Burnout Dokter Muda, ADHD dan Autisme Terungkap di UK

The Times of India

The Times of India

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Burnout dokter muda dan kesehatan mental tenaga medis kembali disorot setelah kisah seorang intern medis asal India viral di Instagram. Ia pindah ke Inggris demi work culture yang lebih manusiawi, lalu menemukan akar masalahnya: ADHD dan autisme yang tak pernah terdiagnosis.

Dalam unggahan akun Instagram “the soul next door”, ia menggambarkan masa internship di India seperti “tenggelam saat orang lain berenang”. Ia merasa lebih cepat lelah dibanding rekan, tetapi justru menyalahkan diri sendiri.

Ketika sakit, ia berharap empati dan penyesuaian kerja. Yang datang malah rasa curiga, tuduhan menghindar, dan desakan untuk segera kembali bertugas.

Polanya khas lingkungan kerja yang mengagungkan ketahanan fisik sebagai standar moral. Di titik ini, burnout tidak lagi dibaca sebagai sinyal sistem yang bermasalah, melainkan dianggap kelemahan individu.

Ia lalu memilih migrasi sebagai jalan keluar. Inggris dibayangkan sebagai ruang kerja yang lebih seimbang, dengan struktur dukungan yang lebih jelas untuk tenaga kesehatan.

Namun, perpindahan negara tidak otomatis memutus pola “bekerja dua kali lebih keras”. Bahkan di Inggris, ia mengaku dorongan itu tetap ada, begitu pula sakit yang berulang.

Bagian paling tajam dari kisah ini bukan perpindahan negaranya, melainkan perubahan pertanyaan di tempat kerja. Di India ia ditanya “kapan kembali”, sedangkan di Inggris ia ditanya “mengapa kamu kesulitan”.

Perbedaan pertanyaan itu menunjukkan perbedaan paradigma: produktivitas sebagai tujuan tunggal versus keselamatan kerja sebagai prasyarat. Di titik ini, dukungan institusional menjadi faktor penentu, bukan sekadar “mental kuat”.

Di Inggris, ia dirujuk ke occupational psychologist dan diberi cuti lebih panjang. Dari proses itu, ia mendapat diagnosis ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) dan autisme, dua kondisi neurodevelopmental yang sering luput pada orang dewasa.

Secara klinis, ADHD dan autisme dapat memengaruhi regulasi atensi, sensitivitas sensorik, manajemen energi, dan fungsi eksekutif. Lingkungan kerja dengan jam panjang, tekanan tinggi, dan minim struktur dapat memperparah kelelahan hingga burnout.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan burnout sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, dan menekankan dimensi tempat kerja, bukan sekadar karakter personal. Dalam praktiknya, banyak institusi masih memaknai burnout sebagai “kurang tahan banting”, sehingga intervensi berhenti pada motivasi dan disiplin.

Data juga menunjukkan isu ini luas pada profesi kesehatan. Tinjauan sistematis di JAMA Network Open (2019) melaporkan prevalensi burnout pada dokter berkisar sekitar 44%, meski angka bervariasi antar studi dan negara.

Di sisi lain, diagnosis neurodiversity pada dewasa kerap terlambat karena stereotip dan bias penilaian. NICE di Inggris memiliki panduan klinis untuk pengenalan dan penanganan ADHD serta autisme, termasuk penyesuaian di tempat kerja, yang membuat jalur bantuan lebih mungkin diakses.

Kisah ini memperlihatkan bahwa “bekerja lebih keras” sering menjadi strategi bertahan yang justru memperburuk kondisi. Ketika tubuh menolak, sistem yang tidak punya mekanisme dukungan akan membaca sakit sebagai pembangkangan.

Di ruang kerja yang lebih suportif, sakit dibaca sebagai data, bukan dosa. Pertanyaan “mengapa kamu kesulitan” membuka pintu asesmen, akomodasi, dan pemulihan yang realistis.

Viralnya kisah ini mengungkap bias paling berbahaya dalam dunia kerja medis: penderitaan dianggap normal. Normalisasi itu membuat banyak orang bertahan dalam mode darurat, lalu menertawakan diri sendiri ketika akhirnya runtuh.

Budaya “tahan banting” sering terlihat heroik, tetapi sebenarnya mahal dan boros. Ia menghabiskan tenaga kerja terlatih, memicu kesalahan klinis, dan menukar keselamatan pasien dengan kebanggaan institusi.

Yang juga mengganggu adalah cara sakit diperlakukan sebagai kecurangan. Ketika pekerja dicurigai saat demam atau kolaps, sistem sedang mengatakan bahwa manusia hanya bernilai selama masih bisa diperas.

Diagnosis ADHD dan autisme di kisah ini bukan sekadar label medis. Ia menjadi bahasa baru untuk memahami diri, sekaligus bukti bahwa kegagalan yang tampak sering adalah ketidakcocokan lingkungan, bukan kerusakan personal.

Namun, kita juga perlu jujur bahwa tidak semua orang punya privilese untuk pindah negara demi menemukan sistem yang lebih peduli. Maka pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana institusi di mana pun berada bisa meniru hal paling sederhana itu: bertanya, mendengar, lalu menyesuaikan.

Jika satu pertanyaan dapat mengubah hidup seseorang, maka diamnya lingkungan kerja bisa menjadi kekerasan yang pelan. Dan di profesi medis, kekerasan pelan itu sering disamarkan sebagai “tradisi pendidikan”.

Burnout dokter muda, kesehatan mental tenaga medis, dan isu neurodiversity seharusnya tidak menunggu viral untuk dipercaya. Kisah intern asal India ini menegaskan bahwa dukungan, rujukan profesional, dan akomodasi kerja bisa mengubah narasi dari “aku lemah” menjadi “aku butuh sistem yang tepat”.

Pada akhirnya, pertanyaan paling manusiawi di tempat kerja bukan “kapan kamu kembali”, melainkan “apa yang membuatmu kesulitan”. Berapa banyak orang di sekitar kita yang sebenarnya tidak gagal, tetapi hanya belum pernah ditanya dengan cara yang benar? (Orbit dari berbagai sumber, 14 Oktober 2026)