembok yang sekali kita lewati lalu selesai. Ia mungkin merupakan ujian berulang antara kemampuan mencipta dan kemampuan mengendalikan diri.
Dan barangkali itulah pertanyaan paling penting yang diwariskan oleh paradoks Fermi kepada kita. Alam semesta tidak memberi kita jawaban. Ia hanya diam.
Di tengah kesunyian miliaran bintang, kita sedang mencoba mendengarkan. Tetapi mungkin, sembari mencari suara dari peradaban lain, kita sebenarnya sedang mendengarkan masa depan kita sendiri.
Apakah manusia akan menjadi salah satu peradaban yang berhasil melewati Great Filter?
Atau justru, suatu hari nanti, ketika makhluk lain memandang ke arah tata surya kita, mereka akan bertanya:
“Pernahkah ada kehidupan cerdas di sana? Kalau pernah, ke mana mereka pergi?”
Itulah sisi paling gelap sekaligus paling menarik dari Great Filter.
Kesunyian alam semesta mungkin bukan tanda bahwa kita sendirian. Bisa jadi, itu adalah peringatan tentang betapa sulitnya sebuah peradaban untuk bertahan hidup. ***