Syaefudin Simon: Bila Pejuang Demokrasi Dilabrak Tongseng, Ambruk di IGD
Oleh Syaefudin Simon, Cerpenis Satupena
ORBITINDONESIA.COM - Orde Baru tidak sanggup merobohkannya. Delapan tahun di balik jeruji, juga tidak. Yang berhasil menjatuhkan Bambang Isti Nugroho ternyata semangkuk tongseng, kuah santan kental dengan daging kambing yang menggoda iman siapa pun yang gula darahnya sedang tidak waras.
Selasa lalu, 29 September 2026, aktivis senior yang akrab disapa Isti itu ambruk dan digotong ke Instalasi Gawat Darurat. Kini ia dirawat di RS Antam, Jakarta. Kadar gula darahnya 530. Angka itu lebih cocok jadi nomor undian arisan RT ketimbang hasil laboratorium.
Isti mengaku, sebelum roboh, ia bersantap tongseng. Jadi, dalam bahasa Yogya, ia "dipukul tongseng". Rezim yang menuduhnya subversif pun mungkin iri karena kalah efektif.
Ironi memang suka bercanda dengan para pejuang. Isti tentu lebih bergengsi kalau tumbang gara-gara gas air mata atau intimidasi intel melati. Tapi sejarah menulisnya begini: pejuang demokrasi tersungkur oleh "kambing". Ada yang bilang ini bukti bahwa tongseng adalah satu-satunya kekuatan yang tak bisa dilobi.
Dari Jongos Lab Kimia Fisika
Saya mengenal Isti di Yogyakarta pada 1980-an. Saat itu saya praktik di laboratorium kimia fisika UGM, dan Isti bekerja di sana sebagai jongos, pesuruh lab yang mengurus botol, preparat, dan segala urusan remeh temeh yang tak disebut dalam buku teks.
Jangan bayangkan bos laboratorium, Prof. Dr. Hardjono yang mobilnya parkir di tempat khusus yang teduh. Bayangkan pemuda kurus yang tahu persis di rak mana pipet disembunyikan, tapi lebih paham arah angin politik ketimbang para asisten dosen dan profesor.
Siapa sangka jongos itu kelak berurusan dengan negara. Siapa sangka pula puluhan tahun kemudian ia mementaskan lakon berjudul The Jongos di teater yang ia asuh. Dari jongos lab ke jongos panggung, karier yang konsisten. Hanya Isti yang bisa mengubah nasib sebagai pesuruh menjadi materi pertunjukan.
Subversif karena Membaca
Mereka yang mengamati politik 1980-an mungkin ingat nama Isti. Lengkapnya Bambang Isti Nugroho. Pada 1988, Pengadilan Yogyakarta memvonisnya delapan tahun penjara dengan tuduhan subversif. Dosanya? Membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer dan menggelar diskusi yang mengkritik Orde Baru.
Bayangkan negara dengan aparat bersenjata, intelijen di mana-mana, dan anggaran pertahanan yang tak kecil, ternyata gemetar menghadapi jongos yang membaca novel dan diskusi di Palagan -- sebuah kelompok diskusi sosial politik filsafat besutan Isti.
Rezim yang kuat mestinya tidak takut pada buku. Rezim itu pasti hanya sedang berhati-hati. Sangat berhati-hati. Sampai-sampai membaca Bumi Manusia karya Pramudya dianggap lebih berbahaya daripada menimbun senjata.
Isti mendekam di Wirogunan, Yogyakarta. Dalam pidatonya, Hariman Siregar menyebut Isti pernah mendekam di Nusakambangan. Ia dihukum karena bacaan, bukan mencuri ayam. Dalam puisinya, Isti menulis dengan getir tentang jarak antara Pulau Buru, tempat Pram ditahan dan Wirogunan tempat ia meringkuk. Jaraknya jauh, tulisnya, tetapi rejim sama-sama takut pada rajawali yang sama. Ironisnya, rajawali itu kini dikremus oleh tongseng.
Bebas, Tetap Bandel
Isti bebas pada 1994. Orang normal setelah delapan tahun di penjara mungkin akan memilih membuka warung, memelihara burung, atau tidur panjang. Isti tidak. Ia bergabung dengan tokoh-tokoh kritis, antara lain politikus Soebadio Sastrosatomo dan tokoh Malari Hariman Siregar.
Orde Baru gagal menjinakkannya, dan penjara terbukti bukan sekolah kapok yang efektif. Hingga kini Isti dipercaya Hariman mengelola Indonesian Democracy Monitor, atau Indemo Sebuah komunitas pro-demokrasi yang konsisten berdiri di luar jalur partai.
Dalam lingkaran Prodem, jaringan aktivis pro-demokrasi, Isti berjalan bersama Hariman dan Bursah Zarnubi. Bursah memilih jalur politik praktis lewat Partai Bintang Reformasi, dan kini menjabat Bupati Lahat. Hariman setia di luar partai.
Isti, kata Hariman, tidak memilih jalan menjadi menteri. Dalam politik negeri ini, pernyataan itu hampir terdengar seperti pujian yang mencurigakan. Tidak banyak aktivis yang menolak kursi. Lebih banyak yang menunggu ditawari. Termasuk sahabat karib Isti, Budiman Sudjatmiko.
Olivia dan Panggung
Selain bergulat dengan kekuasaan, Isti menggeluti teater. Sebagai sutradara, ia berhasil melambungkan nama Olivia Zalianty. Dunia kemudian mengenal Olivia sebagai artis. Hanya sedikit yang tahu bahwa ada aktivis bekas napol di balik layar yang mengasah bakat seni peran Oliv.
Isti juga seorang penyair. Ia menulis ratusan puisi, lalu menyaringnya menjadi 50 puisi dalam buku Negara dalam Gerimis Puisi. Buku tersebut diluncurkan di Rumah Maiyah-nya Cak Nun, Kadipiro, Yogyakarta, dengan pembahas sosiolog UGM Arie Sujito dan penyair Simon Hate, dipandu Toto Rahardjo. Dua repertoar teater turut menafsir puisinya: Doktrin Sinatra oleh Joko Kamto dan Eko Winardi, serta Penumpang Gelap Reformasi oleh Ende Riza dalam bentuk monomime.
Enam Buku, Satu Tumpeng, Satu Bismillah
Pada Kamis malam, 30 Juli 2026, Teater Kecil Taman Ismail Marzuki disesaki aktivis lintas generasi. Mereka mau menyaksikan peluncuran enam buku karya Isti sekaligus merayakan Milad ke-66 sang jongos.
Moderatornya Swary Utami Dewi. Hadir pula dosen senior FH-UI Ucok Chudry Sitompul, artis Olivia Zalianty, akademisi Paramadina Herdi Sahrasad, pencipta Sumpah Mahasiswa Afnan Malay, dan sastrawan Indra Trenggono. Mungkin sebagian hadir demi mengagumi Isti, sebagian demi tumpeng.
Puncak keriuhan terjadi saat Hariman Siregar memulai pemotongan tumpeng dengan lafaz "Bismillahirrahmanirrahim".
Bursah Zarnubi langsung menyahut, "Lho… sudah lama tidak baca Bismillah." Ruangan pun pecah oleh tawa. Padahal, Hariman sudah lima kali berhaji sejak era Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara. Rupanya reputasi sekuler yang lama menempel pada Indemo membuat bismillah dari Hariman terdengar seperti kejutan.
Bursah sendiri mengaku pernah mengagumi Khomeini dan Fidel Castro, dituduh ekstrem kanan, lalu ditangkap dengan tuduhan PKI hanya karena berdiskusi dengan HM Fatwa. Kiri salah, kanan salah, tengah pun belum tentu aman. Itulah demokrasi ala Orde Baru: semua orang tersangka, hanya vonisnya yang belum ditentukan.
Hariman juga mengenang Pramoedya, yang cemas menjalani operasi hernia sepulang dari Pulau Buru. Takut menjadi korban aparat. Tapi anehnya, operasi dilakukan dokter militer, dan Pram malah membaik. Tampaknya sejarah punya selera humor juga.
Dalam suasana itu, Iwan Sumule menyatakan Isti pernah dipenjara hanya karena beda pandangan soal isi buku. Sebagian hadirin menilai ucapan itu menyederhanakan sejarah yang rumit, yang juga diwarnai tragedi 1965 dan pembunuhan enam Pahlawan Revolusi. Pesta ulang tahun Isti rupanya tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari debat sejarah politik.
Bukan Jago Kandang
Rekam jejak Isti tak cuma jago kandang. Menurut sastrawan Dr. Herdi Sahrasad, pada 1996-1997 Isti diundang membaca puisi dan berdiskusi di Universitas Sydney, Monash, Melbourne, dan Murdoch di Australia. Ia bertukar pikiran dengan Krishna Sen dan David Hill. Di Eropa, ia singgah di Amsterdam, Leiden, dan Universitas Hamburg, tempat ia berdialog dengan Bernhard Dahm. Malaysia dan Singapura sesekali ikut disinggahi.
Ya. Dunia itu kadang nyleneh. Seperti perjalanan hidup Isti. Dari mantan tahanan subversif yang dulu dianggap membahayakan negara, kini ternyata dipercaya menjadi duta puisi di kampus-kampus mancanegara. Negara memenjarakannya, universitas asing mengundangnya. Di era Presiden Prabowo Subianto, Isti kini menjabat staf ahli Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Iwan Sumule. Dari tahanan politik, Isti menjadi pembisik kebijakan antikemiskinan. Penjara dan birokrasi memang sama-sama mengajarkan kesabaran. Sekaligus keanehan.
Berdamai dengan Tongseng
Kini Isti terbaring di RS Antam dengan gula darah 530. Para sahabat, termasuk saya, hanya bisa menjenguk dengan campuran cemas dan geli. Cemas karena sahabat sakit, geli karena penyebabnya terlalu puitis untuk tidak ditertawakan.
Satu pelajaran pasti dari kejadian ini: demokrasi boleh punya banyak musuh, tetapi tubuh punya musuhnya sendiri. Orde Baru dilawan dengan puisi, diskusi, dan keras kepala. Diabetes tidak peduli semua itu. Ia hanya mengenal piring, sendok, daging kambing, dan kuah santan.
Semoga Isti lekas pulih. Republik masih butuh penyair yang bandel, sutradara yang jeli, dan aktivis yang menolak jadi menteri. Dan semoga, setelah ini, ia bersedia berdamai dengan satu musuh yang tak bisa dibujuk dengan puisi: tongseng. ***