Cerpen Satrio Arismunandar: Bayang-Bayang Penggusuran
ORBITINDONESIA.COM - Sebuah Cerpen oleh Satrio Arismunandar
Tiga Hari Sebelum
Hujan lebih dulu tahu daripada kami bahwa atap posko ini sudah menyerah. Ia turun satu-satu di sudut kiri, jatuh ke ember seng dengan bunyi yang mirip hitungan mundur. Sudah dua minggu aku menggeser ember itu ke sana-sini, dan sudah dua minggu pula aku belajar tuli terhadapnya. Orang bisa tuli terhadap apa saja, asal cukup lama dibiarkan sendirian dengan bunyinya.
Masalah yang sebenarnya ada di meja: sembilan puluh tujuh kepala keluarga, satu surat edaran, dan satu kalimat yang terus diulang di televisi. Warga telah menyetujui.
“Mas Damar, ini yang tanda tangan bukan tanda tangan Pak Harun,” kata seorang ibu sambil mengacungkan lembar persetujuan. “Pak Harun itu tangannya gemetar. Ini rapi banget.”
Aku mencatatnya. Sudah yang keempat belas.
Di luar, gang Rawa Kering berjalan seperti biasa. Tukang gorengan lewat. Anak-anak melompati selokan. Seorang bapak menjemur kaus seragam pabrik yang lengannya sudah memutih. Semuanya biasa saja, dan justru itu yang membuatnya terasa seperti pameran barang yang sebentar lagi disita.
Sekitar pukul sepuluh, dua perempuan muda berdiri ragu di depan pintu. Yang satu kukenal sebagai Tika, mahasiswi sosiologi yang beberapa kali ikut mengajar kelas baca di sini. Yang satunya mengenakan kemeja linen polos dan sepatu yang jelas belum pernah menginjak selokan.
Aku mengenalinya sebelum Tika selesai bicara. Fotonya pernah terbit di halaman tiga sebuah koran nasional, di rubrik acara amal, memegang gunting pita di samping lelaki berjas yang tanda tangannya kini ada di semua surat di mejaku. Keterangan fotonya: didampingi putrinya, Kinanti.
“Mas Damar, ini Kinan, temanku,” kata Tika. Ia berhenti sebentar di antara kata teman dan Kinan, dan aku langsung tahu bahwa Tika tahu. Dan bahwa Tika tahu aku tahu. Kami bertiga memutuskan, tanpa bicara, untuk memainkan permainan itu.
“Silakan masuk,” kataku. “Hati-hati ember.”
Ia melangkah melewatinya dengan hati-hati berlebihan, lalu duduk di bangku plastik yang kakinya pincang dan tidak mengeluh. Aku mencatat itu juga, meski tidak tahu untuk apa.
“Saya Kinan,” katanya. Tanpa nama belakang. Aku tidak bertanya.
Warga datang bergantian membawa map lecek dan cerita yang hampir sama. Surat sosialisasi yang tidak pernah mereka terima. Petugas yang datang malam hari meminta tanda tangan “cuma buat daftar hadir”. Angka ganti rugi yang tidak cukup membeli tanah seperempat luas rumah mereka di tempat lain. Aku menerjemahkan semuanya menjadi daftar poin, karena itu pekerjaanku: mengubah kepanikan menjadi dokumen yang bisa dibaca orang yang tidak mau mendengar.
Kinanti tidak mencatat. Tidak merekam. Tidak mengambil gambar. Ia hanya mendengarkan dengan tubuh agak condong, dan di wajahnya tumbuh sesuatu yang kukenal dari mahasiswa baru yang pertama kali membaca laporan investigasi. Bukan iba, tapi rasa malu karena baru tahu.
Menjelang siang, Bu Sarmi masuk membawa nampan berisi teh manis dalam gelas-gelas yang tepinya sudah buram. Ia pemilik warung di ujung gang, perempuan enam puluhan yang tidak pernah ikut rapat tapi selalu tahu isinya. Ia meletakkan gelas satu per satu, dan di depan Kinanti ia berhenti lebih lama dari yang perlu.
“Mbak ini dari mana?”
“Dari kampus, Bu. Temannya Tika.”
“Oh.” Bu Sarmi mengangguk. Lalu, selembut pisau yang masih bersarung: “Mau lihat kami, atau mau dilihat sedang melihat kami?”
Tika tersedak. Ruangan menahan napas. Hujan terus menetes ke dalam ember.
Kinanti menunduk pada gelasnya, seakan jawaban bisa dibaca dari uap yang naik. Lalu ia mengangkat wajah.
“Saya belum tahu, Bu. Tapi saya mau tahu bedanya.”
Bu Sarmi menatapnya sebentar, lalu mendengus pendek, bukan tawa, bukan cibiran, dan kembali ke warungnya. Itu bukan penerimaan. Tapi di gang ini, tidak diusir sudah berarti sesuatu.
Pukul tiga mereka pamit. Tika menyalami semua orang. Kinanti hanya mengangguk, dan di ambang pintu ia berhenti.
“Terima kasih tehnya,” katanya, entah pada siapa.
Mereka berjalan menyusuri gang. Aku berdiri di pintu, pura-pura menimbang mendung, padahal yang kuhitung adalah berapa kali ia menoleh.
Sekali, di depan warung Bu Sarmi.
Dua kali, di tiang listrik yang miring.
Tiga kali, di mulut gang, sebelum gang itu menelannya.
Di belakangku, ember sudah penuh sampai bibirnya. Untuk pertama kalinya, aku membiarkannya meluap.
Dua Hari Sebelum
Fotonya sampai ke ponselku pukul enam pagi, sebelum aku sempat membuat kopi.
Tidak ada keterangan. Hanya gambar yang diambil dari sudut jendela posko: Kinanti di bangku plastik yang pincang, gelas teh di tangannya, wajahnya setengah menunduk. Di bawahnya, di grup WhatsApp serikat yang isinya seratus dua belas orang, sudah ada tiga puluh balasan. Sebagian hanya tanda tanya. Sebagian menyebut nama ayahnya. Satu orang menulis, Posko kita kok jadi tempat wisata?
Yang mengirim foto itu memakai nomor tak tersimpan. Aku tidak mencoba menebak. Aku sudah cukup lama di organisasi LSM ini untuk tahu bahwa pertanyaan siapa biasanya menghabiskan lebih banyak tenaga daripada pertanyaan kenapa.
Rapat dimulai pukul sembilan, di posko yang sama, di antara meja dan map yang sama. Hari itu tidak hujan, dan ember di sudut ruangan kosong untuk pertama kalinya. Kesunyiannya terasa lebih keras daripada tetesan.
Rangga duduk di ujung meja, tangannya terlipat. Kami berteman sejak mahasiswa, sejak sama-sama pernah ditahan semalam di kantor polisi karena membagikan selebaran di depan pabrik. Ia tahu cara aku makan, tahu cara aku menyembunyikan takut. Itu sebabnya ia tidak perlu berteriak.
“Kamu tahu siapa dia,” katanya.
Bukan pertanyaan. Aku tidak berpura-pura.
“Tahu.”
“Sejak kapan?”
“Sejak ia masuk.”
Ada yang menarik napas di sudut ruangan. Seseorang menggeser kursi.
“Dan kamu biarkan dia duduk di bangku itu. Di depan dokumen kita. Di depan warga yang namanya ada di daftar.” Rangga tidak menaikkan nada. “Dam, kita ini lagi ngelawan bapaknya.”
“Dia nggak lihat dokumen apa pun. Dia nggak pegang apa pun. Dia cuma dengerin.”
“Dengerin,” ulang Rangga, dan kata itu terdengar murah di mulutnya. “Orang kayak dia nggak pernah cuma dengerin. Dia dengerin, terus pulang, terus cerita ke bapaknya, terus staf bapaknya tahu siapa yang paling vokal di antara warga. Siapa yang bakal didatangi duluan malam ini.”
“Dia nggak begitu.”
“Kamu kenal dia berapa jam? Lima? Enam?”
Aku diam. Itu jawaban yang jujur, dan semua orang di ruangan itu mendengarnya.
Bu Yati dari divisi pendampingan, yang selama ini hampir tak pernah bicara di rapat, berkata pelan, “Mas Damar, kami nggak nuduh kamu dikhianati. Kami cuma takut kamu senang.”
Kata itu mengenai tempat yang tidak kuduga.
Karena itulah masalahnya. Bukan bahwa Kinanti mungkin menjebakku. Masalahnya ada di perasaanku semalam, ketika foto itu belum beredar dan aku berbaring menatap langit-langit kontrakan sambil menghitung.
Aku memang senang. Dan di bawah rasa senang itu ada hal lain yang tidak ingin kuberi nama, tapi akhirnya kuberi nama juga, karena aku bukan orang yang tahan menipu diriku sendiri terlalu lama.
Aku berpikir: anak menteri. Akses. Dokumen kajian dampak yang konon disembunyikan.
Tidak sekali pun aku memintanya. Tapi pikiran itu datang, duduk sebentar di kepalaku, dan aku tidak mengusirnya dengan cukup cepat.
“Aku nggak minta apa-apa dari dia,” kataku akhirnya.
“Tapi kamu mikir,” kata Rangga. Ia menatapku lama. Di matanya tidak ada kemenangan, hanya kelelahan seseorang yang sudah menebak jawabannya sebelum bertanya. “Kamu mikir, kan?”
Aku bisa berbohong. Ruangan itu menunggu aku berbohong. Itu akan lebih sopan untuk semua orang.
“Sempat,” kataku. “Satu malam.”
Tidak ada yang bicara. Seseorang di luar menyalakan motor, lalu mematikannya lagi.
“Oke,” kata Rangga. Ia berdiri, merapikan map di depannya. “Dua hal. Jangan bawa dia ke posko lagi. Dan kalau dia menghubungi kamu, kamu lapor ke aku. Bukan karena aku nggak percaya kamu, Dam. Karena aku nggak percaya keadaan.”
Rapat bubar tanpa jabat tangan. Itu terjadi sesekali, dan selalu terasa seperti kehilangan sesuatu yang kecil tapi tak tergantikan.
Sore itu aku pulang lewat gang yang sama. Warung Bu Sarmi buka. Ia sedang menyapu teras, dan ketika aku lewat, ia tidak mengangkat kepala. Hanya berkata, “Anak itu nggak datang lagi hari ini?”
“Belum, Bu.”
“Hm.” Sapunya bergerak, debu berpindah dari satu sisi ke sisi lain. “Tadi pagi ada orang pakai kemeja rapi nanya-nanya di sini. Katanya dari kelurahan. Nanya siapa yang paling sering ngomong di posko.”
Aku berhenti.
“Ibu jawab apa?”
“Saya bilang saya cuma jual gorengan.”
Ia tidak tersenyum, dan aku tidak berterima kasih. Kami berdua tahu ada hal-hal yang rusak kalau diucapkan.
Telepon itu masuk pukul sebelas malam.
Nomor tak dikenal. Aku membiarkannya berdering empat kali, menimbang pesan Rangga, lalu mengangkatnya juga.
“Ini aku,” kata Kinanti. Suaranya pelan, dan ada gema di belakangnya, seperti ia berbicara dari kamar mandi atau dari balik pintu tertutup. “Aku nggak tahu kamu masih mau bicara atau nggak.”
“Aku di sini.”
Ia diam agak lama. Aku mendengar napasnya, dan di belakangnya sesuatu yang berdenting halus, mungkin sendok perak, mungkin hanya imajinasiku.
“Tadi makan malam di rumah,” katanya. “Papa tahu aku ke sana. Dia nggak marah. Dia cuma tanya apa aku mau ikut program pemberdayaan warga terdampak. Posisi koordinator. Katanya, kalau aku peduli, lebih baik aku peduli dari dalam.”
Aku menutup mata.
“Dia bilang itu sambil tersenyum,” lanjutnya. “Dan aku hampir percaya. Itu yang bikin aku takut. Aku hampir percaya, Damar.”
Di posko, di dalam kepalaku, suara Rangga berkata: lapor ke aku.
“Kinan,” kataku. “Teman-temanku juga curiga sama kamu.”
“Aku tahu.” Ia tertawa kecil, tapi tawa itu pecah di tengah. “Di rumah mereka bilang kamu mencuci otakku. Di tempatmu mereka bilang aku memanfaatkanmu. Dua-duanya yakin banget.”
“Mungkin dua-duanya benar sedikit.”
Hening.
“Mungkin,” katanya akhirnya. Lalu, jauh lebih pelan, seperti ucapan yang tidak dimaksudkan untuk sampai: “Aku nggak tahu harus percaya siapa.”
Aku ingin menjawab bahwa ia bisa percaya padaku. Kalimat itu sudah di ujung lidah, rapi dan hangat dan sangat mudah diucapkan. Tapi aku baru saja mengakui di depan seratus mata bahwa pernah ada satu malam ketika aku berpikir sebaliknya.
Jadi aku hanya berkata, “Aku juga nggak tahu harus percaya siapa, Kinan. Termasuk diriku sendiri.”
Sambungan diputus tanpa salam.
Aku duduk lama di kontrakan, memikirkan ember kosong di posko yang menunggu hujan yang tidak datang, sampai lampu tetangga padam satu per satu.
Sehari Sebelum
Aku tidak melapor ke Rangga.
Itu keputusan pertama hari itu, dan aku membuatnya dengan cara paling pengecut: tidak melakukan apa-apa. Ponselku menyala dua kali pagi itu dengan namanya di layar, dan dua kali kubiarkan mati sendiri. Pukul dua siang aku menaiki angkot ke arah yang berlawanan dengan posko.
Kinanti memilih tempatnya: warung kopi di dekat terminal lama, jauh dari kampus, jauh dari kompleks rumah dinas, jauh dari gang Rawa Kering. Tempat yang tidak dimiliki siapa pun. Lantainya keramik retak, meja-mejanya berminyak, dan di dinding ada kalender toko ban dari dua tahun lalu yang tidak pernah diganti.
Ia sudah duduk di pojok ketika aku masuk. Kemeja linen itu diganti kaus abu-abu yang lehernya melar, rambutnya diikat seadanya. Ia berusaha tampak biasa, dan usaha itulah yang membuatnya mencolok. Di depannya ada segelas es teh yang belum disentuh.
“Kamu datang,” katanya.
“Kamu yang minta.”
“Aku nggak yakin kamu bakal datang.”
“Aku juga.”
Ia tersenyum sedikit, dan senyum itu cepat hilang. Seorang bapak di meja sebelah menyedot kopinya dengan bunyi panjang. Televisi kecil di atas rak menayangkan sinetron dengan suara hampir mati.
Kami diam cukup lama. Aku memesan kopi hitam karena butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tangan.
“Aku mau bilang sesuatu dulu,” kata Kinanti. “Supaya kamu nggak perlu nebak-nebak.”
“Silakan.”
“Aku tahu kamu tahu siapa aku. Dari awal.” Ia menatap gelasnya. “Waktu aku masuk ke posko, kamu bilang ‘hati-hati ember’. Orang yang nggak tahu apa-apa nggak akan ngomong sesopan itu ke perempuan asing. Kamu ngomong kayak orang yang lagi menjaga jarak.”
Aku tidak menyangkal.
“Aku diam karena mau lihat apa yang kamu lakukan,” lanjutnya. “Dan kamu nggak melakukan apa-apa. Nggak ngusir. Nggak ceramah. Kamu cuma ngebiarin aku duduk. Itu pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang tahu siapa aku dan nggak mau apa-apa.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia maksudkan. Aku mengaduk kopi yang belum perlu diaduk.
“Kinan,” kataku. “Aku harus jujur juga.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu apa?”
“Kamu mau bilang kamu sempat mikir aku berguna.”
Kopiku berhenti berputar.
“Rangga cerita?”
“Nggak. Tapi aku nggak bodoh, Damar.” Suaranya tidak marah. Justru terlalu tenang, seperti kalimat yang sudah disiapkan semalaman. “Sejak umur lima belas, setiap laki-laki yang ngobrol lama sama aku, ujungnya selalu nanya sesuatu soal Papa. Kadang halus, kadang kasar. Aku bisa merasakannya, seperti orang merasakan hujan sebelum turun. Aku pikir kamu beda. Terus aku pikir mungkin kamu cuma jenis yang lain.”
“Aku nggak pernah nanya apa pun.”
“Itu juga yang bikin aku curiga.” Ia mengangkat mata. “Orang yang nggak minta apa-apa kadang cuma lebih sabar.”
Aku ingin membantah, tapi bantahan butuh bahan, dan bahan yang kupunya hanyalah kejujuran yang tidak enak. Jadi aku memakainya.
“Malam setelah kamu datang, aku sempat mikir soal dokumen kajian dampak. Yang katanya disembunyikan. Aku mikir mungkin kamu bisa ngakses. Satu malam. Besoknya aku bilang itu ke teman-temanku di rapat, supaya nggak perlu hidup dengan itu sendirian.”
Kinanti tidak berkedip. Di televisi, seorang aktris menampar aktor.
“Terima kasih sudah bilang,” katanya akhirnya.
“Itu bukan hadiah.”
“Aku tahu. Tapi tetap terima kasih.”
Kami terdiam lagi, dan kali ini diam itu berubah bentuk, dari tegang menjadi capek, seperti dua orang yang sama-sama meletakkan barang bawaan di lantai sambil tahu mereka harus mengangkatnya lagi.
“Boleh aku tanya sesuatu?” kataku.
“Silakan.”
“Kenapa kamu datang ke posko? Yang sebenarnya.”
Ia berpikir lama. Es di gelasnya sudah mencair separuh.
“Ada acara makan malam tiga bulan lalu,” katanya. “Seseorang di sebelahku cerita bahwa proyek ini disambut baik warga. Ia bilang dengan sangat yakin, sambil memotong daging. Aku tanya, ‘Warga yang mana?’, dan dia tertawa. Bukan tawa jahat. Tawa orang yang menganggap pertanyaanku lucu.”
Ia menarik napas. “Waktu itu aku sadar aku nggak pernah sekali pun ketemu orang yang rumahnya mau diambil. Padahal tanda tangan Papa ada di sana. Aku hidup dari uang yang diputuskan lewat kertas, dan aku nggak tahu kertas itu jatuh di atas siapa.”
“Jadi kamu mencari tahu.”
“Aku mencari kamu,” katanya. “Awalnya karena namamu di artikel. Aku baca tiga tulisanmu, terus nyari tahu kamu siapa. Dan sebagian dari diriku...” Ia berhenti. “Sebagian dari diriku mau ketemu orang yang nggak akan memuji aku.”
“Itu juga romantisasi, Kinan.”
“Apa?”
“Orang susah, orang kritis, orang yang nggak mau tunduk.” Aku mengucapkannya pelan, tanpa nada menuduh, karena yang kutuduh juga diriku. “Itu cerita yang enak dipercaya kalau kamu dibesarkan di antara orang-orang yang selalu tersenyum. Aku nggak mau jadi cerita itu.”
Ia diam. Kupikir aku sudah menyakitinya. Tapi ia justru mengangguk pelan, dan matanya basah tanpa jatuh.
“Aku tahu,” katanya. “Aku juga nggak mau kamu jadi cerita itu. Tapi aku nggak tahu cara membedakannya dari yang nyata.”
“Aku juga nggak tahu cara membedakan kamu dari anak menteri.”
Ia tertawa, tawa yang kali ini jujur, kecil, dan agak serak. “Itu pertama kalinya kamu menyebutnya begitu.”
“Maaf.”
“Jangan. Itu benar.”
Sinetron berganti iklan. Seorang ibu di meja belakang memanggil anaknya yang bermain di dekat pintu. Dunia terus bergerak dengan tidak peduli, dan itu menenangkan dengan caranya sendiri.
Kinanti merogoh tasnya. Aku menahan napas, tapi yang keluar hanya sehelai tisu, yang ia pakai untuk mengusap sudut mata.
“Ada hal lain,” katanya. Suaranya merendah, dan aku tahu apa itu sebelum ia mengucapkannya. “Dokumen itu ada. Kajian dampaknya. Bukan cuma kabar. Aku pernah lihat sampulnya di ruang kerja Papa, di rak bawah, di balik map-map lain. Aku belum buka. Aku belum tahu isinya. Tapi aku tahu di mana letaknya.”
Jantungku berdetak sekeras itu sampai kupikir semua orang di warung bisa mendengarnya.
Ini jalannya. Persis yang diam-diam kutunggu sejak hari pertama. Dan di meja berminyak itu, dengan kopi yang sudah dingin, aku sadar bahwa pertanyaan yang tinggal kuucapkan, bisa kamu ambil?, akan mengubah segalanya. Bukan hanya untuk proyek. Untuk dia. Untuk aku.
Aku menatap tanganku di atas meja. Buku jari yang kapalan karena terlalu banyak memegang spanduk untuk aksi protes. Tangan seorang laki-laki yang bertahun-tahun mengatakan kepada orang lain bahwa hak tidak boleh ditawar, dan yang baru sekarang tahu betapa murahnya ia bisa menawar dirinya sendiri.
“Jangan ambil,” kataku.
Kinanti mengerjap. “Apa?”
“Kalau kamu ambil karena aku butuh, itu salah. Kalau kamu ambil karena aku nggak minta, itu juga salah, karena kamu akan merasa aku sedang menguji kamu. Kamu cuma boleh ambil kalau itu keputusanmu sendiri. Yang nggak ada hubungannya sama aku.” Aku menelan ludah. “Dan kalau kamu ambil, kamu harus tahu akibatnya buat kamu. Bukan buat proyeknya. Buat kamu. Papamu, rumahmu, namamu.”
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Karena kalau aku diam, aku sama saja dengan mereka yang tersenyum di meja makan.”
Ia menatapku lama. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di wajahnya, dan mungkin itu salah satu alasan aku jatuh cinta padanya, meski kata itu tidak pernah kuucapkan, bahkan dalam kepalaku, sampai saat itu.
“Kamu nyebelin,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Padahal aku udah siap kamu minta.”
“Itu yang bikin aku takut.”
Ia tertawa lagi, kali ini diselingi isak yang cepat-cepat ditutupnya dengan tisu. Di sela itu, tanpa sengaja, tangannya menyentuh tanganku di atas meja. Hanya sepersekian detik. Kami berdua menariknya kembali pada saat yang sama.
Pukul lima sore, di luar warung, langit mulai berwarna jingga kotor. Kami berdiri di trotoar berdebu, di depan angkot-angkot yang menunggu penumpang.
“Aku belum tahu,” kata Kinanti. “Soal dokumen. Soal semuanya.”
“Jangan putuskan karena aku.”
“Aku nggak janji apa-apa.”
“Aku nggak minta janji.”
Ia mengangguk. Lalu, tanpa menoleh, ia berjalan ke arah mobil yang menunggu di ujung jalan, mobil hitam yang terlalu bersih untuk terminal itu, dengan sopir yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Aku menunggu. Satu, dua, tiga.
Ia tidak menoleh. Tidak sekali pun.
Itu yang paling kupahami dan paling tidak bisa kuterima. Di gang Rawa Kering, tengokannya bisa kuhitung. Di terminal itu, tidak ada yang tersisa untuk dihitung.
Angkot terakhir ke arah Rawa Kering berangkat pukul enam. Aku naik, duduk di bangku paling belakang, dan memandangi kaca belakang sampai mobil hitam itu hilang di antara kendaraan lain.
Besok pagi, alat berat akan masuk. Dan aku akhirnya mengerti satu hal yang tidak ingin kupahami: aku telah menaruh sebuah harapan di tempat yang tidak berhak kutaruh, dan sekarang tinggal menunggu apakah ia akan jatuh.
Hari H
Mesinnya datang sebelum matahari.
Aku mendengarnya dari kejauhan, sejak pukul empat, bunyi rendah yang merambat di tanah dan masuk lewat telapak kaki sebelum sampai ke telinga. Warga sudah berdiri di mulut gang dengan sarung dan jaket seadanya. Tidak ada yang berteriak. Orang jarang berteriak pada saat benar-benar terjadi. Teriakan itu untuk hari-hari sebelumnya.
Ada tiga ekskavator kuning terang, dua belas truk, dan barisan aparat berseragam yang berdiri dengan wajah orang yang sedang menjalankan pekerjaan. Seorang lelaki berompi proyek memegang pengeras suara dan membacakan nomor surat keputusan. Aku tidak mendengar nomornya. Aku mendengar seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, “Itu mau ngapain, Bu?”
Rangga berdiri di sebelahku. Kami belum bicara sejak rapat. Pagi ini ia hanya mengangguk, dan aku mengangguk balik, dan itu cukup untuk dua orang yang sedang berusaha tidak kehilangan satu sama lain.
“Dia nggak datang,” kata Rangga, tanpa menoleh.
“Aku nggak minta dia datang.”
“Aku tahu.”
Kami menatap lurus ke depan. Di tanganku ada map berisi salinan surat keberatan yang sudah kami kirim empat kali, dan yang sekarang tidak berguna selain untuk dipegang.
Rumah pertama yang dirobohkan milik Pak Harun, lelaki yang tangannya gemetar. Ia berdiri di ambang pintu sampai petugas menyentuh bahunya, lalu melangkah keluar dengan satu kardus di dada. Tidak melawan. Tidak menoleh. Kaus seragam pabrik yang biasa dijemurnya masih tergantung di tali, bergoyang tertiup angin dari ekskavator.
Lengan besi itu naik, lalu turun.
Bunyi dinding yang runtuh bukan bunyi yang kukira. Kukira akan ada dentum. Ternyata hanya suara kering, pelan, seperti seseorang mendesah sangat panjang.
Satu per satu. Aku menghitung, karena itu yang selalu kulakukan ketika tidak tahu harus berbuat apa. Rumah kesebelas. Dua belas. Seorang ibu terduduk di atas kasurnya yang dikeluarkan ke tanah. Seorang anak laki-laki memunguti kelereng yang berhamburan dari kantong plastik. Orang-orang serikat berteriak sebentar, lalu berhenti, karena teriakan itu seperti melempar batu ke laut.
Menjelang pukul tujuh, matahari akhirnya muncul, kuning dan tidak peduli, menerangi debu yang naik dari reruntuhan seperti napas sesuatu yang sedang kehabisan.
Pada saat itu aku melihatnya.
Di seberang jalan, di balik barisan aparat. Kemeja linen polos itu, atau mungkin kaus abu-abu, aku tidak yakin. Rambutnya diikat seadanya. Tidak ada mobil hitam. Tidak ada sopir. Ia berdiri sendirian, jauh dari kamera, jauh dari barisan wartawan yang mengarahkan lensa ke wajah-wajah warga.
Rangga melihatnya juga. Rahangnya mengeras. “Dia datang.”
“Ya.”
“Mau apa dia?”
Aku tidak menjawab, karena aku tidak tahu. Dan karena, sejujurnya, aku tidak berani menebak.
Kinanti tidak berjalan ke arahku. Ia tidak berjalan ke arah kamera, tidak ke arah aparat, tidak ke arah lelaki berompi dengan pengeras suara. Ia menyeberang pelan, menyelinap di antara dua petugas yang terlalu sibuk untuk menghentikannya, dan berhenti di depan warung Bu Sarmi.
Warung itu belum disentuh. Bu Sarmi berdiri di terasnya dengan sapu di tangan, seperti hari-hari lain, seperti pagi biasa. Di belakangnya, etalase kaca berisi gorengan yang sudah dingin, dan rak-rak berisi sabun, kopi sachet, dan permen. Seluruh hidup yang bisa diangkut dalam satu truk kecil.
Mereka berhadapan. Aku terlalu jauh untuk mendengar. Tapi aku melihat Bu Sarmi menatap Kinanti dari atas ke bawah, lama, dengan mata yang tidak berubah sejak hari pertama.
Kinanti mengatakan sesuatu. Singkat.
Bu Sarmi tidak menjawab.
Lalu Kinanti melakukan hal yang paling tidak kuduga. Ia menaruh tasnya di tanah, menyingsingkan lengan kausnya, dan membungkuk untuk mengangkat salah satu sisi etalase itu.
Terlalu berat untuk satu orang. Etalase itu goyah. Seorang pemuda dari warga, entah dari mana, melihat dan langsung memegang sisi lainnya tanpa bertanya. Mereka mengangkatnya bersama-sama, menuruni teras, menuju truk kecil yang menunggu di tepi gang.
Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang merekam. Semua lensa sedang sibuk menyorot ekskavator dan wajah-wajah menangis, dan perempuan yang mengangkat etalase itu terlalu biasa untuk menjadi berita.
Aku menyadari sesuatu yang mengganggu sekaligus melegakan: aku tidak ingin ada yang memotretnya. Aku ingin ini tetap menjadi tindakan tanpa saksi, karena hanya begitu ia tetap miliknya.
Bu Sarmi mengikuti mereka dengan sapu masih di tangan. Di samping truk, setelah etalase terpasang, Kinanti merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat polos, tipis, tanpa tulisan. Ia menyerahkannya kepada Bu Sarmi.
Bu Sarmi tidak langsung menerimanya.
Aku tidak tahu isinya. Aku tidak akan pernah tahu. Dokumen kajian dampak, atau uang, atau surat, atau selembar kertas kosong yang ia harap bisa berarti. Mungkin ia sendiri belum memutuskan. Mungkin itu bagian dari keputusannya.
Bu Sarmi menatap amplop itu, lalu menatap Kinanti, dan di wajah tuanya ada sesuatu yang bergerak sangat pelan: bukan penerimaan, bukan penolakan, hanya penundaan vonis yang sudah ia pegang sejak hari pertama.
Ia mengangguk satu kali.
Hanya itu. Ia mengambil amplop itu dan memasukkannya ke saku dasternya tanpa melihat isinya, lalu naik ke bak truk dan duduk di samping etalasenya, menghadap arah yang berlawanan dari gang tempat ia hidup empat puluh tahun.
Kinanti berdiri sebentar di tepi jalan. Tangannya kosong. Debu menempel di lengannya.
Lalu ia menengok.
Ke arahku. Dari seberang jalan, melewati barisan aparat, melewati ekskavator, melewati semua yang runtuh dan semua yang belum.
Satu kali.
Aku tidak mengangkat tangan. Aku tidak bisa. Aku hanya berdiri di sana dengan map yang tidak berguna di dadaku, dan membiarkan ia melihatku melihatnya.
Ia tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk, kecil sekali, seperti orang yang menyetujui sesuatu yang tidak perlu dikatakan. Atau seperti orang yang berpamitan.
Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, ke arah mulut gang yang sama tempat ia menghilang tiga hari lalu, dan aku tidak tahu apakah itu cinta atau rasa bersalah atau keduanya, dan aku tidak tahu apakah aku berhak menuntut jawabannya.
Di belakangku, lengan besi naik, lalu turun. Dinding posko runtuh dengan desah panjang yang sama.
Di dalamnya, di sudut kiri, ada sebuah ember seng yang tidak sempat kuselamatkan. Kosong. Menunggu hujan yang tidak akan datang ke tempat yang sudah tidak ada. #
Depok, 4 Oktober 2026
*Satrio Arismunandar adalah anggota perkumpulan penulis SATUPENA sejak Agustus 2021. Banyak menulis cerpen remaja di majalah Anita Cemerlang, Gadis, dan lain-lain pada 1980-an.
CATATAN:
Cerpen ini dibuat dengan bantuan perangkat Claude AI. Namun, gagasan awal dan pilihan plot cerita ditentukan oleh penulis sendiri. ***