Budaya Kerja Investment Banking: Korban Sehat Demi Gaji Besar

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja investment banking kembali disorot setelah Scott Galloway mengingat pesan tanpa sensor yang disebut datang dari Morgan Stanley kepada karyawan baru. Intinya tegas: korbankan kesehatan, waktu, dan kehidupan pribadi, lalu sebagai gantinya Anda bisa mengalahkan penghasilan orang tua sebelum usia 30.

Kalimat seperti itu terdengar kejam, tetapi justru lahir dari industri yang menjual “kompensasi” sebagai legitimasi pengorbanan. Di banyak bank investasi, jam kerja panjang dan siaga 24/7 diperlakukan sebagai tiket masuk ke kelas pendapatan atas.

Galloway menyebut pesan tersebut tidak mesti salah, melainkan sebuah budaya yang terang-terangan. Ada orang yang memang menginginkan kesepakatan itu, karena imbalannya dianggap sepadan dengan biaya hidup yang dibayar di muka.

Namun masalahnya bukan hanya soal pilihan individu, melainkan soal struktur insentif yang membuat “pilihan” terasa seperti satu-satunya jalan untuk mobilitas ekonomi cepat. Ketika standar kerja ekstrem dinormalisasi, batas antara ambisi dan eksploitasi menjadi kabur.

Di pusatnya ada logika sederhana: jam kerja dibayar mahal karena menghasilkan nilai besar, terutama pada transaksi M&A, IPO, dan pembiayaan korporasi. Semakin cepat tenggat, semakin tinggi tekanan, dan semakin besar kebutuhan tenaga muda yang bisa “dibentuk” mengikuti ritme klien.

Budaya ini tidak muncul dari ruang hampa, karena industri keuangan global selama puluhan tahun memelihara model “up or out”. Mereka yang tahan banting naik kelas, sementara yang tumbang tersisih tanpa banyak ruang kompromi.

Data jam kerja memang bervariasi, tetapi tren keluhan soal beban kerja berulang kali muncul di laporan media bisnis. Sejumlah survei internal dan pemberitaan beberapa tahun terakhir juga menyorot pola kerja 80–100 jam per minggu pada level analis di bank investasi besar.

Konsekuensinya bukan hanya lelah, melainkan risiko kesehatan mental dan fisik yang nyata. Organisasi kesehatan seperti WHO telah mengaitkan jam kerja panjang dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan tertentu, termasuk stres kronis dan masalah kardiovaskular.

Di sisi lain, imbalan finansialnya juga bukan mitos, karena total kompensasi analis dan associate bisa melesat lewat bonus. Struktur ini memperkuat narasi “menderita sekarang, panen cepat,” yang membuat banyak lulusan terbaik tetap mengantri.

Namun ada biaya peluang yang jarang dihitung secara jujur, yaitu relasi yang retak, identitas yang menyempit, dan kemampuan menikmati hidup yang tertunda. Ketika hidup dibingkai sebagai proyek monetisasi, waktu luang berubah dari kebutuhan menjadi rasa bersalah.

Perusahaan sering menjawab kritik dengan program well-being, cuti, atau pembatasan kerja akhir pekan. Tetapi kebijakan semacam itu kerap berbenturan dengan realitas klien, target deal, dan hirarki yang menilai loyalitas lewat ketersediaan.

Di titik ini, pesan “korbankan kesehatan” menjadi semacam kontrak sosial yang tidak tertulis, hanya saja kini diucapkan terang-terangan. Kejujuran brutal itu bisa dianggap transparansi, tetapi juga bisa dibaca sebagai normalisasi risiko.

Pernyataan Galloway menarik karena ia tidak serta-merta mengutuk, melainkan menamai budaya itu apa adanya. Ia menyiratkan bahwa sebagian orang mengincar jalur cepat, dan industri ini menyediakan jalur tersebut dengan syarat yang jelas.

Masalahnya, “sebagian orang” sering dibentuk oleh tekanan sosial dan ekonomi, bukan semata kehendak bebas. Ketika biaya hidup, utang pendidikan, dan kompetisi status meningkat, pilihan ekstrem tampil seperti keputusan rasional.

Di sini kritik yang tajam bukan pada individu yang mengambil jalan itu, melainkan pada glorifikasi pengorbanan sebagai ukuran nilai manusia. Jika harga untuk “mengalahkan penghasilan orang tua” adalah kesehatan yang rusak, maka kemenangan itu patut dipertanyakan.

Budaya kerja investment banking juga menciptakan standar baru di sektor lain, karena perusahaan teknologi, konsultan, bahkan startup meniru etos “hustle” tanpa selalu meniru kompensasinya. Akibatnya, kerja berlebihan menyebar menjadi norma, sementara upah tidak selalu mengikuti.

Transparansi seperti pesan itu seharusnya memicu dua hal sekaligus, yaitu seleksi diri yang lebih sadar dan reformasi yang lebih serius. Jika industri mengakui biayanya, industri juga seharusnya bersedia mengurangi biaya tersebut lewat desain kerja yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, pesan yang dikutip Galloway menyorot dilema klasik: uang cepat versus hidup utuh. Sebagian orang akan tetap memilih jalur itu, dan pilihan itu sah jika benar-benar diinformasikan dan tidak dipaksakan oleh keadaan.

Tetapi masyarakat juga perlu bertanya, mengapa jalan menuju keamanan finansial harus melewati lorong kelelahan yang ekstrem. Jika “sukses sebelum 30” menuntut pengorbanan kesehatan, mungkin yang perlu ditinjau bukan ambisinya, melainkan definisi suksesnya.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)