Pepih Nugraha: Makna Kunjungan Xanana Gusmao ke "Rumah Ratapan"

Xanana Gusmao menyanyi di kediaman Jokowi.

Xanana Gusmao menyanyi di kediaman Jokowi.

Opini

Oleh Pepih Nugraha, kolumnis.

ORBITINDONESIA.COM - Di panggung diplomasi internasional, relasi antarnegara lazimnya diukur dengan kalkulasi yang kaku. Neraca perdagangan, perjanjian batas wilayah, atau nota kesepahaman strategis yang diteken di atas meja marmer berbalut lampu gantung kristal, adalah di antaranya.

Namun, apa yang tersaji di sebuah kediaman di kawasan Sumber, Solo, Jawa Tengah, meruntuhkan seluruh baku-baku formalitas tersebut.

Perdana Menteri Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao datang melangkah menembus senja, bukan sekadar sebagai kepala pemerintahan yang membawa agenda birokratis, melainkan sebagai seorang pejuang tua yang hendak menjenguk kawan lamanya, Joko Widodo.

Ada pemandangan yang teramat kontras sekaligus menyentuh ketika Xanana, sosok yang pernah memimpin perlawanan di hutan-hutan Timor Leste sebelum akhirnya memegang kemudi Republik tetangga, tiba-tiba melantunkan tembang legendaris "Bengawan Solo" dengan suara serak khasnya, disusul gestur bersahaja membagikan permen kepada para awak media yang setia menunggu.

Di hadapan mikrofon dan sorot kamera, ia tidak sedang memainkan panggung pencitraan politik. Permen-permen kecil itu bagaikan tetes embun di tengah gurun kepenatan politik global, sebuah metafora sederhana bahwa di balik dinginnya tembok kekuasaan, politik sejati semestinya menyisakan ruang bagi kejenakaan, kerendahan hati, dan senyum kemanusiaan.

Publik lantas dibawa pada sebuah pertanyaan reflektif, mengapa Solo yang dituju? Mengapa langkah kaki sang "Gusmao" tidak singgah ke Cikeas menemui Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), atau menyambung silaturahmi ke Teuku Umar menemui Megawati Soekarnoputri?

Bukankah kedua mantan presiden tersebut merupakan figur-figur sentral yang memiliki lembaran sejarah panjang dan andil besar dalam merajut jembatan rekonsiliasi antara Indonesia dan Timor Leste di masa lalu?

Menjawab pertanyaan ini, kita mesti menengok relasi antarbangsa bukan dari kacamata protokoler semata, melainkan dari kacamata batin seorang manusia.

Hubungan Xanana dan Jokowi memiliki resonansi kultural dan personal yang unik. Keduanya adalah pemimpin yang lahir dari rahim kerakyatan, sama-sama akrab dengan lumpur blusukan, dan kerap mendobrak sekat-sekat formalitas demi menyapa "wong cilik".

Bukan berarti kedekatan Xanana dengan Megawati atau SBY tanpa makna. Megawati adalah saksi sejarah krusial ketika Indonesia di bawah kepemimpinannya menghormati transisi kemerdekaan Timor Leste pada tahun 2002.

Sementara SBY adalah arsitek penting yang bersama Xanana meletakkan fondasi rekonsiliasi melalui Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP).

Hubungan dengan kedua tokoh itu terpatri kuat dalam arsip sejarah resmi kenegaraan.

Namun, perjalanan sunyi Xanana ke Solo menunjukkan dimensi yang berbeda, sebuah ziarah personal untuk merawat kehangatan.

Di teras rumah Jokowi, Xanana seolah menemukan cerminan karakternya sendiri, seorang pemimpin yang telah selesai dengan ambisi jabatannya, yang memilih menikmati hari tua dengan kesahajaan.

Ketika Xanana memuji cara kepemimpinan Jokowi yang menjangkau hingga ke pelosok Nusantara, ia sedang memandang saudaranya sesama pengabdi rakyat dari kacamata empati yang tulus.

Melalui lawatannya ke Solo, Xanana Gusmao seolah hendak mengingatkan kita semua bahwa persahabatan sejati antarbangsa tidak melulu dipelihara di Istana Kepresidenan yang megah.

Kadang-kadang, ia cukup dirawat di teras rumah sederhana, ditemani alunan musik keroncong, secangkir teh, dan senyum tulus yang melintasi batas-batas teritorial negara.

Sejarah ternyata tidak hanya ditulis oleh perjanjian-perjanjian agung yang diteken para pemimpin di atas kertas putih, tetapi juga oleh ingatan-ingatan kecil yang menyentuh hati.

Seperti bait lagu yang dinyanyikan bersama di Solo, atau sebutir permen manis yang dibagikan seorang perdana menteri kepada para kuli tinta di tengah terik matahari.

Sebuah pesan filosofis yang sunyi, bahwa kemanusiaan adalah jembatan paling abadi di atas segala perbedaan zaman.

"Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke.... Solo".

Vilajati, 4 September 2026