Genmuda ISRI Luncurkan AI Pancasila, Dorong Literasi Ideologi Berbasis Sumber Terverifikasi

Genmuda ISRI Luncurkan AI Pancasila.

Genmuda ISRI Luncurkan AI Pancasila.

Culture

ORBITINDONESIA.COM — Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI) meluncurkan AI Pancasila, sebuah asisten kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk membantu masyarakat mempelajari Pancasila, UUD 1945 maupun Wawasan Kebangsaan Indonesia berbasis sumber sejarah dan dokumen yang telah dikurasi.

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Kursus Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (IWAK) Seri #5 bertajuk “Pancasila Era AI: Edukasi Netizen Gen Z dan Antisipasi Distraksi Digital”, Jumat, 28 Agustus 2026.

Peluncuran AI Pancasila tersebut dilakukan di tengah semakin masifnya penggunaan Google, media sosial, YouTube, dan AI generatif sebagai sumber informasi generasi muda.

Genmuda ISRI menilai kondisi itu sekaligus menghadirkan risiko baru berupa distorsi informasi, termasuk mengenai sejarah dan nilai-nilai Pancasila, ketika informasi yang cepat beredar tidak selalu ditopang sumber yang dapat diverifikasi.

Kursus IWAK yang diselenggarakan secara daring itu menghadirkan Dr. Giri Ramanda Kiemas, S.E., M.M., anggota DPR RI; Dr. Muhammad Rizky Pribadi, M.Kom., Ketua Bidang Pendidikan, Riset, dan Inovasi Genmuda ISRI; serta Prof. Dr. M. Sabri, M.A., Direktur Pengkajian Kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP. Diskusi dipandu Mas Uliatul Hikmah, Ketua Bidang Kependudukan dan Pembangunan Manusia Genmuda ISRI.

Ketika Informasi Keliru Berulang Menjadi “Kebenaran”

Giri Ramanda Kiemas menyoroti kerentanan generasi muda terhadap distorsi sejarah di ruang digital, termasuk mengenai sejarah lahirnya Pancasila dan pemikiran para pendiri bangsa.

Menurut Giri, informasi yang keliru dapat terus diproduksi dan direproduksi oleh algoritma maupun AI hingga akhirnya dianggap sebagai fakta.

Ia menyebut setidaknya terdapat tiga persoalan utama, yaitu reproduksi otomatis, ketika AI mengambil informasi dari internet tanpa memastikan sumber primernya; amplifikasi kekeliruan, ketika informasi yang tidak valid terus disalin, diringkas dan dikutip ulang; serta viralitas yang mengalahkan akurasi, ketika informasi yang cepat menyebar lebih dipercaya dibandingkan hasil penelitian atau arsip sejarah. Karena itu, Giri menekankan pentingnya membangun literasi sejarah berbasis sumber yang dapat diverifikasi.

“Gen Z dan Gen Alpha adalah generasi baru yang melihat dunia serba cepat dan serba digital. Pemahaman tentang ideologi negara Pancasila harus menyesuaikan dengan zaman. Salah satunya kita harus memberikan informasi yang benar tentang Pancasila dan sejarahnya melalui pendekatan kekinian, terutama menggunakan teknologi AI,” ujar Giri.

Ia juga mengingatkan agar teknologi tidak menjadi satu-satunya rujukan dalam memahami sejarah Indonesia. “Jangan biarkan algoritma internet menjadi guru sejarah bangsa. Mengembalikan peran Sukarno sebagai penggali Pancasila bukan glorifikasi dan mengakui kontribusi pendiri bangsa lainnya bukan anti-Sukarno. Itulah cara menghormati sejarah secara utuh berdasarkan bukti,” katanya.

Empat Tingkat Sumber Sejarah

Dalam Kursus IWAK tersebut, Giri memperkenalkan empat tingkat sumber yang dapat digunakan untuk memeriksa informasi sejarah Pancasila.

Tingkat pertama adalah sumber primer, seperti Risalah BPUPK/PPKI, teks Pidato 1 Juni, dan arsip ANRI. Tingkat kedua adalah sumber resmi negara, antara lain publikasi ANRI, Sekretariat Negara, dan BPIP. Tingkat ketiga adalah literatur akademik, seperti disertasi, jurnal sejarah, dan buku akademik yang telah melalui proses ilmiah. Sementara konten digital seperti Wikipedia, blog, video TikTok/YouTube, dan konten AI generatif perlu ditempatkan sebagai sumber yang harus diverifikasi kembali.

AI sebagai Alat, Pancasila sebagai Kompas

Dr. Muhammad Rizky Pribadi menyoroti risiko halusinasi pada AI, yakni ketika sistem menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi tidak sesuai dengan fakta.

Menurut Rizky, persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika AI digunakan untuk membahas hal-hal fundamental sejarah, ideologi, dan Pancasila.

“Memanfaatkan AI untuk Pancasila berarti kita mengintegrasikan etika kebangsaan ke dalam algoritma. Teknologi harus mengabdi pada kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial. Kita tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga memastikan nilai-nilai luhur Pancasila menjadi kompas moral dalam pengembangan AI di Indonesia,” kata Rizky.

Dalam kesempatan tersebut, Rizky mendemonstrasikan AI Pancasila yang dikembangkan bersama Giri Ramanda Kiemas. Platform tersebut dapat diakses publik melalui https://aipancasila.my.id/ dan ditujukan untuk pelajar, mahasiswa, guru, dosen, serta masyarakat yang ingin mempelajari Pancasila dan keindonesiaan.

Berbeda dari model AI generatif populer, yang bisa menjawab berbagai pertanyaan. AI Pancasila hanya diperkenankan menjawab pertanyaan tentang Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Indonesia. Jawaban berdasarkan kumpulan dokumen resmi yang telah dikurasi dan diverifikasi — antara lain terbitan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), pidato dan karya asli Ir. Sukarno, arsip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan sumber-sumber otentik lainnya.

Sampai saat ini, ada 3.646 halaman dokumen asli diperiksa satu per satu, 32 dokumen resmi terkurasi, dan melalui 5 tahap verifikasi manual per dokumen. Sehingga setiap jawaban selalu mencantumkan rujukan sumber yang menjadi dasar informasi.

AI Pancasila ini telah terdaftar Hak Cipta dan tengah masuk tahap peer review jurnal ilmiah bereputasi internasional Q1 Scopus CiteScore dengan judul Mitigating Hallucination in Large Language Models for Pancasila State Ideology Using Hybrid Parent-Child Retrieval-Augmented Generation.

“Kami tidak sehebat Ir. Sukarno yang mempersembahkan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Kami hanya meneruskan ide-idenya dengan menciptakan AI Pancasila untuk generasi penerus bangsa Indonesia,” ujar Rizky.

Pancasila Tidak Boleh Menjadi “Fosil”

Prof. Dr. M. Sabri menyoroti persoalan dari sisi pembinaan ideologi. Menurutnya, ruang kesadaran generasi muda kini mengalami pergeseran dari realitas objektif menuju realitas digital.

Pancasila, kata Sabri, tidak cukup diwariskan sebagai teks. Nilai-nilainya harus terus digali, dipahami, dan diberi konteks agar tetap mampu menjawab tantangan zaman.

Ia mengingatkan bahwa Pancasila yang hanya diwariskan tanpa pendalaman dapat berubah menjadi “fosil” yang kehilangan daya jawab terhadap persoalan kontemporer.

Sabri memaparkan tiga dimensi penguatan Pancasila yang dikembangkan BPIP, yaitu keyakinan, pengetahuan, dan keteladanan. Menurutnya, teknologi dapat membantu memperluas pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan keteladanan dan pengalaman sosial yang hidup di masyarakat.

“AI populer di masyarakat memberikan jawaban cepat, tetapi tidak selalu mendalam. Keteladanan yang hidup sehari-hari di masyarakat kita tidak ada dalam AI. Ideologi harus filosofis, tetapi juga perlu dimudahkan menjadi bahasa kekinian,” ujar Sabri.

Ia menyambut baik pengembangan AI Pancasila dan kesiapannya memberikan dukungan berupa sumber historis dan akademis untuk memperkuat basis pengetahuan platform tersebut.

Disambut Antusias Peserta

Diskusi berlangsung interaktif. Peserta yang terdiri dari guru, mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum mengajukan pertanyaan secara langsung maupun melalui kolom chat mengenai penggunaan AI untuk aktualisasi nilai-nilai Pancasila, persoalan kebangsaan di era digital, serta rendahnya pemahaman sebagian generasi muda terhadap Pancasila.

Sejumlah peserta juga mendorong lahirnya inovasi digital lainnya agar Pancasila dapat dipelajari Gen Z dan Gen Alpha melalui bahasa dan media yang dekat dengan keseharian mereka.

Antusiasme tersebut antara lain terlihat dari Andi Ruhban, dosen Poltekkes Kemenkes Makassar, yang mengampu lima kelas mata kuliah Pancasila menyatakan keinginannya untuk langsung membagikan tautan AI Pancasila kepada mahasiswanya.

Sebagai kelanjutan dari pengembangan AI Pancasila tersebut, Ketua Umum Genmuda ISRI Diasma Sandi Swandaru menyampaikan agar AI Pancasila ini semakin pintar, masyarakat bisa berpartispasi turut ambil bagian dengan mengirimkan dokumen, buku, tesis - disertasi maupun hasil penelitian yang terpublikasi di jurnal bereputasi internasional sesuai tema terkait ke email generasimuda.isri@gmail.com. Selain itu, Bidang PEndidikan, Riset dan Inovasi Genmuda ISRI juga merencanakan pengembangan game Pancasila dengan pendekatan permainan digital yang dekat dengan generasi muda masa kini. “Semoga produksi pengetahuan ini nanti bisa terlaksana dan mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat” ungkapnya.

Kursus IWAK Seri #5 menegaskan bahwa kehadiran AI dalam kehidupan generasi muda bukan lagi semata persoalan boleh atau tidak boleh digunakan. Tantangannya adalah bagaimana teknologi digunakan secara bertanggung jawab, berbasis sumber yang jelas, dan tetap menempatkan Pancasila sebagai nilai yang mengarahkan cara manusia menggunakan teknologi.

Bagi Genmuda ISRI, era AI tidak bisa dihindari tetapi justru dilihat sebagai kesempatan untuk menghadirkan literasi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan dengan cara baru: lebih mudah diakses, lebih dekat dengan generasi muda, tetapi tetap berpijak pada sumber sejarah yang otentik dan kajian akademis.

Sebab di tengah derasnya arus informasi digital, persoalannya bukan kekurangan informasi.

Persoalannya adalah bagaimana memastikan informasi tentang Indonesia tetap benar, bernilai, dan mampu membentuk generasi yang memahami bangsanya sendiri. ***