Indratno Widiarto: Membenci China, Bayarnya ke China

Ilustrasi kaus boikot China yang Made in China.

Ilustrasi kaus boikot China yang Made in China.

Opini

Oleh Indratno Widiarto, kolumnis

ORBITINDONESIA.COM - Ada satu ironi dalam dunia bisnis yang rasanya terlalu lucu untuk disebut sebagai lelucon.

Bayangkan kamu begitu membenci sebuah negara sampai ingin menghancurkan ekonominya. Kamu ingin mengirim pesan keras. Kamu ingin menunjukkan bahwa kamu tidak sudi memberikan uang sepeser pun kepada negara itu.

Lalu kamu membeli kaus bertuliskan “Boycott China!”

Kausnya keren. Pesannya tegas. Dadamu membusung penuh patriotisme. Kamu merasa baru saja ikut berjuang menyelamatkan ekonomi negerimu.

Sampai suatu hari, kamu mengetahui bahwa kaus itu diproduksi oleh sebuah pabrik di China.

Dan konon, dari penjualan kaus tersebut, pabrik itu meraup US$450.000.

Selamat. Kamu baru saja mendanai pihak yang sedang kamu protes.

Tentu, kisah dan angka US$450.000 ini perlu diverifikasi secara independen. Namun, jika kita melihatnya sebagai ilustrasi paradoks pasar, ceritanya sungguh menggelitik.

Coba kita bayangkan percakapan di pabrik itu.

“Bos, ada pesanan kaus baru. Tulisannya ‘Boycott China’.”

“Bagus. Berapa banyak?”

“Banyak, Bos. Mereka benar-benar marah kepada China.”

“Kalau begitu, naikkan produksinya!”

“Tapi, Bos... bukankah kita pabrik China?”

Sang bos mungkin mengangkat wajah dari kalkulatornya.

“Anak muda, tugas kita bukan mengurus perasaan pelanggan. Tugas kita memenuhi pesanan mereka.”

Lalu mesin cetak kembali bekerja.

Boycott China!

Boycott China!

Boycott China!

Setiap huruf yang tercetak menghasilkan uang. Setiap kaus yang dikirim menjadi tambahan pemasukan. Dan setiap pelanggan yang merasa sedang berjuang melawan China, tanpa sadar, ikut menyumbang omzet sebuah pabrik China.

Yang satu membeli kaus untuk melawan kapitalisme China. Yang lain menjual kaus untuk memanfaatkan kapitalisme itu.

Si pembeli membayar dengan uangnya. Si penjual menerima uangnya.

Yang satu pulang membawa kebanggaan. Yang lain pulang membawa keuntungan.

Dalam transaksi itu, kemarahan adalah milik pembeli. Keuntungan adalah milik penjual.

Inilah salah satu paradoks paling getir dari ekonomi pasar: pasar tidak harus menyukai ideologimu untuk menghasilkan uang dari ideologimu.

Kamu bisa menjual rasa nasionalisme, kemarahan politik, ketakutan, bahkan kebencian. Selama ada orang yang bersedia membayar, selalu ada pengusaha yang bersedia menyediakan barangnya.

Pedagang tidak harus setuju dengan pesan yang tercetak di produknya. Dia hanya perlu memastikan bahwa pesanan dibayar dan barang terkirim.

Dan jangan buru-buru mengira ini hanya soal China.

Orang bisa membeli kaus antikapitalisme dari perusahaan kapitalis. Aktivis lingkungan bisa mempromosikan gerakan antikonsumsi lewat barang dagangan baru. Bahkan orang yang mengeluhkan budaya pamer bisa membeli merchandise mahal untuk menunjukkan betapa sederhananya gaya hidup mereka.

Manusia memang makhluk yang rumit. Kita bisa menghabiskan uang untuk membuktikan bahwa kita tidak peduli pada uang. Kita bisa membeli produk untuk menunjukkan bahwa kita menolak konsumerisme. Kita bahkan bisa memperkaya seseorang demi menunjukkan bahwa kita ingin membuatnya miskin.

Kalau dipikir-pikir, pasar tidak perlu memenangkan perdebatan ideologi.

Pasar hanya perlu membuat kedua belah pihak bertransaksi.

Jadi, kalau suatu hari kamu ingin memboikot sebuah negara, sebuah perusahaan, atau sebuah merek, silakan saja. Itu hakmu.

Tapi sebelum mengeluarkan dompet, ada baiknya bertanya satu hal:

Apakah uang yang akan kamu keluarkan benar-benar melemahkan pihak yang kamu protes, atau justru sedang mengisi rekeningnya?

Sebab, dalam dunia bisnis, tidak semua orang yang memakai slogan perjuangan sedang berjuang.

Sebagian sedang berdagang.

Dan sebagian lagi, dengan penuh semangat, sedang menjadi pelanggan setianya. ***