Satrio Arismunandar: Trust Terhadap Media Indonesia Turun, Tetapi CNN Indonesia dan Kompas Masih Pegang 61 Persen Kepercayaan Publik
Oleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Ada paradoks menarik dalam wajah media Indonesia pada 2026. Di satu sisi, kepercayaan masyarakat terhadap berita secara umum terus menurun. Namun di sisi lain, sejumlah merek media justru masih memiliki tingkat kepercayaan yang relatif tinggi di mata publik.
Data terbaru Reuters Institute for the Study of Journalism melalui Digital News Report 2026 menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan di Indonesia turun menjadi 32 persen. Setahun sebelumnya angkanya masih 36 persen. Dengan demikian, hanya sekitar sepertiga responden Indonesia yang mengatakan mereka mempercayai berita secara umum.
Namun ketika pertanyaannya digeser dari “apakah Anda percaya berita?” menjadi “seberapa dapat dipercaya berita dari merek media tertentu?”, gambarnya berubah cukup drastis.
Dalam data yang dirangkum Statista berdasarkan survei Reuters Institute dan YouGov, CNN Indonesia dan Kompas sama-sama memperoleh angka trust sebesar 61 persen. Berikutnya SCTV/Liputan6 sebesar 59 persen, TVOne dan TVRI masing-masing 58 persen, Detik.com 57 persen, RCTI 56 persen, dan Tempo 53 persen.
Di bawahnya terdapat berita televisi lokal dengan 52 persen, Tribunnews 50 persen, Merdeka.com 49 persen, Sindonews.com 48 persen, Jawa Pos dan Kumparan.com masing-masing 47 persen, serta Suara.com 46 persen.
Sekilas, angka-angka tersebut seperti menunjukkan sebuah perlombaan: siapa yang menjadi media paling dipercaya masyarakat Indonesia? Tetapi sebenarnya bukan itu cara yang tepat membaca data Reuters Institute.
Kepercayaan terhadap berita tidak sama dengan kepercayaan terhadap merek media
Reuters Institute memberikan catatan penting mengenai metodologi pengukuran ini. Responden diminta memberikan skor 0 sampai 10 mengenai seberapa dapat dipercaya berita dari sejumlah merek media yang mereka kenal. Skor 6–10 kemudian dikategorikan sebagai trust, sedangkan skor 0–4 sebagai don't trust. Skor 5 masuk kategori netral.
Dengan demikian, angka 61 persen untuk CNN Indonesia dan Kompas berarti 61 persen responden yang menilai merek tersebut memberikan skor dalam rentang 6–10.
Itu bukan berarti 61 persen seluruh penduduk Indonesia menyatakan CNN Indonesia atau Kompas sebagai media yang paling mereka percaya. Ini juga bukan penilaian objektif mengenai kualitas jurnalistik masing-masing media.
Reuters Institute secara eksplisit mengingatkan bahwa skor tersebut merupakan penilaian subjektif responden, bukan pengukuran objektif mengenai tingkat keterpercayaan suatu media. Selain itu, merek yang ditanyakan dalam survei hanyalah sekitar 15 merek yang dipilih secara strategis, bukan seluruh media yang ada di Indonesia.
Karena itu, data tersebut lebih tepat dibaca sebagai peta persepsi kepercayaan terhadap sejumlah merek media yang banyak digunakan, bukan sebagai daftar definitif media paling kredibel di Indonesia.
CNN Indonesia dan Kompas masih memiliki modal kepercayaan
Meski demikian, angka 61 persen tetap menarik. CNN Indonesia dan Kompas berada pada angka yang sama. Di belakangnya terdapat SCTV/Liputan6 dengan 59 persen, TVOne dan TVRI dengan 58 persen, serta Detik.com dengan 57 persen.
Yang menarik, sejumlah merek di papan atas itu berasal dari media televisi atau memiliki akar kuat dalam ekosistem media tradisional. Ini menunjukkan bahwa di tengah ledakan media sosial, televisi dan media arus utama belum kehilangan seluruh modal kepercayaannya.
Bahkan TVRI, sebagai lembaga penyiaran publik yang telah berusia puluhan tahun, masih mencatat angka 58 persen. SCTV/Liputan6 mencapai 59 persen, sementara RCTI 56 persen. Fenomena ini penting karena cara masyarakat memperoleh berita telah berubah sangat cepat.
Reuters Institute mencatat bahwa 64 persen responden Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial, sementara WhatsApp digunakan untuk mendapatkan berita oleh 56 persen responden. Indonesia termasuk pasar yang sangat kuat dalam penggunaan platform digital untuk mengakses informasi.
Dengan kata lain, orang Indonesia semakin sering menemukan berita di platform, tetapi ketika diminta menilai merek media tertentu, merek-merek yang telah lama dikenal masih memiliki posisi yang cukup kuat.
Dari televisi ke platform: tempat berita ditemukan berubah
Di sinilah persoalan media Indonesia menjadi lebih kompleks. Dulu, orang memilih saluran berita. Sekarang, semakin banyak orang memilih platform.
Seseorang mungkin tidak sengaja membuka situs sebuah media untuk mencari berita. Ia menemukan potongan berita tersebut di WhatsApp, TikTok, YouTube, Facebook, Instagram, atau platform lainnya. Berita kemudian dikonsumsi dalam bentuk video pendek, tautan, potongan pernyataan, komentar, atau konten yang sudah diberi interpretasi oleh pengguna lain.
Reuters Institute menyebut perubahan ini sebagai bagian dari proses platformisation konsumsi berita. Secara global pada 2026, media sosial dan jaringan video untuk pertama kalinya lebih populer sebagai sumber berita dibanding televisi serta situs dan aplikasi berita milik organisasi media.
Indonesia berada cukup jauh di depan dalam perubahan tersebut. Reuters Institute mencatat bahwa penggunaan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama berita meningkat delapan poin persentase di Indonesia menjadi 48 persen pada 2026.
Namun perpindahan tempat konsumsi berita itu tidak otomatis berarti hilangnya kepercayaan kepada media lama. Justru muncul semacam pemisahan: platform menjadi tempat orang menemukan berita, sementara merek media menjadi salah satu penanda bagi publik untuk menilai dari mana berita itu berasal.
Mengapa kepercayaan secara umum justru turun?
Pertanyaan yang lebih besar kemudian muncul: kalau beberapa merek media masih dipercaya lebih dari 50 persen, mengapa kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan justru jatuh dari 36 persen menjadi 32 persen?
Reuters Institute memberikan satu petunjuk penting: kepercayaan terhadap merek individual relatif lebih bertahan dibandingkan kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan. Artinya, publik mungkin tidak sepenuhnya kehilangan kepercayaan kepada semua organisasi media. Yang melemah adalah kepercayaan terhadap lingkungan informasi secara lebih luas.
Lingkungan tersebut kini jauh lebih berisik. Berita profesional bercampur dengan komentar pribadi, konten influencer, potongan video, propaganda, konten partisan, informasi yang belum diverifikasi, hingga materi yang diproduksi atau dimodifikasi menggunakan kecerdasan buatan.
Reuters Institute juga mencatat persoalan “homeless media” di Indonesia, yakni situs atau akun baru di media sosial yang mengambil, menyalin, atau mengubah berita dari media lain, terkadang sampai membuat isinya menjadi sensasional dan tidak lagi akurat. Bagi pembaca, situasi semacam ini dapat membuat batas antara media jurnalistik yang sah dan sumber informasi yang tidak jelas semakin kabur.
Maka tidak mengherankan jika orang dapat mengatakan, “Saya tidak terlalu percaya berita,” tetapi pada saat yang sama tetap mengatakan, “Saya percaya Kompas,” atau “Saya percaya CNN Indonesia.” Keduanya bukan pernyataan yang bertentangan.
Media tidak cukup hanya memproduksi lebih banyak berita
Ada pelajaran penting bagi industri media dari angka-angka tersebut. Masalah media hari ini bukan semata-mata bagaimana menghasilkan lebih banyak konten. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan identitas, kredibilitas, transparansi, dan hubungan kepercayaan dengan audiens di tengah banjir informasi.
Reuters Institute mencatat bahwa secara global kepercayaan terhadap berita turun pada 29 dari 48 pasar yang diteliti pada 2026. Tingkat kepercayaan global turun menjadi 37 persen, angka terendah sejak pengukuran tersebut dimulai pada 2015. Pada saat yang sama, kepercayaan terhadap sejumlah merek berita yang banyak digunakan relatif lebih bertahan.
Indonesia bahkan berada di bawah rata-rata global tersebut, dengan tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan sebesar 32 persen.
Namun angka CNN Indonesia dan Kompas sebesar 61 persen memperlihatkan bahwa modal kepercayaan belum hilang. Justru modal itulah yang menjadi aset paling penting bagi organisasi media ketika publik semakin sulit membedakan antara berita, opini, propaganda, konten influencer, dan informasi buatan AI.
Pada akhirnya, persoalan media Indonesia pada 2026 bukan sekadar siapa yang berada di urutan pertama atau terakhir dalam grafik kepercayaan. Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana media mempertahankan kepercayaan publik ketika masyarakat tidak lagi hidup dalam satu ekosistem berita yang sama.
Dulu, publik memilih koran atau televisi. Sekarang publik hidup dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Mereka bisa menerima berita dari televisi pagi hari, WhatsApp siang hari, TikTok sore hari, YouTube malam hari, dan bertanya kepada AI sebelum tidur. Dalam dunia seperti itu, kepercayaan terhadap sebuah merek media menjadi semakin berharga—sekaligus semakin mudah hilang.
Angka 61 persen yang diperoleh CNN Indonesia dan Kompas karena itu bukan sekadar angka dalam grafik. Ia adalah gambaran bahwa di tengah menurunnya kepercayaan terhadap berita secara umum, masih ada organisasi media yang memiliki modal kepercayaan cukup kuat.
Tantangannya sekarang bukan hanya bagaimana memperoleh kepercayaan tersebut. Melainkan bagaimana mempertahankannya.
Depok, 27 September 2026
*Satrio Arismunandar, jurnalis di Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-2001), Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012), dan beberapa media lain. WA: 081286299061. ***