Power100 dan Akses Modal: Narasi DEI di Industri Investasi

ORBITINDONESIA.COM – Power100 menjadi panggung rebutan narasi DEI dan akses modal bagi perempuan serta orang kulit berwarna di industri investasi alternatif. Di tengah gelombang kebijakan anti-DEI dan persepsi miring soal “kelayakan”, para pengelola dana datang untuk membuktikan satu hal: talenta ada, tetapi jalur menuju kapital sering dipersempit.

Pertemuan Power100 di Beverly Hills berlangsung di pinggir Milken Institute Global Conference, forum mahal dengan tiket mulai US$25.000. Sejak awal, Power100 diposisikan sebagai pintu akses bagi pemimpin keuangan yang tak selalu punya jalur masuk ke ruang-ruang elite.

Tahun ini nadanya berubah, lebih defensif sekaligus lebih strategis. Jacob Walthour, co-founder Power100 dan CEO Blueprint Capital, menyebut definisi “sukses” setahun terakhir dibelokkan secara “tidak hormat dan tidak jujur” terhadap kontribusi perempuan dan orang kulit berwarna.

Nama Presiden Donald Trump tidak disebut, tetapi bayang kebijakannya terasa. Pada pekan pertama kembali menjabat di 2025, Trump mengeluarkan serangkaian perintah eksekutif yang menargetkan inisiatif diversity, equity and inclusion (DEI) di lembaga federal dan bisnis swasta.

Industri alternative capital management masih didominasi laki-laki kulit putih, dan angka resmi memperlihatkan jurang yang keras. Laporan Government Accountability Office (GAO) 2025 mencatat perusahaan milik minoritas dan perempuan hanya mengelola 1,4% dari sekitar US$82 triliun aset kelolaan di AS.

Angka 1,4% bukan sekadar statistik, melainkan indikator desain pasar yang timpang. Jika kapital adalah oksigen inovasi, maka sebagian besar oksigen itu berhenti di paru-paru jaringan lama.

Shundrawn Thomas dari Copia Group datang untuk pertama kali dengan misi membangun jejaring, sekaligus melawan tren yang ia anggap mengkhawatirkan. Ia menyorot narasi bahwa peluang dan modal “mengalir” ke kelompok beragam yang “tidak qualified”, padahal di saat perdebatan itu, modal ke emerging dan diverse managers justru turun drastis.

Kalimat Thomas, “Superman is not coming,” terdengar seperti diagnosis sekaligus instruksi. Ia menegaskan perubahan tidak akan lahir dari belas kasihan sistem, melainkan dari konsolidasi kekuatan dan strategi kolektif pelaku yang terdampak.

Walthour menyebut “akhir DEI” sebagai satu dari dua tren makro yang mengguncang sektor ini, bersama “revolusi AI” yang mulai terbentuk. Ini penting, karena AI berpotensi mempercepat konsentrasi modal pada pemain besar yang punya data, infrastruktur, dan reputasi—tiga hal yang kerap lebih sulit diakses manajer baru.

Di sisi lain, Power100 mengklaim membangun “jembatan” konkret melalui visibilitas dan pertemuan kurasi. Walthour memperkirakan peserta tahun ini mewakili kapasitas alokasi sekitar US$24 triliun, naik dari lebih dari US$15 triliun pada 2025.

Di meja yang sama hadir David Rubenstein dari Carlyle Group dan mantan Wakil Presiden Kamala Harris. Harris menolak asumsi bahwa semua orang punya “kapasitas yang sama untuk bersaing”, dan menilai janji kapitalisme hanya bisa ditepati jika disparitas yang membesar itu diatasi.

Roger Ferguson, mantan vice chair The Fed dan honoree Power100 2026, menempatkan isu ini sebagai soal pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, bila kapital tidak mengalir ke pemilik ide terbaik “apa pun rupa dan gendernya”, ide bagus akan menganggur dan ekonomi kehilangan laju.

Jasmine Richards dari Cambridge Associates menyebut nilai utama Power100 ada pada akses dan transaksi. Ia menekankan ruang ini “sangat curated” sehingga relasi bisa dibangun, tetapi juga “deal” bisa diselesaikan, sesuatu yang langka dalam ekosistem yang sering menutup pintu tanpa terlihat.

Tahun ini Power100 juga menambah fokus pada firm kecil dan peserta muda. Austin Clements dari Slauson & Co menilai suara baru yang peka pada gelombang inovasi dan teknologi komunikasi akan menjadi pemimpin investasi masa depan.

Rebutan narasi tentang DEI sebenarnya adalah rebutan legitimasi, dan legitimasi adalah mata uang utama di dunia investasi. Ketika publik diyakinkan bahwa manajer beragam “naik karena kebijakan”, maka evaluasi kinerja akan selalu dibaca dengan kecurigaan, sekeras apa pun datanya.

Namun, kelemahan debat DEI selama ini adalah terlalu sering berhenti pada moralitas, bukan mekanisme pasar. Padahal pasar modal tidak netral, karena jaringan, reputasi, dan “track record” adalah aset yang diwariskan melalui akses, bukan semata dibangun dari merit.

Kalimat yang sering terdengar—“Saya mau investasi pada perempuan dan orang kulit berwarna, tapi tidak tahu mencarinya di mana”—adalah pengakuan tentang kemalasan struktural. Power100 mencoba memotong alasan itu dengan membuat katalog sosial: mempertemukan pemilik modal dan pengelola yang selama ini dipinggirkan.

Tetapi visibilitas saja tidak cukup bila insentif institusional tak berubah. Jika lembaga keuangan menutup program DEI karena tekanan politik, mereka harus menjelaskan bagaimana memastikan diversifikasi manajer tanpa alat kebijakan, tanpa target, dan tanpa transparansi.

Di sinilah AI menjadi paradoks: ia bisa membuka peluang efisiensi seleksi, tetapi juga bisa mengunci bias historis bila data masa lalu dipakai sebagai kompas tunggal. Jika model dilatih dari portofolio yang sudah timpang, maka “objektivitas” AI hanya akan mengulang ketimpangan dengan kecepatan lebih tinggi.

Karena itu, strategi paling realistis adalah membangun jalur ganda: memperluas akses jaringan sekaligus menuntut standar pelaporan yang membuat keputusan alokasi lebih bisa diaudit. Bila kapitalisme ingin tetap kredibel, ia harus sanggup menjawab pertanyaan sederhana: siapa yang diberi kesempatan pertama, dan mengapa.

Power100 menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kemunduran DEI tidak selalu berupa slogan, melainkan desain ruang, daftar hadir, dan transaksi yang benar-benar terjadi. Di tengah angka 1,4% dari US$82 triliun, klaim tentang “pasar yang adil” terdengar lebih seperti harapan daripada realitas.

Namun harapan bisa menjadi rencana bila disertai disiplin dan ukuran yang jelas. Jika para pemilik modal memang percaya pada “best ideas”, maka mereka wajib membuktikannya dengan membuka jalur uji yang setara, bukan hanya mengulang rute lama.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukan apakah DEI “masih perlu”, melainkan siapa yang diuntungkan ketika akses dipersempit dan narasi dipelintir. Dan bila “Superman tidak datang”, barangkali inilah saatnya ekosistem investasi membuktikan bahwa keberanian institusional bisa lebih kuat daripada politik sesaat. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juni 2026)