Summit Selfcare Nigeria 2026: Ekosistem Kesehatan dan Wellness Terhubung
ORBITINDONESIA.COM – Summit selfcare Nigeria kembali digelar di Lagos, membawa tema “The Selfcare Ecosystem” yang menghubungkan pilar kesehatan fisik, mental, emosional, dan sosial. Di saat tekanan hidup modern kian menumpuk, D’Bio Wellness & Selfcare Summit 2026 menantang publik untuk berhenti sekadar sadar, lalu mulai bertindak.
Lagos akan menjadi titik temu para pemangku kepentingan kesehatan dan wellness pada 8–9 September 2026 di Radisson Blu Hotel, Ikeja. Edisi ketiga D’Bio Wellness & Selfcare Summit menempatkan selfcare sebagai fondasi pencegahan penyakit dan penguat sistem kesehatan.
Penyelenggara menyebut peserta datang dari lintas sektor, mulai dari pembuat kebijakan hingga komunitas akar rumput. Tujuannya jelas, membangun budaya perawatan diri yang tak berhenti di seminar, tetapi turun ke kebiasaan harian.
Konsep yang diusung tidak sempit, karena membahas fisik, mental, emosional, sosial, lingkungan, pekerjaan, finansial, hingga spiritual. Pesan ini terasa relevan ketika banyak orang tampak “baik-baik saja” di ruang publik, namun memikul beban sunyi di ruang privat.
Kontras itu yang mendorong hadirnya “Expression Phase”, kampanye kreatif sebulan penuh yang memakai musik dan seni sebagai pintu masuk percakapan kesehatan mental. Rappers, penyanyi, spoken-word, dan penyair diminta mengisi open verse lagu tema, agar pengalaman personal bisa dibagikan tanpa penghakiman.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan depresi dan kecemasan menyebabkan hilangnya sekitar 12 miliar hari kerja setiap tahun, dengan kerugian produktivitas sekitar US$1 triliun. Angka ini menunjukkan kesehatan mental bukan isu pinggiran, melainkan variabel ekonomi yang nyata.
Di banyak negara, sistem kesehatan juga kerap tersedot ke kuratif, sementara pencegahan tertinggal. Ketika selfcare dipahami sebagai “ekosistem”, ia memaksa kita melihat kaitan tidur, gizi, stres, hubungan sosial, dan keamanan finansial sebagai satu rangkaian.
Summit ini mencoba mengisi celah itu lewat panel, sesi interaktif, pameran, dan forum berbagi pengalaman. Format tersebut penting, karena pengetahuan kesehatan sering gagal menjadi perilaku akibat tidak ada dukungan sosial, alat ukur, dan lingkungan yang memudahkan.
Ketua summit, His Royal Majesty Igwe (Pharm.) Alexander Uzodinma Onyido, dan keynote oleh Pharm. Olayinka Subair, memberi sinyal bahwa agenda ini ingin dibaca sebagai gerakan lintas otoritas. Namun legitimasi simbolik hanya akan kuat jika diterjemahkan menjadi program kerja yang terukur di komunitas.
Dr. Monica Hemben Eimunjeze menegaskan, “Selfcare is not a luxury—it is a necessity for healthier individuals, stronger families, productive workplaces, and resilient communities.” Pernyataan ini tepat, tetapi sekaligus mengundang pertanyaan: siapa yang menanggung biaya selfcare ketika akses layanan, waktu luang, dan keamanan kerja tidak merata.
Di sinilah kampanye seni “Expression Phase” menarik, karena ia memulai dari bahasa yang paling dekat dengan publik, yakni emosi dan cerita. Seni dapat memecah stigma, tetapi ia juga berisiko menjadi “konten” semata jika tidak diikuti rujukan bantuan profesional dan jalur layanan yang jelas.
Gagasan “selfcare” sering dipromosikan sebagai solusi personal, padahal banyak faktor penentu kesehatan bersifat struktural. Jika narasi selfcare tidak hati-hati, ia bisa berubah menjadi beban moral baru, seolah orang sakit hanya kurang disiplin.
Karena itu, tema “Selfcare Ecosystem” seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap pendekatan yang terlalu individualistik. Ekosistem berarti ada sekolah, tempat kerja, lingkungan, media, dan kebijakan yang ikut menentukan apakah seseorang bisa merawat dirinya.
Summit ini berpotensi menjadi ruang negosiasi penting antara industri wellness dan kesehatan publik. Tantangannya adalah menjaga agar agenda tidak jatuh menjadi pasar produk, melainkan tetap berpijak pada literasi, pencegahan, dan akses yang adil.
Jika diskusi menyentuh isu pekerjaan yang melelahkan, biaya hidup, dan tekanan sosial, maka selfcare menjadi lebih jujur. Jika tidak, selfcare hanya akan terdengar seperti slogan yang indah, tetapi jauh dari realitas mayoritas.
D’Bio Wellness & Selfcare Summit 2026 menghadirkan momentum untuk menghubungkan kesehatan fisik, mental, dan sosial dalam satu peta yang utuh. Ia juga mengingatkan bahwa keberanian berbicara, seperti yang didorong “Expression Phase”, adalah langkah awal untuk memutus isolasi emosional.
Namun ujian sesungguhnya bukan pada panggung, melainkan pada tindak lanjut yang bisa diakses publik setelah acara usai. Jika selfcare adalah ekosistem, pertanyaannya sederhana: apakah ekosistem itu akan dibangun untuk semua orang, atau hanya untuk mereka yang sudah punya sumber daya.
(Orbit dari berbagai sumber, 22 September 2026)