Buku "Memburu Muhammad": Bacalah Sebelum Menghakimi

Feby Indirani.

Feby Indirani.

Review Buku

Oleh Alexander Sudrajat

ORBITINDONESIA.COM - Beberapa tahun silam, ketika berkunjung ke Istanbul, Turki, seorang pemandu wisata terkagum-kagum sekaligus heran melihat rombongan kami. Ada belasan pria Indonesia yang tengah menyusuri Selat Bhosporus namanya diawali Muhammad atau Ahmad.

Menurut dia, di lingkungannya tidak banyak orang tua yang berani memberikan nama Muhammad kepada anak lelaki mereka. Alasannya menarik. Akhlak Rasulullah begitu mulia sehingga mereka khawatir anaknya kelak tidak mampu membawa nama sebesar itu dengan perilaku yang sepadan.

Saya tidak tahu apakah pandangan tersebut berlaku umum di Turki atau sekadar pengalaman sosial sang pemandu. Namun, kalimatnya membekas.

Muhammad bukan sekadar nama. Di dalamnya melekat keteladanan yang begitu tinggi sehingga menyandang nama itu, dalam pandangan sang pemandu, sekaligus berarti memikul harapan.

Pengalaman di Istanbul itu kembali terlintas ketika beberapa hari terakhir buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani ramai dipersoalkan. Semula buku terbitan 2020 itu akan dibahas dalam Pekan Sastra Bogor, tetapi batal akibat tekanan dan ancaman sebuah ormas.

Polemik kemudian melebar. Sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan ikut bersuara. Bahkan muncul desakan agar aparat penegak hukum turun tangan.

Saya membeli kumpulan cerpen itu di sebuah lapak di Depok dengan diskon 50% beberapa waktu lalu. Selain faktor diskon, judul buku yang berisi 19 cerpen itu cukup menggoda. Isinya sarat dengan satire terkait keseharian masyarakat kita.

Dalam “Memburu Muhammad”, Feby menghidupkan sosok Abu Jahal ke zaman modern. Musuh Nabi tersebut mencari Muhammad untuk membalas dendam.

Ia bertemu banyak orang bernama Muhammad: ada politikus, koruptor, seniman, dan beragam manusia zaman sekarang. Namun, tak satu pun merupakan Muhammad yang ia cari. Muhammad yang dikenalnya dahulu tidak tergila-gila jabatan, bergelar al-Amin karena kejujurannya, dan bukan koruptor.

Satire itu membawa pembaca pada pertanyaan yang jauh lebih mengusik: begitu mudahkah kita memakai nama Muhammad, mengaku mencintai Muhammad, bahkan merasa sedang membela Muhammad, sementara meneladani akhlaknya justru jauh lebih berat?

Dalam cerpen lainnya, “Rahasia Rumah Kami”, Feby mengangkat kebiasaan bergibah dengan imajinasi yang jauh lebih ekstrem. Dua anak kecil digambarkan terheran-heran melihat orang-orang dewasa di sekitar mereka gemar memakan bangkai saudara mereka sendiri.

Feby mengambil perumpamaan dalam Al-Qur'an bahwa menggunjing sesama seperti memakan daging saudaranya yang telah mati. Ia menghidupkannya secara harfiah dalam dunia fiksi.

Karena itu, membaca karya-karyanya tidak cukup hanya dengan melihat judul, tokoh, atau satu-dua kalimat yang dicabut dari konteks cerita.

Prof Nadirsyah Hosen, yang memberikan pengantar buku tersebut, menangkap kritik Feby terutama sebagai kritik ke dalam: tentang jauhnya jarak antara pengakuan mencintai Nabi dan kesanggupan meneladani akhlaknya. Ia juga mengingatkan kekeliruan mendasar bila ucapan tokoh fiksi serta-merta dianggap sebagai pandangan pengarang.

Pada akhir 1960-an, cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin yang dimuat majalah Sastra memicu kontroversi karena menggunakan imajinasi yang bersentuhan dengan simbol agama.

H.B. Jassin sebagai pemimpin majalah akhirnya harus berurusan dengan pengadilan dan dijatuhi hukuman percobaan. Semoga sejarah tidak perlu berulang dengan judul buku dan nama pengarang yang berbeda.

Polisi tentu berkewajiban mendalami laporan apabila ada pihak yang merasa dirugikan. Namun, justru karena persoalan ini berada di persimpangan antara karya sastra, kebebasan berekspresi, dan sensitivitas keagamaan, kecermatan mutlak diperlukan. Buku yang dipersoalkan harus dibaca secara utuh dan konteksnya mesti dipahami.

Jangan hanya mendengar mereka yang merasa tersinggung tanpa pernah membaca. Dengarkan sastrawan dan kritikus sastra. Dengarkan ahli bahasa dan hukum, serta ahli agama dengan spektrum pandangan yang beragam.

Feby sendiri menyatakan terbuka terhadap dialog dan tabayun. Ruang seperti itulah yang semestinya diperbesar. Baca bukunya, dialogkan isinya, perdebatkan tafsirnya. Bila tidak sepakat, bantah dengan argumentasi.

Sastra tentu tidak kebal dari kritik. Namun, kritik yang sehat mensyaratkan sesuatu yang sangat elementer: mengetahui terlebih dahulu apa yang sedang dikritik. Wahyu pertama Al-Qur'an dimulai dengan sebuah perintah yang sangat terang: Iqra. Bacalah. Islam juga mengajarkan pentingnya tabayun, cek dan ricek sebelum mencaci dan menghujat. ***