Harsh Goenka, Jepang, dan Debat Dress Code Kantor Saat Panas
ORBITINDONESIA.COM – Harsh Goenka menyulut debat dress code kantor setelah menyinggung Jepang yang mendorong pria memakai celana pendek saat suhu melonjak. Kalimatnya yang viral, “Japan has gone from ‘tie optional’ to ‘thigh optional’,” mengubah isu panas ekstrem menjadi perbincangan serius soal batas profesionalisme.
Gelombang panas kian sering muncul di kota-kota besar, dan kantor menjadi ruang paling lambat beradaptasi. Jepang, yang dikenal disiplin dalam etiket kerja, disebut mendorong opsi celana pendek demi kenyamanan.
Namun relaksasi pakaian kerja memunculkan friksi sosial yang tak terduga, termasuk istilah “sunehara” yang merujuk pada ketidaknyamanan melihat bulu kaki rekan kerja. Di titik ini, dress code bukan lagi soal kain, melainkan soal norma, kenyamanan, dan hak untuk tidak terganggu.
Goenka menambahkan bumbu lokal dengan pertanyaan apakah India perlu mengizinkan shorts, atau bahkan lungi dan dhoti. Candaan itu membuka isu yang lebih besar: apakah standar kantor modern masih relevan di iklim yang berubah cepat.
Di banyak negara, pelonggaran busana kantor biasanya terjadi saat krisis, entah pandemi atau cuaca ekstrem. Jepang pernah mempopulerkan kampanye “Cool Biz” sejak 2005 untuk mengurangi penggunaan AC melalui pakaian lebih ringan, menurut laporan pemerintah dan liputan media internasional saat itu.
Logikanya sederhana: suhu naik, konsumsi energi naik, produktivitas turun, dan biaya kesehatan meningkat. Kebijakan pakaian yang lebih adaptif sering diposisikan sebagai solusi murah dibanding menambah pendingin ruangan tanpa batas.
Namun komentar “sunehara” menunjukkan sisi lain: kenyamanan satu pihak dapat menjadi gangguan bagi pihak lain. Ini mengingatkan bahwa dress code adalah kontrak sosial, bukan sekadar pilihan pribadi.
Di kolom komentar, humor menjadi pintu masuk untuk membahas disiplin dan batas. Seorang pengguna menulis bahwa jika alasannya cuaca hari ini, besok bisa alasan lain, sampai “Batman costume” masuk kantor dan ruang kerja berubah seperti konvensi komik.
Komentar lain memilih jalan tengah dengan menyarankan “breathable, climate-appropriate business attire” tanpa mengorbankan profesionalisme. Ini menegaskan bahwa pilihan bukan hanya antara jas lengkap atau celana pendek, tetapi spektrum desain pakaian kerja yang lebih cerdas.
Ada pula suara praktis yang membedakan sektor kerja. Pengguna lain menekankan bahwa manufaktur punya isu keselamatan, sedangkan kantor IT lebih fleksibel karena risikonya lebih rendah.
Perdebatan ini juga menyentuh isu kesetaraan dan standar ganda. Jika pria boleh memakai shorts karena panas, apakah perempuan juga diberi ruang setara untuk memilih busana yang nyaman tanpa stigma.
Di India, usulan lungi atau dhoti memunculkan diskusi tentang identitas, kelas, dan regionalitas. Pakaian tradisional bisa sangat adaptif terhadap iklim, tetapi sering dianggap “tidak korporat” karena standar formal yang diwarisi dari budaya kolonial dan globalisasi.
Dalam konteks Asia yang makin panas, kantor yang kaku bisa menjadi simbol kegagalan manajemen risiko iklim. Dress code yang adaptif seharusnya dibaca sebagai strategi keberlanjutan dan kesehatan kerja, bukan sekadar kelonggaran gaya.
Humor Goenka efektif karena menelanjangi kemunafikan kecil di ruang kerja. Kita sering mengagungkan “profesionalisme” sebagai seragam, padahal profesionalisme sejati adalah hasil kerja, etika, dan cara memperlakukan orang lain.
Namun pelonggaran tanpa panduan juga bisa berubah menjadi kekacauan simbolik. Jika kantor gagal menetapkan batas, ruang kerja mudah menjadi arena pamer identitas yang saling bertabrakan, dan produktivitas justru jatuh karena konflik mikro.
Solusi yang masuk akal bukan “shorts untuk semua,” melainkan standar berbasis konteks. Kantor dapat menetapkan rentang busana yang rapi, aman, dan breathable, sambil memberi opsi regional seperti dhoti atau lungi bila memenuhi kriteria kerapian dan keselamatan.
Isu “sunehara” juga perlu dibaca sebagai sinyal bahwa budaya kerja harus belajar soal consent sosial. Kenyamanan termal tidak boleh mengabaikan kenyamanan visual dan batas kepantasan yang disepakati bersama.
Yang paling penting, perusahaan perlu jujur bahwa panas ekstrem bukan anomali sementara. Jika iklim berubah, maka “seragam” yang tak berubah justru menjadi kebijakan yang tidak ilmiah.
Viralnya komentar Harsh Goenka tentang Jepang dan celana pendek di kantor menunjukkan satu hal: dress code kantor kini sedang diuji oleh realitas panas ekstrem. Di antara tawa tentang “tie optional” dan “thigh optional,” terselip pertanyaan serius tentang kesehatan, energi, dan martabat di tempat kerja.
Mungkin masa depan bukan tentang shorts, dhoti, atau lungi sebagai simbol, melainkan tentang kebijakan yang manusiawi dan adaptif. Jika kantor ingin tetap relevan, ia harus berani menata ulang aturan yang tidak lagi sejalan dengan iklim, tanpa kehilangan rasa hormat antarpekerja. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)