Trump Accounts dan FAFSA: Tabungan Anak Bisa Pangkas Bantuan Kuliah

ORBITINDONESIA.COM – Trump Accounts mendadak jadi pembicaraan karena lebih dari 6 juta anak Amerika sudah didaftarkan sejak peluncuran 4 Juli. Namun di balik janji investasi jangka panjang, banyak keluarga kini bertanya: apakah Trump Accounts akan mengurangi bantuan kuliah lewat FAFSA?

Menurut Departemen Keuangan AS, gelombang pendaftaran terjadi setelah dorongan publikasi besar-besaran jelang peluncuran resmi. Bank of New York Mellon mencatat ada sekitar US$50 juta kontribusi langsung dan hadiah keluarga ke rekening baru itu pada hari-hari awal.

Trump Accounts, juga disebut akun 530A, dirancang sebagai tabungan pensiun tangguhan pajak. Tetapi dana dapat ditarik pada usia 18 tanpa penalti untuk biaya pendidikan tinggi, sehingga otomatis bersinggungan dengan FAFSA dan skema bantuan berbasis kebutuhan.

Di sinilah paradoks muncul: program yang dikemas sebagai “hadiah masa depan” untuk anak, justru bisa mengubah cara negara menilai kemampuan bayar keluarga. Ketika bantuan kuliah semakin kompetitif, detail teknis pelaporan aset menjadi penentu nasib.

FAFSA memakai Student Aid Index untuk memperkirakan berapa besar kontribusi keluarga terhadap biaya kuliah. Rumus ini memasukkan aset dan pendapatan, termasuk tabungan dan investasi, dengan bobot aset siswa umumnya lebih berat dibanding aset orang tua.

Pakar pendidikan Mark Kantrowitz menyebut Trump Account akan dilaporkan sebagai aset siswa pada FAFSA. Jika diperlakukan seperti akun investasi, kebutuhan bantuan dapat turun hingga 20% dari nilai aset, sehingga saldo US$10.000 bisa berarti sekitar US$2.000 lebih sedikit dalam hibah berbasis kebutuhan.

Masalahnya, bahkan keluarga yang tidak menambah setoran pun bisa terdampak karena ada kontribusi awal program percontohan sebesar US$1.000 dari Departemen Keuangan untuk bayi lahir 2025–2028. Kantrowitz menyindir, “The government gives with one hand while taking back with the other,” karena bantuan awal itu berpotensi menggerus bantuan kuliah.

Namun ada tafsir lain yang belum final, dan ini membuat ketidakpastian menjadi isu utama. Konsultan bantuan keuangan Kalman Chany menyatakan akun ini bisa tunduk pada “aturan mirip IRA” setelah masa pertumbuhan berakhir, dan dana pensiun biasanya tidak dihitung sebagai aset yang wajib dilaporkan di FAFSA.

Hingga kini, panduan resmi Departemen Pendidikan AS soal pelaporan Trump Accounts pada FAFSA masih tertunda. Dalam kondisi abu-abu, banyak ahli tetap menyarankan mengambil “uang gratis” jika memenuhi syarat, karena skenario terburuk dianggap tidak melebihi nilai seed money itu sendiri.

Risiko berikutnya datang saat dana benar-benar dipakai untuk kuliah. Panduan Departemen Keuangan menyebut penghasilan dari penarikan akan dikenai pajak sebagai pendapatan biasa, dan pendapatan siswa juga dapat menekan bantuan pada tahun-tahun berikutnya.

FAFSA memang melindungi sebagian pendapatan siswa, tetapi pendapatan di atas ambang batas bisa dinilai hingga 50%. Artinya, keluarga bisa menghadapi dua sisi sekaligus: pajak atas earnings dan penurunan eligibility bantuan pada siklus berikutnya.

Chany menawarkan jalan taktis yang terdengar teknis, tetapi relevan bagi banyak keluarga. Karena penilaian bantuan memakai data pajak “prior-prior year” atau dua tahun sebelumnya, penarikan setelah 1 Januari tahun kedua kuliah dapat mencegah pendapatan itu masuk perhitungan bantuan berikutnya.

Strategi itu pada dasarnya menunda penarikan sampai “keluar dari hutan” bantuan keuangan. Ini mengubah Trump Accounts dari sekadar tabungan, menjadi instrumen yang menuntut kalender pajak dan kalender akademik berjalan beriringan.

Jika fokus utama adalah kuliah, 529 plan tetap terlihat lebih ramah FAFSA. Aset 529 milik orang tua hanya dihitung maksimal 5,64%, jauh di bawah 20% untuk aset siswa, dan penarikannya bebas pajak bila dipakai untuk biaya pendidikan yang memenuhi syarat.

Trump Accounts juga tidak sepenuhnya bersih dari pajak karena kontribusinya bisa campuran pretax dan after-tax, sehingga distribusi tetap sebagian kena pajak. Treasury sendiri menegaskan pada CNBC bahwa Trump Accounts dan 529 “bukan pesaing, melainkan pelengkap,” dengan klaim fleksibilitas sebagai nilai jual utama.

Dari sisi kapasitas setoran, 529 juga menawarkan ruang lebih besar untuk strategi keluarga besar. Aturan hadiah tahun ini memungkinkan pemberian hingga US$19.000 per anak tanpa menghitung ke pembebasan pajak hadiah seumur hidup, dan ada celah bagi kakek-nenek untuk mendanai kuliah tanpa mengganggu eligibility bantuan.

Trump Accounts memperlihatkan pola klasik kebijakan publik modern: program populer dipasarkan lewat angka besar, sementara konsekuensi teknis diserahkan pada keluarga untuk mengurai sendiri. Lebih dari 6 juta pendaftaran terdengar seperti kemenangan, tetapi bagi keluarga berpendapatan menengah-bawah, satu baris pelaporan aset bisa mengubah paket bantuan secara signifikan.

Kritiknya bukan pada ide menabung, melainkan pada desain insentif yang berpotensi memindahkan beban dari negara ke individu secara halus. Seed money US$1.000 tampak seperti dukungan, tetapi jika ia mengurangi hibah, maka dukungan itu berubah menjadi pinjaman sosial yang dibayar lewat peluang.

Ketidakjelasan pedoman Departemen Pendidikan memperbesar ketimpangan informasi. Keluarga yang punya konsultan akan mengatur waktu penarikan dan struktur aset, sementara keluarga yang tidak punya akses akan mengikuti arus dan menerima konsekuensi tanpa sadar.

Di titik ini, Trump Accounts menjadi cermin: kebijakan yang menjanjikan “fleksibilitas” sering kali menuntut literasi finansial tinggi agar tidak berbalik merugikan. Jika negara ingin program ini benar-benar pro-anak, kejelasan aturan FAFSA dan perlindungan bagi penerima bantuan harus menjadi prioritas, bukan catatan kaki.

Trump Accounts membuka peluang menabung dan berinvestasi sejak dini, tetapi juga membawa risiko nyata terhadap bantuan kuliah melalui FAFSA. Di tengah ketidakpastian panduan resmi, keluarga perlu menimbang apakah tujuan utama mereka pensiun jangka panjang atau pembiayaan pendidikan yang lebih segera.

Jika kuliah adalah target utama, 529 plan masih unggul dari sisi pajak dan perlakuan aset, sementara Trump Accounts menuntut strategi waktu penarikan agar tidak memukul eligibility. Pertanyaan yang tersisa sederhana namun menentukan: ketika negara menawarkan “uang gratis,” apakah ia benar-benar hadiah, atau sekadar cara baru mengubah siapa yang menanggung biaya pendidikan?

(Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)