Self-Care Perempuan dan Industri Wellness: Antara Perlawanan dan Privilege
ORBITINDONESIA.COM – Self-care perempuan kini dipuji sebagai tanda sadar diri, tetapi industri wellness dan spa ikut menentukan standar “merawat diri” yang mahal dan sempit. Di tengah tren kesehatan mental dan self-love, pertanyaannya tajam: apakah self-care membebaskan, atau justru memindahkan beban sosial menjadi urusan individu?
Dalam banyak keluarga, perempuan lama diajari mencintai lewat pengorbanan yang nyaris tak bersisa. Kisah “makan terakhir” atau bekerja lebih dari dua puluh jam untuk keluarga besar sering dirayakan sebagai kesetiaan, bukan ketidakadilan.
Ketika lebih banyak perempuan bekerja dan berpenghasilan, beban tidak otomatis berkurang. Banyak yang tetap memikul kerja domestik, mengasuh anak, serta merawat orang tua kandung dan mertua dalam satu tarikan napas.
Akibatnya, waktu untuk diri sendiri menjadi barang mewah. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian perempuan merasa mereka tidak pantas mendapatkannya, meski tubuh dan pikiran sudah memberi tanda lelah.
Di ruang sosial seperti itu, perempuan yang membaca buku, bepergian, atau sekadar merawat kulit sering dicap egois. Label ini bekerja seperti pagar tak terlihat yang menjaga patriarki tetap rapi. Ia menertibkan perempuan agar tetap melayani.
Di sisi lain, generasi muda mulai menggeser definisi self-care menjadi sesuatu yang lebih praktis dan berani. Mereka mengambil cuti kesehatan mental, meninggalkan relasi toksik, belajar keterampilan baru, atau menyelipkan waktu ke salon di sela kerja dan memasak.
Perubahan ini juga tampak dalam cara mereka memandang relasi romantis. Sebagian memilih komunitas pertemanan dan kelompok minat, karena menyadari relasi yang menuntut “care” intens sering menghabiskan waktu dan energi perempuan.
Di tempat kerja, penolakan terhadap budaya “the show must go on” semakin nyata. Resistensi itu bukan sekadar manja, melainkan koreksi terhadap sistem yang mengutamakan profit dan mengorbankan kesehatan pekerja.
Gerakan #MeToo dapat dibaca sebagai bentuk self-care kolektif yang meledak lewat kemarahan. Ia menolak normalisasi kekerasan dan pelecehan yang selama ini disuruh ditelan sebagai “risiko” menjadi perempuan.
Namun, arus besar lain ikut menunggangi momen ini, yakni komersialisasi self-care. Industri wellness, retreat, suplemen, dan “ramuan awet muda” menjual ketakutan perempuan sebagai peluang pasar.
Pasar membingkai penderitaan sebagai masalah personal yang terpisah-pisah. Perempuan didorong percaya bahwa solusi ada di keranjang belanja, bukan pada perubahan struktur kerja, pembagian beban rumah tangga, atau layanan publik.
Tren ini sejalan dengan kritik akademik terhadap neoliberalisme yang memprivatisasi risiko hidup. Dalam logika itu, kesehatan mental dan fisik menjadi proyek individu, sementara institusi publik perlahan mundur dari tanggung jawab.
Di Indonesia, sinyalnya terlihat dalam pertumbuhan industri kecantikan dan wellness yang agresif di kota-kota besar. Data Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia didorong kuat oleh konsumsi rumah tangga, dan belanja gaya hidup menjadi salah satu pendorongnya, sehingga wellness mudah dipaketkan sebagai kebutuhan baru.
Masalahnya, akses terhadap self-care tidak merata. Banyak perempuan pekerja informal dan pekerja rumah tangga memahami pentingnya merawat diri, tetapi waktu dan sumber daya untuk melakukannya tidak tersedia.
Di titik ini, kontradiksi muncul di rumah-rumah kelas menengah. Ada yang menikmati “salon at home” pada hari libur, sementara pekerja domestik mereka tidak mendapat libur mingguan yang layak.
Krisis yang lebih besar mengintai ketika propaganda self-care dipakai untuk melemahkan argumen social care. Seorang perawat muda dalam artikel itu mempertanyakan apakah dorongan self-managed care akan menjadi dalih agar negara mengurangi layanan kesehatan publik dan menyerahkan warga ke pemain swasta berbiaya tinggi.
Garis pemisah self-care dan self-indulgence tidak selalu jelas, tetapi ia bisa dilacak pada politik. Audre Lorde menulis, “Caring for myself is not self-indulgence, it is self-preservation, and that is an act of political warfare.”
Kalimat itu mengunci makna self-care sebagai perlawanan, bukan kemewahan. Ia lahir dari pengalaman tubuh yang diserang penyakit dan sistem yang menekan, sehingga merawat diri menjadi tindakan bertahan hidup.
Namun Lorde juga menolak penyembuhan yang terputus dari komunitas. Ia percaya “without community there is no liberation,” sehingga self-care yang membebaskan harus menautkan diri pada solidaritas.
Di sinilah kritik paling relevan bagi kelas menengah urban yang gemar mengutip #iamenough. Jika “aku cukup” berubah menjadi pulau individualisme, ia mudah membuat orang makin cemas, makin sepi, dan makin konsumtif.
Self-care yang politis justru menuntut kita mendengar mereka yang paling rentan. Ia meminta kita mengubah cara memperlakukan pekerja domestik, pekerja kesehatan, buruh, serta mereka yang hidupnya disusun oleh upah rendah dan jam kerja panjang.
Ia juga menuntut keberanian keluar dari zona nyaman. Jika self-care dipakai untuk menghindari konflik sosial dan pengalaman yang menantang, ia menjadi dalih untuk tidak peduli.
Self-care perempuan bisa menjadi pintu pembebasan, tetapi juga bisa menjadi etalase privilege. Ia membebaskan ketika menjadi strategi bertahan hidup dan bagian dari perawatan kolektif, bukan sekadar paket layanan premium.
Pertanyaan akhirnya bukan “produk apa yang harus dibeli agar tenang,” melainkan “struktur apa yang harus diubah agar kita tidak terus sakit.” Jika self-care membuat kita lebih peka pada ketidakadilan di sekitar, mungkin itulah tanda ia masih setia pada makna perlawanan.
(Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)