Puisi Indra Pirmana: Merindukan Hujan
Oleh Indra Pirmana
ORBITINDONESIA.COM - Penantian berbulan-bulan,
tetesan membasahi tanah
langit tampak biru yang menawan.
Penguasa alam mencekam
tanah retak, rumput kering kerontang
masyarakat berlomba menyusuri sumber air
demi melangsungkan hidup.
Empat bulan sudah hujan tak berbicara
lupa akan tanah yang tak lagi basah
Hujan…
Aku setia menanti di balik jendela
datanglah wahai rintik-rintik yang kunanti
sampai kau datang seperti senyum pelangi
setiap tetes air yang jatuh akan aku catat
membawa kembali bayangmu yang fana.
Angin malam berbisik pelan,
mengingatkan janji yang dulu tertanam.
Di dalam dingin yang merayap,
hatiku tetap memanggil namamu,
Hujan …
Mengharap datanglah seperti biasa.
basuh duka yang sudah retak.
Panas kali ini begitu berbeda
hampir di ujung September.
Hanya gumpalan angin dan mendung terus melanda
Hujan …
Aku masih di sini!
Merindukan kedatangan
atap dan daun rimba menjadi saksi
Hingga melintas di pikiranku.
Hujan …
Hanya pada kemaraulah, aku merindu
Datang menyegarkan setelah kemarau panjang.
Tak kuasa lagi melihat keringnya bumi penuh retak
tetesan airmu adalah doa yang kami nantikan demi kesejukan.
September 2026
Indra Pirmana adalah penulis yang berdomisili di Payung, Bangka Selatan.
Catatan: Puisi tersebut mengungkapkan keinginan akan datangnya hujan di tengah kemarau panjang, karena di penghujung September hujan masih takkunjung datang. Jadi masyarakat penuh harap, hujan sebagai sumber kehidupan akan mengakhiri kekeringan. Kemarau panjang menggambarkan masa sulit. ***