Memoar Tari Lang: Gejolak Seorang Remaja Putri dan Transisi Indonesia Menuju Otoritarianisme
Oleh Julia Suryakusuma
ORBITINDONESIA.COM - Berlatar belakang pembersihan komunis yang penuh kekerasan pada tahun 1965, memoar perdana Tari Lang, My Neighbour the Dictator, merangkai kisah pendewasaan yang memikat—mirip dengan kisah Anne Frank—tentang seorang remaja yang terseret ke dalam gerakan perlawanan bawah tanah yang berbahaya di Indonesia.
-000-
Mengapa kisah-kisah pendewasaan begitu populer? Kemungkinan besar karena, dalam berbagai tingkatan dan bentuk, kita semua melewati masa penuh gejolak ini dalam hidup kita. Ia merupakan pengalaman manusiawi yang universal mengenai transformasi pribadi dari masa kanak-kanak menuju usia dewasa muda, yang sering kali ditandai dengan emosi kuat, gejolak hormon, pertanyaan eksistensial, cinta pertama yang mendalam, serta dialektika antara penemuan jati diri dan eksplorasi dunia luar.
Tari Lang mengalami semua hal ini. Terlebih lagi, transformasi pribadinya terjadi bersamaan dengan—dan sangat dipengaruhi oleh—transisi politik Indonesia dari "Orde Lama" Soekarno yang berhaluan kiri dan anti-Barat, menuju "Orde Baru" Soeharto yang kapitalis dan didukung militer.
Peristiwa itu merupakan pergantian kekuasaan penuh kekerasan yang dipimpin militer, dipicu oleh dugaan upaya kudeta tahun 1965. Peristiwa ini berujung pada pembersihan kaum komunis—yang tercatat sebagai salah satu pembunuhan massal terbesar di abad ke-20—serta pengalihan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto, yang rezim otoriternya berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas anti-komunis. Ini adalah perubahan drastis dalam lanskap politik Indonesia, yang juga mengubah dinamika global Perang Dingin serta geopolitik Asia Tenggara.
Tari adalah penulis memoar perdana yang baru saja diterbitkan dan sangat memikat berjudul My Neighbour the Dictator, yang diterbitkan oleh Monsoon pada bulan Mei tahun ini. Buku ini sungguh membuat pembaca tak ingin berhenti membalikkan halamannya.
Versi bahasa Indonesianya diterbitkan pada bulan September tahun lalu oleh Gramedia dengan judul Rumah dengan Pintu Biru. Judul asli buku ini merujuk pada warna pintu salah satu rumah aman bagi para buronan politik setelah peristiwa tahun 1965.
Judul dalam bahasa Inggris, yang lebih menarik bagi pembaca Barat, sangat pas dengan kenyataan bahwa Soeharto tinggal di Jalan Cendana, yang jaraknya hanya 750 meter dari tempat tinggal Tari dan keluarga Budiardjo di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, sejak tahun 1958.
Catatan: Tari adalah teman lama, sejak tahun 1970-an, saat saya menempuh studi S1 sosiologi di City University, London, antara tahun 1976 dan 1979. Saya mengenalnya melalui ibunya, Carmel Budiardjo, sosok yang dikenal luas karena mendirikan Tapol — sebuah organisasi kampanye Inggris untuk hak asasi manusia di Indonesia — pada tahun 1973.
Saya pertama kali bertemu Carmel pada tahun 1977 saat menonton pertunjukan teater tentang tahanan politik di Indonesia di Half Moon Theatre, sebuah teater alternatif di London. Di lobi teater, seorang perempuan paruh baya sedang menjual lencana bertema politik.
Saat saya mengajaknya bicara, saya terkejut karena ia menjawab dengan bahasa Indonesia yang fasih. Itulah awal mula persahabatan saya selama puluhan tahun dengan Carmel, dan kemudian dengan kedua anaknya, Tari dan Anto, serta cucu-cucunya—namun terutama dengan Tari, yang hanya berusia tiga tahun lebih tua daripada saya.
Sejak meninggalkan London pada tahun 1979, saya bertemu Tari cuma sesekali—baik saat ia berkunjung ke Jakarta maupun saat saya pergi ke London, yang mana sangat jarang terjadi.
Lalu, tiba-tiba pada bulan Mei tahun lalu, saya menerima surel darinya yang mengabarkan bahwa ia telah menulis memoar mengenai masa remajanya di Jakarta pada kurun waktu 1965–1969, dan bahwa ia akan datang ke Jakarta untuk peluncuran versi bahasa Indonesianya.
Ia juga mengirimkan naskah memoarnya versi Bahasa Inggris dalam format PDF, yang kemudian saya baca dengan penuh antusiasme. Saya sangat kagum akan kemampuannya bercerita dan bakat menulisnya, serta kemampuannya mengingat detil-detil peristiwa hidupnya secara begitu hidup—padahal semua itu terjadi sekitar 60 tahun yang lalu.
Saya tahu ia telah membangun karier internasional sebagai pebisnis dan konsultan manajemen reputasi—memberikan nasihat kepada pemerintah maupun lembaga global serta menjabat sebagai CEO di dua perusahaan besar—namun saya tidak pernah memandangnya sebagai seorang penulis. Kini, ia tentu dapat menambahkan peran tersebut ke dalam daftar panjang pencapaiannya yang gemilang.
Memoar ini bermula dari keinginan Tari untuk menulis surat mengenai perjalanan hidupnya yang ditujukan bagi anak-anak, anak-anak tiri, serta cucu-cucunya. Di luar dugaannya, karya tersebut—seperti yang diungkapkan oleh BBC—menjadi "saksi sejarah Indonesia yang langka".
Brian Lang, suaminya, mendorongnya untuk mengubah kisah tersebut menjadi buku. Menurut saya, memoar ini juga layak diadaptasi menjadi film kelak karena memiliki nuansa yang sangat sinematik.
Gaya penulisannya ibarat kamera yang menangkap citra tajam serta detil-detil yang menggugah indra, membuat pembaca seolah-olah menjadi saksi mata yang hadir langsung di tengah peristiwa tersebut.
Tentu saja, karena merupakan memoar, kisahnya dituturkan dari sudut pandang orang pertama; namun, pembaca tidak akan merasa jenuh dengan monolog batin yang bertele-tele.
Nada dan suasananya pun beragam, disertai deskripsi yang kaya, mencerminkan perubahan-perubahan dalam hidup Tari: mulai dari kehidupan normalnya di rumah dan bersama teman-teman, hingga keterlibatannya dalam kegiatan politik bawah tanah yang berbahaya—aktivitas yang ia mulai saat masih berusia belia, yakni 14 tahun.
Tari lahir pada tahun 1951 di Praha dari pasangan ayah berkebangsaan Indonesia yang beragama Islam, Suwondo Budiardjo (lahir sekitar tahun 1923), dan ibu berkebangsaan Inggris-Yahudi, Carmel Brickman (lahir tahun 1925). Keluarga ini pindah ke Indonesia pada tahun 1952, tak lama setelah kelahiran Tari.
Mereka sempat tinggal di sebuah rumah di Jakarta sebelum akhirnya pindah ke Jalan Teuku Umar di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat; rumah tersebut menjadi pusat diskusi politik dan intelektual yang dinamis, tempat berkumpulnya beragam kalangan—baik teman maupun rekan kerja—pada masa sebelum tahun 1965.
Keluarga Budiardjo, yang merupakan bagian kalangan intelektual elite dan dekat dengan pemerintahan Sukarno, tiba-tiba mendapati diri mereka menghadapi situasi politik yang penuh gejolak. Orang tua Tari ditangkap, sehingga ia—yang saat itu masih remaja—bersama adik laki-lakinya, terpaksa mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga; mereka harus mengurus kebutuhan keluarga sembari berupaya keras memperjuangkan pembebasan orang tua mereka.
Saat membaca memoar ini, saya langsung teringat untuk membandingkannya dengan karya terkenal dunia, The Diary of Anne Frank. Keduanya merupakan catatan yang sangat personal dari sosok remaja putri yang terperangkap peristiwa traumatis berskala sejarah, serta menyuguhkan perspektif manusiawi mengenai teror politik, ketangguhan, dan kehidupan sehari-hari di bawah rezim yang represif.
Keduanya masih remaja ketika dunia mereka berubah drastis. Mereka menyeimbangkan rasa takut yang mencekam dengan berbagai hal yang lazim dipikirkan remaja, seperti jatuh cinta, mode, dan keinginan sederhana untuk menjalani hidup layaknya orang biasa. Keduanya juga mengalami cinta serta ciuman pertama di tengah masa-masa penuh trauma tersebut.
Namun, Peter—kekasih Anne—dikirim ke Auschwitz dan secara tragis meninggal dunia akibat kelelahan serta sakit pada 10 Mei 1945 di usia 18 tahun, hanya lima hari sebelum pasukan Amerika membebaskan kamp tersebut.
Sementara itu, Tari harus menyaksikan Hari—kekasihnya—disiksa dan akhirnya mendekam selama 14 tahun di penjara berkeamanan maksimum Nusakambangan, Jawa Tengah, yang dijuluki sebagai "Alcatraz-nya Indonesia"; namun Hari berhasil selamat, menikah, dan menjalani kehidupan yang bahagia hingga akhir hayatnya pada tahun 2011.
Dalam banyak hal, nasib Tari memang jauh lebih beruntung dibandingkan Anne. Jika kehidupan Anne terbatas di dalam ruang persembunyian, Tari adalah seorang remaja berusia 14 tahun yang hidup nyaman di Jakarta sebelum orang tuanya ditangkap—peristiwa yang kemudian membuatnya turun ke jalan secara aktif untuk menyiapkan rumah aman serta menyampaikan pesan-pesan rahasia bagi gerakan perlawanan.
Jika Anne meninggal di usia muda, yakni 15 tahun, Tari justru masih sehat dan bugar di usia 75 tahun.
Akankah buku My Neighbor, the Dictator akan menjadi setenar The Diary of Anne Frank? Buku ini memiliki potensi untuk itu, terutama jika diadaptasi menjadi film oleh sutradara ternama.
*Julia Suryakusuma adalah penulis buku Sex, Power and Nation. Ulasan buku ini adalah terjemahan dari versi yang dimuat di The Jakarta Post PREMIUM Jakarta, Jumat, 24 Juli 2026. ***