Kosmologi: Dialog dengan Semesta di Atas Kanvas Guru Sandiya
ORBITINDONESIA.COM - Di sebuah sudut tenang bernama Montong Kecamatan Batu layar, Lombok Barat tepatnya di Replay Lombok digelar sebuah pameran tunggal yang tak sekadar memamerkan karya, tetapi mengajak setiap pengunjung untuk merenung tentang asal-usul, ruang, waktu, dan tempat manusia di tengah alam semesta yang mahaluas.
Pameran bertajuk "Kosmologi" ini menampilkan 46 lukisan, 3 patung, 6 kleong, dan 8 kendi Maling karya seorang guru seni bernama Sandiya, sosok yang selama ini dikenal tekun menuangkan gagasan besar tentang eksistensi manusia ke dalam bahasa visual yang menyentuh.
Tema "Kosmologi" bukan dipilih tanpa alasan, tema yang mendalami ilmu pengetahuan, Karena kosmologi merupakan cabang yang mempelajari sejarah alam semesta dalam skala besar, asal mula dan evolusinya, dipelajari lintas disiplin mulai dari astronomi, filsafat, hingga agama.
Guru Sandiya menerjemahkan gagasan besar ini bukan dengan rumus atau teori, melainkan lewat sapuan kuas dan bentuk yang mengundang perenungan.
Sebuah dialog kosmologi berlangsung selama tiga jam penuh di tengah pameran ini, membedah makna di balik Tiga karya yang menjadi jantung dalam dialog kami.
Suluh Bayang Kehidupan: Cahaya yang Menerangi Luka dan Bahagia
Karya pertama yang menyita perhatian saya adalah "Suluh Bayang Kehidupan", sebuah lukisan yang paling lama digarap memakan waktu sekitar tiga minggu penuh.
Suluh berarti obor atau cahaya, sementara bayang kehidupan merujuk pada refleksi dari pengalaman hidup manusia. Digabungkan, judul ini menjelma menjadi metafora tentang cahaya yang menerangi bayang-bayang perjalanan hidup kita.
Karya ini adalah ajakan untuk menengok kembali ke dalam diri” memandang ulang pengalaman hidup, baik yang manis maupun yang pahit, dan menariknya menjadi pelajaran.
Ia berbicara tentang kontras abadi antara terang dan gelap, antara kebahagiaan dan kesedihan, dan menegaskan satu kebenaran sederhana: tanpa kegelapan, cahaya kehilangan maknanya.
Tanpa kesulitan, kesuksesan tak lagi terasa berharga. Karya ini mengajak setiap orang menerima kedua sisi kehidupan dengan lapang dada, menjadikan setiap luka sebagai bahan bakar untuk melangkah lebih bijak.
Pale Blue Dot: Rumah Kita yang Rapuh di Tengah Kegelapan
Karya kedua terinspirasi dari salah satu potret paling menggetarkan dalam sejarah astronomi: foto Bumi yang diambil dari jarak sekitar 6 miliar kilometer pada 1990, di mana planet kita hanya tampak sebagai sebuah titik kecil biru pucat, terselimuti bias cahaya matahari di tengah kegelapan luar angkasa yang tak berujung.
"Pale Blue Dot" mengajak kita merenungkan betapa kecilnya panggung tempat seluruh sejarah manusia berlangsung ” cinta, perang, peradaban, gedung-gedung pencakar langit ” semuanya terjadi di atas satu titik debu yang nyaris tak terlihat dari kejauhan angkasa. Karya ini menjadi pengingat untuk menurunkan ego, sebab dunia dengan segala harta dan kekuasaannya hanyalah panggung kecil dan fana.
Namun di balik kerapuhan itu tersimpan keistimewaan: dari miliaran kemungkinan panggung di alam semesta, justru di titik kecil inilah kehidupan dan manusia diberi ruang untuk ada ” diberi kebebasan sekaligus mandat untuk menjaga bumi. Sebuah undangan untuk hidup rendah hati, namun tetap penuh tanggung jawab.
Tersobek-Sobek: Potret Dunia yang Terfragmentasi
Dialog kosmologi ini ditutup dengan karya bertajuk "Tersobek-Sobek" — sebuah refleksi atas dunia yang tercerai-berai dalam skala global.
Karya ini merangkum kegelisahan atas kerusakan lingkungan, polusi, perubahan iklim, dan bencana alam yang terus mengancam; konflik internasional yang menggoyahkan stabilitas dunia; krisis ekonomi yang menghantam banyak negara; hingga trauma kolektif yang ditinggalkan pandemi Covid-19 sejak akhir 2019, yang meninggalkan luka fisik maupun emosional.
Lewat "Tersobek-Sobek", Guru Sandiya menyuarakan kegelisahan yang jujur atas kondisi sosial, politik, dan kekuasaan hari ini ” sebuah cermin yang tak berusaha menyembunyikan kepedihan zaman.
Sebuah Undangan untuk Merenung
Pameran "Kosmologi" bukan sekadar pameran seni rupa biasa. Ia adalah ruang perjumpaan antara sains, filsafat, dan spiritualitas” tempat setiap lukisan menjadi jendela untuk memandang ulang posisi manusia di tengah semesta yang mahaluas namun begitu personal.
Dari cahaya yang menerangi bayang kehidupan, ledakan pertama yang melahirkan segalanya, titik biru pucat yang menjadi rumah kita bersama, hingga dunia yang tersobek oleh krisis zaman. Guru Sandiya mengajak setiap pengunjung untuk pulang ke pertanyaan paling purba: dari mana kita berasal, dan hendak ke mana kita melangkah.
Bagi siapa pun yang ingin menyelami kembali makna hidup lewat kanvas dan bentuk, pameran tunggal "Kosmologi" di Montong, Mataram, adalah ruang perenungan yang layak untuk dikunjungi dan dirayakan.
(Penulis : Diman)