Tren Self-Care Gen Z dan Milenial: Belanja Wellness, Abai Skrining

emarketer.com

emarketer.com

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Tren self-care Gen Z dan milenial kian dominan, dari suplemen hingga meal delivery, tetapi ada sinyal bahaya ketika skrining kesehatan justru dihindari. Laporan Aflac (Agustus) menunjukkan 82% Gen Z dan 68% milenial membelanjakan uang untuk wellness, jauh di atas rata-rata lintas generasi 52%.

Di era aplikasi kebugaran dan belanja sekali klik, self-care berubah menjadi paket gaya hidup yang bisa diracik sendiri. Kata kuncinya bukan hanya sehat, melainkan praktis, cepat, dan tampak meyakinkan di cermin.

Aflac mensurvei 2.000 orang dewasa AS pada Maret, lalu memetakan pos belanja seperti vitamin, makanan organik, salon, hingga layanan kesehatan mental. Data itu menggarisbawahi perubahan perilaku: banyak anak muda lebih nyaman “mengelola” kesehatan lewat konsumsi, bukan konsultasi klinis.

Angka paling mencolok datang dari kelompok Gen Z yang sudah berinvestasi pada self-care. Setidaknya 90% dari mereka mengeluarkan uang untuk vitamin dan suplemen (92%), makanan organik (92%), dan meal delivery (90%) menurut Aflac.

Di satu sisi, ini menunjukkan generasi muda serius membangun rutinitas wellness. Namun di sisi lain, survei yang sama mencatat 64% Gen Z dan 59% milenial menghindari sebagian skrining yang direkomendasikan, seperti tes darah dan skrining kanker.

Aflac tidak menyimpulkan hubungan kausal langsung antara belanja self-care dan penghindaran preventive care. Tetapi logika anggaran rumah tangga tetap bekerja: ketika uang terbatas, pilihan sering berubah menjadi pertukaran—antara “merasa sehat sekarang” dan “memastikan sehat lewat deteksi dini”.

Yang membuat tren ini penting adalah sifat self-directed wellness yang menempatkan konsumen sebagai kurator kesehatan mereka sendiri. Produk dan layanan dipilih karena menjanjikan hasil cepat, kemudahan, dan estetika, sementara klinik sering identik dengan antrean, biaya tak jelas, dan jam layanan yang berbenturan dengan kerja.

Di titik ini, self-care bukan sekadar kebiasaan, melainkan pasar yang tahan tekanan ekonomi. Aflac mencatat konsumen berencana mempertahankan atau menaikkan belanja wellness, meski pengeluaran out-of-pocket bisa sangat volatil pada kelompok muda yang finansialnya belum stabil.

Tren self-care Gen Z dan milenial layak diapresiasi karena menandai meningkatnya literasi kesejahteraan. Tetapi ketika wellness menjadi pengganti kunjungan klinis, kita sedang menukar pencegahan berbasis bukti dengan kenyamanan berbasis persepsi.

Belanja suplemen dan makanan organik dapat membantu sebagian orang, tetapi tidak otomatis menggantikan skrining yang mendeteksi penyakit sebelum bergejala. Ada ironi modern: kita makin rajin mengukur langkah dan kalori, namun menunda tes darah yang bisa mengungkap risiko diabetes, anemia, atau gangguan metabolik.

Untuk brand wellness, pertarungan berikutnya bukan hanya iklan, melainkan pembuktian manfaat yang terukur dan tahan lama. Mereka harus menunjukkan cost-effectiveness dibanding opsi lain yang juga memperebutkan dompet konsumen di kanal digital tempat konten kesehatan beredar cepat.

Untuk penyedia layanan kesehatan, masalahnya bukan sekadar edukasi, melainkan friksi pengalaman. Jika membeli suplemen bisa selesai dalam dua menit, maka pendaftaran skrining pun harus bisa semudah itu melalui online scheduling, harga transparan, jam malam, kunjungan virtual preventif, dan paket cek-up plus lab dalam satu kali datang.

Self-care bisa menjadi pintu masuk menuju hidup lebih sehat, tetapi tidak boleh menjadi tirai yang menutupi kebutuhan preventive care. Generasi muda sedang menunjukkan kemauan membayar untuk “wellness”, dan sistem kesehatan perlu menjawab dengan kemudahan yang setara, tanpa mengorbankan akurasi.

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah kita ingin merasa sehat, atau benar-benar memastikan sehat lewat deteksi dini. Di antara keranjang belanja suplemen dan jadwal skrining yang tertunda, masa depan kesehatan publik sering ditentukan oleh pilihan kecil yang berulang. (Orbit dari berbagai sumber, 5 September 2026)