Utang Kartu Kredit Gen Z Naik, ChatGPT Jadi Pintu Konseling

WISH-TV

WISH-TV

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Utang kartu kredit Gen Z kian menjerat, dan kisah Rahanatou Souley (22) dari Carmel menjadi potret telanjang risikonya. Ia menumpuk utang 9.000 dolar AS setelah memakai kartu kredit untuk kuliah, belanja harian, hingga pernikahan.

Souley mengira membayar minimum sudah cukup untuk menjaga kondisi keuangan tetap aman. Ia baru sadar bunga terus bertambah, meski cicilan tetap berjalan.

“Something I didn’t notice… they add interest… even though you do minimum payments,” katanya. “You have to be very responsible… it will catch up to you eventually.”

Pengalaman itu bukan anomali, melainkan gejala generasi yang hidup di tengah biaya hidup tinggi dan akses kredit yang terlalu mudah. Banyak anak muda memakai kredit sebagai perpanjangan gaji, bukan alat pembayaran yang disiplin.

Data Money Management International (MMI) menunjukkan dewasa Gen Z usia 18-29 memikul rata-rata utang tanpa jaminan 22.848 dolar AS. Segmen ini juga menjadi klien dengan pertumbuhan tercepat di lembaga konseling kredit nirlaba tersebut.

Dalam setahun, MMI mencatat kenaikan 35% klien Gen Z, dengan beban utang rata-rata naik 12% dibanding 2025. Utang tanpa jaminan mencakup kartu kredit, pinjaman pribadi, dan tagihan medis.

Thomas Nitzsche dari MMI menilai masalahnya bukan sekadar “boros”, melainkan rapuhnya bantalan aset. “Younger people… are more reliant on credit as an extension of their income,” ujarnya.

Tekanan itu diperparah oleh pengeluaran bulanan klien baru yang naik 7% menjadi 4.655 dolar AS. Saat biaya hidup membengkak, satu guncangan saja bisa mengubah saldo kartu kredit menjadi lubang panjang.

MMI menyebut banyak klien awalnya mampu melunasi penuh, lalu terperosok setelah insiden besar seperti kehilangan kerja, perceraian, atau rawat inap. Di titik itu, bunga kartu kredit yang rata-rata sudah di atas 23% menjadi mesin pengganda masalah.

Di sisi lain, teknologi mengubah cara orang mencari pertolongan. Pada 2026, ribuan pengguna menavigasi dari ChatGPT ke situs MMI, termasuk lonjakan tiga kali lipat sejak pengalaman personal finance ChatGPT diluncurkan pada Mei.

Pada bulan itu saja, MMI menerima lebih dari 3.000 rujukan dari ChatGPT. Nitzsche menyebut AI “menghangatkan” orang untuk memulai percakapan soal utang, yang sering kali memalukan dan ditunda.

Souley sendiri menemukan MMI lewat perusahaan kartu kredit, bukan lewat pencarian acak. Kini ia membayar 183 dolar AS per bulan untuk dua kartu kreditnya, sambil bekerja dan kuliah.

Kisah Gen Z dan utang kartu kredit sering dipersempit menjadi moral story tentang gaya hidup. Namun artikel ini menunjukkan masalah yang lebih struktural, yakni kombinasi literasi keuangan yang timpang dan produk kredit yang agresif.

Minimum payment dipasarkan sebagai “jalan tengah”, padahal sering menjadi jalan panjang menuju bunga majemuk. Bagi pemula, frasa sederhana itu menyamarkan fakta bahwa utang bisa bertambah meski rutin membayar.

Di sinilah paradoks Gen Z terlihat jelas. Mereka digital native yang cepat mencari jawaban, tetapi tetap bisa tersandung pada konsep dasar bunga dan risiko kredit.

Masuknya ChatGPT sebagai pintu rujukan konseling memberi harapan, namun juga memunculkan tanggung jawab baru. AI bisa mempercepat akses informasi, tetapi tidak boleh menggantikan keputusan finansial yang membutuhkan verifikasi, konteks, dan disiplin.

Ada risiko lain yang mengintai, yaitu penipuan “debt relief” yang memanfaatkan kepanikan. Federal Trade Commission menegaskan, jangan membayar biaya di muka, jangan membagi data pada penelepon tak dikenal, dan waspadai janji “program pemerintah baru” berbayar.

Refleksi paling tajam dari Souley bukan pada jumlah utangnya, melainkan pada kalimat sederhana tentang riset. “You really got to know what you’re getting yourself into,” katanya, dan itu terdengar seperti peringatan untuk satu generasi.

Utang kartu kredit Gen Z bukan sekadar angka, melainkan cerita tentang biaya hidup, ketidakpastian, dan keputusan kecil yang menumpuk menjadi beban besar. Souley mengingatkan bahwa kartu kredit adalah alat yang menuntut pengetahuan, bukan sekadar limit.

Jika AI dapat menuntun orang menuju bantuan, maka masyarakat perlu memastikan bantuan itu benar, aman, dan tidak menjerumuskan. Pertanyaannya, apakah kita sedang membangun generasi yang paham bunga, atau generasi yang hanya paham “klik cari solusi” ketika semuanya sudah terlambat. (Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)