Bawa Kesenian Sulsel Keliling 8 Festival di Prancis, Soni Drestiana Yusaf Raih Penghargaan Khusus Festival Montoire

Rombongan kesenian Sulawesi Selatan.

Rombongan kesenian Sulawesi Selatan.

Culture

ORBITINDONESIA.COM - Dedikasi Ir. Soni Drestiana Yusaf, MM, penggiat seni berdarah Minang, wakil ketua International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) membuahkan apresiasi internasional.

Ia menerima penghargaan khusus dari Festival Montoire, Prancis, atas keberhasilannya membawa rombongan kesenian Sulawesi Selatan keliling dan tampil dalam 8 festival folklore bergengsi di berbagai kota di Prancis pada Juli–Agustus 2026.

Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden Festival Montoire, Philippe Proust, sebagai bentuk pengakuan atas kerja keras Soni menghadirkan seni Indonesia ke panggung dunia.

“Saya tidak menyangka akan menerima penghargaan khusus ini. Karena bisa membawa Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, ke panggung Festival Folklore ini sudah merupakan kebanggaan bagi saya,” ujar Soni di Jakarta, Jumat 29 Agustus 2026.

45 Hari, 8 Kota, 8 Festival

Perjalanan budaya ini berlangsung selama 45 hari, mulai 10 Juli hingga 24 Agustus 2026. Rombongan Sulawesi Selatan tampil di delapan festival, yaitu:

59th Festival Des Cultures du Monde Chambéry, 58th Festival Les Nuits de Montseveroux, 62nd Festival Interfolk Le Puy-en-Velay, Festival de Montignac, Festival de Pujols, 83rd Festival d’Amélie-les-Bains, 53rd Festival de Montoire Loir-et-Cher, dan 65th Festival du Houblon – Haguenau.

Menurut Soni, persiapan untuk tur sepanjang 45 hari itu tidak mudah. Mulai dari logistik, administrasi, hingga kesiapan artistik harus dipikirkan matang-matang.

“Tentu saja persiapan perjalanan budaya ini tidak mudah, banyak hal yang dipersiapkan dan dipertimbangkan. Melihat tim ini bisa berada di sini sudah merupakan kebanggaan,” katanya.

Apresiasi dari Prancis

Dalam surat keterangannya, Philippe Proust menyebut penghargaan ini diberikan karena dedikasi Soni dalam menghadirkan tim kesenian Sulawesi Selatan ke panggung internasional, khususnya di Kota Montoire.

Tahun ini hanya ada dua penghargaan khusus yang diberikan, satu untuk Soni Drestiana dari Indonesia dan satu lagi untuk penggiat seni dari India.

Festival folklore di Prancis memang menjadi agenda seni rakyat musim panas yang dinanti masyarakat Eropa. Setiap kota penyelenggara rutin menggelar sejak lebih dari 40 tahun lalu dan diikuti 8–10 negara dari lima benua.

Jejak Panjang Persahabatan Sejak 1984

Penghargaan ini juga menjadi penanda eratnya hubungan Sanggar Tari Syofyani, tempat Soni berkegiatan, dengan Festival Montoire. Persahabatan itu dimulai sejak 1983 saat Presiden Festival Montoire saat itu, Jean-Francois Proux, berkunjung ke sanggar di Bukittinggi.

Ketertarikan terhadap budaya Minangkabau membuat Sanggar Syofyani diundang kembali pada 1984, 1991, 1997, 2012, dan 2023.

Menerima penghargaan itu, Soni mengaku sampai meneteskan air mata. “Saya dedikasikan penghargaan ini untuk para pelopor yang telah mendahului,” ujarnya haru.

Dari Kurator hingga Duta Budaya

Berbekal pengalaman, Soni sebelumnya juga dipercaya menjadi kurator dan pendamping tim yang diundang Festival Montoire, seperti tim Kalimantan Timur 2015 dan tim Papua 2017. Pada 2026, ia mendampingi tim Sulawesi Selatan yang sukses menampilkan kesenian khas daerah, termasuk tarian Ila Ga Ligo.

Tahun ini Soni berangkat bersama grup Ida El Bahra Management yang dipimpin Dr. Nurwahidah, S.Pd., M.Hum., serta didampingi Muhammad Aulia Rahmat dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.

Kehadiran rombongan ini dinilai memperkuat diplomasi budaya Indonesia-Prancis. “Penghargaan dari Festival Montoire menjadi pengakuan atas peran penting Soni Drestiana Yusaf dalam membuka jalan bagi lebih banyak seniman Indonesia untuk tampil di forum internasional,” tutupnya. ***