Gaji Layak TNI-Polri dan PNS: Prabowo Bidik Pungli-Korupsi

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Gaji layak TNI-Polri dan PNS kembali jadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan upah yang cukup diperlukan agar aparat tidak memeras rakyat dan birokrat tidak korupsi. Di panggung Hari Koperasi 2026, Prabowo menyebut Indonesia kaya, tetapi kekayaan itu “dicuri” koruptor, sehingga negara harus berani menghentikan kebocoran.

Pernyataan Prabowo memukul tepat pada simpul masalah yang lama dibicarakan publik, yakni pungli, pemerasan, dan korupsi yang kerap muncul di layanan harian. Ia merangkai satu logika sederhana: gaji yang tidak layak menciptakan ruang pembenaran, lalu praktik kotor menjadi kebiasaan.

Dalam pidatonya, Prabowo juga memasukkan guru, dokter, dan perawat sebagai kelompok yang perlu penguatan kesejahteraan. Pesannya jelas: kualitas layanan publik sulit naik jika negara membiarkan pelayan publik hidup dalam ketidakpastian ekonomi.

Argumen “gaji layak menekan korupsi” terdengar masuk akal, tetapi tidak otomatis benar tanpa pengawasan dan penegakan hukum yang konsisten. Banyak studi tata kelola menunjukkan kenaikan gaji dapat menurunkan insentif korupsi kecil, namun korupsi besar sering digerakkan oleh peluang, jejaring, dan impunitas.

Prabowo mencontohkan kekayaan BUMN yang telah dikonsolidasikan mencapai 1 triliun dolar AS. Angka ini, jika dibaca sebagai sinyal kapasitas ekonomi negara, berhadapan langsung dengan pertanyaan publik: mengapa layanan dasar masih timpang dan kebocoran anggaran tetap berulang.

Di Indonesia, penguatan remunerasi pernah ditempuh lewat reformasi birokrasi dan tunjangan kinerja di berbagai instansi. Hasilnya campuran: sebagian layanan membaik, tetapi kasus korupsi tetap muncul, menandakan bahwa uang saja tidak memutus rantai penyalahgunaan wewenang.

Karena itu, kalimat Prabowo tentang “hentikan, kembalikan kekayaan rakyat” seharusnya dibaca sebagai paket kebijakan, bukan slogan moral. Paket itu menuntut audit yang kuat, digitalisasi layanan, perlindungan pelapor, serta hukuman yang konsisten agar biaya korupsi lebih mahal daripada manfaatnya.

Pernyataan Prabowo berani karena menyentuh sisi yang kerap dihindari: praktik pemerasan oleh oknum aparat adalah realitas yang dialami warga, bukan sekadar isu elitis. Namun, menyebut gaji sebagai kunci utama berisiko menggeser fokus dari akar yang lebih dalam, yakni budaya impunitas dan tata kelola yang memberi peluang.

Gaji layak memang soal keadilan, tetapi publik juga menuntut akuntabilitas yang setara. Jika negara menaikkan gaji tanpa menutup celah pungli, masyarakat bisa merasa membayar dua kali: lewat pajak dan lewat “biaya tak resmi”.

Ajakan Prabowo untuk “bersatu dan menghentikan pertikaian” terdengar menenangkan, tetapi persatuan tidak boleh berarti mematikan kritik. Dalam demokrasi, kritik adalah mekanisme peringatan dini, terutama ketika kebijakan menyangkut uang negara dan kewenangan aparat.

Pidato Prabowo tentang gaji layak TNI-Polri, PNS, serta tenaga layanan publik membuka ruang pembenahan yang konkret, dari kesejahteraan hingga disiplin institusi. Tetapi janji menutup pemerasan dan korupsi hanya akan dipercaya jika diikuti sistem pengawasan yang keras, transparansi anggaran, dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana dan tajam: apakah negara berani bukan hanya menaikkan gaji, tetapi juga memotong mata rantai kekuasaan yang membuat korupsi terasa aman. Jika keberanian itu ada, “kekayaan rakyat” tak lagi jadi slogan, melainkan kembali menjadi sekolah yang layak, layanan yang bersih, dan keadilan yang nyata.

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Juli 2026)