Kematian ASN di Kementerian Iklim: Bullying dan Krisis SDM

The Korea Times

The Korea Times

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kematian seorang ASN junior di Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan memicu sorotan tajam pada dugaan workplace bullying dan beban kerja berlebihan. Ia ditemukan meninggal di rumahnya di Sejong pada 16 Juli, dan sejak itu keluhan tentang kultur kerja serta kekurangan pegawai kembali menguat.

Peristiwa ini terjadi di kementerian baru yang lahir dari penggabungan fungsi, tetapi membawa warisan masalah lama. Di dalamnya, friksi budaya kerja antara pejabat pindahan dari Kementerian Lingkungan dan eks Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi disebut masih terasa.

Setelah kematian ASN tersebut, tudingan mengarah pada atasan yang dituduh melakukan perundungan di tempat kerja. Atasan itu telah dibebastugaskan sementara menunggu hasil penyelidikan.

Rekan kerja menyebut korban menghadapi tuntutan kualitas kerja tinggi tanpa bimbingan memadai. Mereka juga menuding permintaan dukungan justru dibalas teguran, bukan bantuan.

Polisi menyelidiki penyebab kematian dengan memeriksa orang terdekat dan meninjau catatan terkait. Kantor audit kementerian membuka investigasi internal dan disebut mengumpulkan bukti dari keluarga korban.

Menteri Kim Sung-whan menyatakan kementerian akan menilai apakah praktik kerja dan budaya organisasi membuat pegawai kelelahan atau tertekan. Ia juga menulis di Facebook bahwa audit internal berjalan paralel dengan penyelidikan polisi.

Pernyataan itu penting, tetapi tidak otomatis menyentuh akar masalah yang bersifat struktural. Dalam banyak kasus birokrasi modern, tragedi personal sering beririsan dengan desain kerja yang buruk dan kontrol manajerial yang lemah.

Kementerian ini memikul agenda besar, termasuk target penurunan emisi gas rumah kaca nasional dan penyusunan rencana pasokan listrik serta air untuk tiga proyek nasional skala besar. Namun para pegawai menyebut beban itu tidak diimbangi penambahan personel yang sepadan.

Di titik ini, isu “kekurangan pegawai” berubah dari keluhan administratif menjadi faktor risiko keselamatan kerja. Beban yang menumpuk membuat ruang untuk mentoring, pengecekan kualitas, dan dukungan psikologis menyempit.

Kementerian berencana membentuk task force yang terutama diisi ASN junior dan menggelar sesi dengar pendapat. Langkah ini terdengar partisipatif, tetapi sebagian pegawai tetap skeptis apakah forum semacam itu akan menghasilkan perubahan nyata.

Skeptisisme itu beralasan karena reformasi budaya kerja sering berhenti pada simbol, bukan sistem. Tanpa perbaikan indikator kinerja atasan, perlindungan pelapor, dan pembatasan beban kerja, “mendengar” bisa menjadi ritual, bukan solusi.

Serikat Pegawai Pemerintah Korea cabang kementerian iklim akan mulai menghimpun pandangan pegawai setelah masa berkabung berakhir. Mereka juga berencana meminta menteri bertanggung jawab atas insiden ini.

Dugaan bullying di kantor pemerintah bukan sekadar masalah etika individu, melainkan masalah tata kelola. Ketika target ambisius dikejar dengan SDM minim, tekanan cenderung mengalir ke level paling lemah, yakni ASN junior.

Budaya “hasil dulu, manusia belakangan” sering disamarkan sebagai profesionalisme. Padahal profesionalisme sejati justru menuntut pembagian kerja masuk akal, arahan jelas, dan mekanisme koreksi yang tidak menghukum orang yang meminta bantuan.

Pembebasan tugas sementara terhadap atasan terduga pelaku adalah sinyal awal, tetapi belum cukup. Publik perlu melihat standar pembuktian yang transparan, sanksi yang tegas jika terbukti, dan pemulihan yang serius bagi unit kerja yang terdampak.

Jika kekurangan pegawai dibiarkan, kementerian hanya memindahkan beban dari satu meja ke meja lain. Dalam situasi seperti itu, investigasi bisa menemukan pelaku, tetapi sistem tetap memproduksi kondisi yang sama.

Yang dibutuhkan adalah audit beban kerja berbasis data, bukan sekadar testimoni. Ukuran konkret seperti rasio tugas per pegawai, jam lembur, rotasi, dan kualitas supervisi harus menjadi dasar perombakan, bukan pelengkap rilis pers.

Kematian ASN junior ini menampar klaim bahwa institusi publik selalu aman dan tertata. Ia mengingatkan bahwa kebijakan iklim yang besar membutuhkan organisasi yang sehat, bukan hanya target yang indah.

Jika kementerian benar-benar ingin mencegah tragedi serupa, mereka harus berani mengoreksi kultur komando dan memperbaiki desain kerja yang menekan. Pertanyaannya sederhana, apakah negara siap mengukur keberhasilan bukan hanya dari capaian program, tetapi juga dari keselamatan dan martabat orang yang mengerjakannya.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 September 2026)