Self Care dan Mental Wellness: Unwind & Thrive Ubah Makna Luxury
ORBITINDONESIA.COM – Self care dan mental wellness kini diposisikan sebagai hak, bukan hadiah, lewat kisah Victoria Saddler dan brand Unwind & Thrive. Ia menyebut banyak perempuan menunda hidup bahagia karena terjebak mengejar target, lalu lupa menikmati hari ini.
Di tengah budaya hustle, perempuan sering dipuji karena sanggup memikul banyak peran sekaligus. Namun pujian itu kerap dibayar dengan kelelahan kronis, rasa bersalah saat istirahat, dan relasi yang menipis.
Victoria Saddler memulai Unwind & Thrive dari pertanyaan sederhana tentang “hidup yang baik” saat ia menyeimbangkan karier kesehatan, bisnis, keluarga, dan ambisi pribadi. Ia melihat pola yang sama pada banyak perempuan: mempersiapkan masa depan sambil mengabaikan masa kini.
Dari situ lahir misi yang tegas dan mudah diingat: “Rest is a right, not a reward.” Kalimat itu menantang keyakinan populer bahwa istirahat harus didahului produktivitas yang melelahkan.
Isu ini tidak berdiri di ruang hampa, karena tren kesehatan mental global terus menguat pascapandemi. WHO mencatat ratusan juta orang hidup dengan gangguan kecemasan dan depresi, dan beban itu sering beririsan dengan tekanan kerja serta peran pengasuhan.
Di level industri, pasar wellness juga membesar, tetapi sering jatuh pada komodifikasi “perawatan diri” menjadi sekadar belanja. Saddler mencoba menggeser fokus dari barang ke ritual, dari kemewahan material ke ketenangan batin.
Wawancara ini menempatkan mental wellness sebagai fondasi cara seseorang hadir di semua area hidup. Saddler mengingatkan bahwa sibuk tidak selalu berarti produktif, dan sukses tidak otomatis menghadirkan pemenuhan.
Pernyataan itu relevan dengan temuan Gallup yang berulang kali menunjukkan tingginya stres harian pada pekerja di banyak negara. Di ruang kerja modern, kelelahan sering dianggap normal, padahal ia menggerus kualitas keputusan dan relasi.
Yang menarik, Unwind & Thrive menjual produk seperti body oil, body butter, sugar scrub, dan candle, tetapi narasi utamanya adalah “momen restorasi.” Ini strategi positioning yang cerdas, karena konsumen membeli makna, bukan sekadar formula.
Konsep “luxury” juga dibongkar dan dibangun ulang. Bagi Saddler, luxury adalah peace of mind, hubungan sehat, waktu istirahat, dan kebebasan menikmati hidup yang sedang dibangun.
Dari sisi praktik, ia menyebut batasan waktu dan energi sebagai pintu awal reclaiming peace. Ia mencontohkan journaling, doa, gerak tubuh, hingga “quiet moment” tanpa rasa bersalah, serta rutinitas seperti Pilates dan sauna.
Namun pendekatan ini menyimpan tantangan klasik brand wellness: menjaga agar pesan tidak berubah menjadi tekanan baru. Jika self care berubah jadi daftar tugas, maka ia hanya mengganti satu bentuk tuntutan dengan tuntutan lain.
Di titik ini, kalimat “You don’t have to accomplish everything on your to-do list before you’re worthy of rest” menjadi koreksi penting. Rest ditempatkan sebagai kebutuhan biologis dan psikologis, bukan bonus moral bagi yang paling produktif.
Pelajaran bisnis yang ia sebut juga memberi konteks: pengembangan produk, vendor, relasi, dan standar kualitas menuntut ketahanan. Ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak boleh mengharuskan seseorang kehilangan dirinya dalam proses.
Unwind & Thrive tampak memanfaatkan celah yang makin besar: keinginan perempuan untuk merawat diri tanpa harus “membuktikan” diri lebih dulu. Ini bukan sekadar tren estetika, melainkan reaksi sosial terhadap kelelahan yang dinormalisasi.
Namun ada risiko ketika “rest” dipaketkan sebagai luxury brand, karena tidak semua orang punya akses waktu dan biaya yang sama. Jika tidak hati-hati, pesan pembebasan bisa terdengar eksklusif, padahal kelelahan justru banyak dialami kelompok yang paling terbebani.
Di sisi lain, Saddler tidak mengunci rest pada produk, melainkan pada kebiasaan dan batasan. Ini membuat gagasannya lebih inklusif, karena “mematikan notifikasi” atau “diam lima menit” tidak membutuhkan kemewahan material.
Poin paling tajam dari wawancara ini adalah kritik halus pada mitos “nanti kalau sudah.” Ia menolak logika bahwa kebahagiaan baru sah setelah milestone, karena hidup yang ditunda sering berakhir sebagai hidup yang terlewat.
Ketika ia berkata, “Don’t lose today chasing tomorrow,” ia sebenarnya sedang memotong akar budaya performatif. Ia mengajak pembaca mengukur sukses bukan hanya dari capaian, tetapi dari kualitas pengalaman menjalani hari.
Rencana Saddler untuk memperluas koleksi, bermitra dengan retailer besar, dan menggelar wellness experiences menunjukkan ambisi bisnis yang jelas. Tetapi pesan utamanya tetap personal: perempuan boleh bermimpi tanpa mengorbankan keindahan masa kini.
Di era ketika burnout dianggap harga wajar untuk naik kelas, Unwind & Thrive menawarkan definisi tandingan tentang luxury dan self care. Pertanyaannya tinggal satu: berapa banyak dari kita yang berani menganggap istirahat sebagai hak, bukan hadiah, mulai hari ini? (Orbit dari berbagai sumber, 18 Oktober 2026)