Fiqih Aktual AI untuk Dakwah Digital di Safari Subuh Medan
ORBITINDONESIA.COM – Fiqih aktual AI untuk dakwah digital kini dibahas dari mimbar Safari Subuh di Medan Denai. Penyuluh KUA menegaskan AI boleh dipakai untuk kemaslahatan, tetapi wajib dituntun tabayyun agar tak jadi mesin hoaks.
Di Masjid Al-Fajar, Medan Denai, Ahad 24 Mei 2026, penyuluh agama KUA membawa tema yang jarang diangkat dalam pengajian subuh. Tema itu “Bijak Menggunakan AI untuk Dakwah dan Kehidupan Digital”, yang menautkan fiqih dengan kebiasaan warga di gawai.
Konteksnya jelas karena arus konten keagamaan di media sosial makin deras, tetapi kualitasnya tak selalu teruji. Di saat yang sama, teknologi generatif memudahkan siapa pun membuat teks, gambar, bahkan suara yang tampak meyakinkan.
Peringatan soal pemalsuan suara dan gambar bukan sekadar teori, karena praktik deepfake dan misinformasi terus meningkat di ruang publik. Laporan World Economic Forum menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global teratas untuk periode 2024–2026.
Tausiyah Ustadz Khoiruz Zaman menegaskan posisi dasar yang moderat: AI sebagai alat itu mubah selama tujuannya baik dan manfaatnya nyata. Ia menyebut AI bisa membantu pembuatan materi dakwah, penyebaran ilmu, dan dukungan pembelajaran Islam di era digital.
Namun ia menancapkan pagar etika yang tegas, yakni larangan memproduksi fitnah, hoaks, dan informasi menyesatkan. Pesan ini penting karena AI mempercepat produksi konten, tetapi tidak otomatis memperbaiki niat, akurasi, dan adab.
Di titik inilah tabayyun menjadi kata kunci yang terasa aktual, bukan jargon. Prinsip verifikasi selaras dengan perintah Al-Qur’an untuk meneliti kabar dari sumber yang tidak jelas agar tidak menimbulkan penyesalan sosial.
Dalam praktiknya, tabayyun digital berarti memeriksa sumber primer, membandingkan beberapa rujukan, dan menahan diri dari tombol “share” yang impulsif. Ini juga berarti membedakan nasihat agama yang bersifat ijtihadi dengan dalil yang qath’i, yang sering disamarkan oleh potongan video pendek.
Khoiruz Zaman juga menekankan AI tidak dapat menggantikan ulama, guru, dan majelis ilmu. Pernyataan ini menegur kecenderungan baru ketika orang lebih percaya ringkasan mesin daripada proses talaqqi, sanad ilmu, dan dialog yang mematangkan pemahaman.
Jika AI dipakai untuk dakwah, pertanyaan fiqihnya bukan hanya “boleh atau tidak”, tetapi “amanah atau tidak”. Etika amanah menuntut transparansi, misalnya menyebut bahwa materi dibantu AI, serta memastikan kutipan dalil tidak dipelintir.
Sesi tanya jawab menggeser diskusi dari AI ke tata kelola masjid, ketika jamaah menanyakan hukum penggunaan kas masjid untuk mendukung pelaksanaan qurban. Jawaban penyuluh menekankan kebolehan selama untuk kemakmuran masjid dan memberi manfaat jamaah, yang mengisyaratkan pentingnya akuntabilitas.
Di sinilah benang merahnya tampak: baik AI maupun kas masjid sama-sama “alat” yang bisa menumbuhkan maslahat atau memicu mudarat. Keduanya menuntut tata kelola, niat, dan pengawasan sosial agar tidak keluar dari tujuan ibadah.
Safari Subuh ini menunjukkan lembaga keagamaan mulai membaca perubahan zaman tanpa panik, tetapi juga tanpa permisif. Sikap “boleh dengan syarat” terdengar sederhana, namun justru paling realistis untuk masyarakat yang sudah hidup di ekosistem digital.
Meski begitu, ada tantangan yang belum selesai: literasi digital jamaah sering tertinggal dibanding kecepatan teknologi. Tanpa panduan praktis, pesan tabayyun mudah berhenti sebagai slogan, sementara hoaks terus beredar lewat grup keluarga dan kanal anonim.
Karena itu, dakwah tentang AI seharusnya naik kelas dari sekadar peringatan menjadi keterampilan. Masjid bisa mengajarkan langkah verifikasi, etika mengutip, dan cara mengenali konten manipulatif, agar jamaah punya “fiqih bermedia” yang operasional.
Di sisi lain, para dai juga perlu disiplin metodologis saat memakai AI. Jika AI dipakai merangkum kitab atau menyusun naskah, maka proses tashih oleh guru yang kompeten harus menjadi standar, bukan pilihan.
Keberanian membahas AI di mimbar subuh patut dibaca sebagai sinyal bahwa agama tidak alergi pada inovasi. Namun agama juga menolak menjadi stempel otomatis bagi teknologi yang belum diuji dampak sosialnya.
Safari Subuh di Medan Denai menegaskan satu pelajaran: teknologi boleh maju, tetapi akhlak informasi tidak boleh mundur. AI dapat menjadi kendaraan dakwah, tetapi arah setirnya tetap tabayyun, amanah, dan rujukan kepada guru.
Pertanyaannya kini berpindah kepada kita sebagai pengguna: apakah kita memakai AI untuk memperluas manfaat atau sekadar mempercepat sensasi. Di era ketika suara bisa dipalsukan dan gambar bisa direkayasa, mungkin ibadah paling sulit adalah menahan diri sebelum menyebarkan kabar.
(Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)