Lagu Toxic Love Creyden: Pop Makassar dan Relasi Tidak Sehat
ORBITINDONESIA.COM – Lagu Toxic Love dari band Makassar Creyden memotret hubungan asmara yang awalnya manis, lalu pelan-pelan berubah jadi relasi tidak sehat yang menguras emosi. Di balik kemasan pop yang ringan, mereka menaruh cermin bagi banyak orang yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena terikat.
Creyden lahir di Makassar pada 2023 dengan empat personel: Nur Fauziah “Zeeya” Nusbah (vokal), Puja (lead guitar), Ray “Regz” Gemilang (drum), dan David “Dei” Reinhard (bass). Nama “Creyden” diambil dari sebuah kota dalam semesta fantasi The Witcher, ide yang dibawa Regz dan disepakati sebagai identitas kolektif.
Yang membuat mereka menonjol bukan hanya asal-usul nama, melainkan konsep “band pop setelah pulang kerja”. Ini bukan gimmick, melainkan konteks sosial: banyak musisi kota besar menjalani musik sebagai ruang bernapas setelah rutinitas profesi harian.
Di Makassar, realitas itu terasa dekat karena ekosistem musik kerap bertumpu pada kerja paruh waktu, panggung komunitas, dan produksi mandiri. Dari situ, Creyden memungut cerita yang paling sering hadir di sekitar mereka: cinta yang tak selalu menyembuhkan.
Toxic Love bercerita tentang seseorang yang masih ingin bertahan karena cinta, tetapi mulai lelah karena luka yang berulang. Narasi ini menempatkan pendengar pada ruang paling sulit dalam relasi: saat logika meminta pergi, namun emosi memaksa tinggal.
Creyden menyorot garis tipis antara cinta, obsesi, dan ketergantungan emosional. Dalam banyak hubungan, pertengkaran bukan satu-satunya masalah; yang lebih berbahaya adalah pola keterikatan yang membuat seseorang memaklumi hal yang semestinya menjadi batas.
Isu ini relevan dengan percakapan publik tentang kesehatan mental dan relasi, terutama di kalangan muda perkotaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan kesehatan mental adalah bagian integral dari kesehatan, dan relasi yang penuh tekanan dapat menjadi salah satu faktor risiko yang memperburuk kesejahteraan psikologis.
Di ranah budaya pop, lagu sering menjadi medium “pengakuan” yang lebih aman daripada percakapan langsung. Ketika Creyden memilih pop sebagai kendaraan, mereka sebenarnya sedang menguji paradoks: nada yang mudah dinyanyikan dipakai untuk membawa tema yang tidak mudah diselesaikan.
Konsep “pop setelah pulang kerja” juga memberi lapisan makna tambahan. Rutinitas kerja membuat banyak orang terbiasa menahan, dan kebiasaan menahan itu kadang terbawa ke relasi, hingga rasa lelah dianggap normal dan luka dianggap bagian dari cinta.
Di titik ini, Toxic Love bukan sekadar lagu patah hati, melainkan kritik halus terhadap romantisasi “bertahan”. Budaya kita sering memuji kesetiaan tanpa bertanya: setia pada siapa, dan dengan harga apa.
Creyden seolah berkata bahwa cinta tanpa batas sehat bisa berubah menjadi mekanisme yang menjerat. Jika sebuah hubungan terus mengulang siklus menyakitkan, maka yang dipertahankan bukan lagi cinta, melainkan ketakutan kehilangan dan kebutuhan untuk merasa “dibutuhkan”.
Namun lagu ini juga menyimpan peluang: ia bisa menjadi pintu refleksi sebelum orang terlanjur menukar martabat dengan harapan. Musik pop yang mudah diakses membuat pesan ini lebih mungkin singgah di telinga yang selama ini menghindari pembicaraan serius.
Toxic Love menegaskan satu hal yang sering kita tutupi: cinta tidak selalu berujung bahagia, dan bertahan tidak selalu berarti kuat. Creyden, dari Makassar, menawarkan cara sederhana untuk melihat ulang relasi: apakah ia menumbuhkan, atau justru mengikis.
Pada akhirnya, pertanyaan yang ditinggalkan lagu ini lebih tajam daripada melodinya. Jika sebuah hubungan membuat kita kehilangan diri sendiri, apakah itu masih cinta, atau hanya kebiasaan yang kita sebut cinta? (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)