Apa yang Dimaksud "Selera Pasar" dalam Karya Sastra?

Mahasiswa membaca buku sastra.

Mahasiswa membaca buku sastra.

Culture

ORBITINDONESIA.COM - Apa itu "selera pasar" dalam karya sastra? Istilah ini biasanya merujuk pada karya yang ditulis atau dipilih penerbit untuk memenuhi permintaan pembaca luas: tema yang sedang laris (romansa, motivasi, horor, kisah religi), alur yang mudah diikuti, dan bahasa yang tidak menuntut kerja keras pembaca.

Di Indonesia, perdebatannya berulang sejak "bacaan liar" dan roman picisan, lalu sastra pop 1970-an, teenlit, hingga novel-novel pasca-media sosial.

Ada dua hal yang perlu dibedakan. Karya yang ditulis untuk pasar adalah soal motif dan cara kerja penulisnya. Karya yang diterima pasar adalah soal hasil. Banyak karya hebat diterima pasar tanpa pernah dirancang untuk itu.

Soal "kits"

Istilah aslinya kitsch (dari bahasa Jerman). Clement Greenberg memopulerkannya dalam esai "Avant-Garde and Kitsch" (1939) untuk seni yang menawarkan efek instan dan emosi siap pakai. Milan Kundera menambahkan sisi sentimentalnya: kitsch membuat kita terharu pada kesan "betapa indahnya", dan terharu pada diri sendiri karena telah terharu.

Jadi kitsch adalah kategori estetis, bukan kategori penjualan. Ia ditandai klise, sentimentalitas pesanan, dan emosi yang tidak diperjuangkan.

Kritikus sastra Narudin Pituin bilang: "Kritikus sastra dahulu menyebut 'karya sastra selera pasar' itu dengan istilah 'kits'. Umumnya karya tersebut ditulis dalam kompetensi bahasa yang lemah dan isinya tidak mengendap."

Pendapat Narudin Pituin itu tepat sebagian, tetapi keliru sebagai generalisasi.

Ia tepat dalam hal kecenderungan. Karya yang disusun mengikuti formula laris memang sering memakai bahasa generik, metafora aus, dan tokoh serta konflik yang mudah ditebak. Pembacanya terhibur, tetapi jarang tersisa sesuatu setelah halaman terakhir.

Ia keliru karena menyamakan selera pasar dengan kualitas rendah, setidaknya karena empat alasan.

Pertama, sejarah sastra penuh karya yang laris sekaligus bermutu. Dickens menerbitkan novelnya secara berseri untuk pembaca massal, dan Shakespeare menulis untuk teater komersial. Di kita, "Bumi Manusia" Pramoedya laris dan tetap dihormati. "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan juga diminati luas dan dipuji kritikus.

Kedua, kitsch tidak eksklusif milik sastra populer. Ada kitsch "serius": puisi yang berpura-pura dalam, metafora gelap tanpa pengalaman di baliknya, atau kesalehan yang klise. Karya yang tak laku tidak otomatis bermutu.

Ketiga, kompetensi bahasa itu beragam. Sebagian penulis populer lemah dalam ketepatan diksi, tetapi unggul dalam ritme, dialog, dan ekonomi cerita. Kemampuan itu juga keterampilan. Sebaliknya, penulis yang dianggap serius bisa saja bahasanya kaku atau pretensius.

Keempat, "isi yang mengendap" baru terbukti lewat waktu. Banyak karya yang dicap hiburan pada zamannya kemudian dibaca ulang sebagai penting. Memastikan hal itu sejak hari terbit lebih mirip prediksi daripada penilaian.

Pierre Bourdieu juga mengingatkan bahwa sastra "murni" pun punya pasar, yaitu pasar prestise: penghargaan, kurasi, dan komunitas kritikus. Menolak pasar uang tidak berarti bebas dari pasar sama sekali.

Pandangan yang lebih tepat

Selera pasar bukan ukuran mutu, baik sebagai bukti buruk maupun sebagai bukti bagus. Ukuran yang lebih berguna adalah orisinalitas penglihatan, ketepatan dan kesegaran bahasa, kedalaman pengalaman yang ditawarkan, dan keberanian menolak klise. Karya laris bisa lolos ujian itu, dan karya "adiluhung" bisa gagal.

Dengan demikian, kritik yang adil tidak berhenti pada pertanyaan "laku atau tidak", tetapi menanyakan: apakah karya ini menawarkan sesuatu yang belum pernah kita rasakan?

(Satrio Arismunandar) ***