Putin ke China, Xi Tahan Pipa Gas Power of Siberia 2
ORBITINDONESIA.COM – Pertemuan Putin dan Xi Jinping di Beijing kembali menegaskan kemitraan Rusia-China, tetapi proyek pipa gas Power of Siberia 2 tetap menggantung. Di tengah sorotan pascakunjungan Donald Trump ke China, hasil paling nyata justru absennya kesepakatan energi yang paling diincar Moskow.
Kunjungan tahunan Vladimir Putin ke China menjadi salah satu perjalanan luar negeri yang jarang ia lakukan sejak invasi Rusia ke Ukraina. Delegasi Rusia datang besar, namun dunia fokus pada satu hal: apakah Beijing akan memberi napas baru bagi ekonomi perang Moskow.
Rusia membutuhkan pasar dan kontrak jangka panjang untuk mengganti hilangnya akses energi ke Eropa. China membutuhkan energi, tetapi tidak ingin membayar mahal atau mengikat diri pada risiko geopolitik yang tidak perlu.
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin menonjolkan “persahabatan tanpa batas” dan menandatangani lebih dari 20 kesepakatan, termasuk AI dan energi. Namun, inti yang ditunggu, yaitu pipa gas baru Power of Siberia 2, kembali tidak final.
Menurut Profesor Sören Urbansky dari Ruhr-Universität Bochum, harapan utama Rusia “sekali lagi tidak terwujud.” Ia menilai China tetap memegang kendali negosiasi, sementara Rusia hanya bisa menyatakan “hampir” sepakat tanpa detail.
Power of Siberia 2 dirancang mengalirkan hingga 50 miliar meter kubik gas per tahun melalui pipa sekitar 4.000 kilometer dari Siberia Barat via Mongolia ke China. Skala ini sebanding dengan kapasitas Nord Stream yang dulu menjadi jalur utama Rusia ke Jerman.
Nord Stream berhenti beroperasi sebelum invasi, lalu meledak pada 2022 dalam peristiwa yang diduga sabotase. Perubahan peta energi itu membuat Rusia makin bergantung pada Asia, tetapi ketergantungan tidak otomatis berarti kesepakatan terjadi.
Perang dan sanksi mengubah posisi tawar, bukan menghapusnya. Dalam banyak kasus, negara yang terdesak justru bernegosiasi dari posisi lebih lemah.
Urbansky menegaskan bahwa penetapan harga dan syarat kontrak tetap kontroversial, dan China punya leverage lebih kuat. Ia juga menyebut gangguan Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran-Israel tidak cukup mengubah kalkulasi Beijing terhadap gas Rusia.
James Brown dari Temple University Japan melihat masalah Hormuz bersifat sementara. Ia menilai pipa baru pun realistisnya baru beroperasi menjelang akhir dekade, sehingga China tidak punya alasan untuk tergesa.
Absennya kesepakatan Power of Siberia 2 menunjukkan hubungan Rusia-China tidak semulus retorika “tanpa batas.” Dalam isu energi, Beijing bertindak seperti pembeli dominan yang menunggu harga turun, bukan sekutu yang memberi karpet merah.
Rusia membutuhkan kontrak untuk kepastian pendapatan dan pembiayaan infrastruktur. China bisa menunda karena memiliki diversifikasi pasokan, mulai dari LNG global hingga pipa yang sudah berjalan.
Jika proyek ini disepakati, Moskow akan mendapat jalur ekspor strategis yang menambal kehilangan pasar Eropa. Tetapi bagi Beijing, kontrak jangka panjang adalah komitmen yang harus menguntungkan secara harga, fleksibilitas, dan risiko politik.
Brown memperingatkan, China “kurang pintar” bila cepat mengikat diri pada pasokan Rusia selama bertahun-tahun hanya karena situasi geopolitik sesaat. Kalkulasi Beijing cenderung dingin, karena energi adalah instrumen ekonomi sekaligus alat tawar.
Di sisi lain, pertemuan Putin-Xi memperlihatkan nada keras terhadap Amerika Serikat. Brown menilai, setelah kunjungan Trump ke Beijing, publik sempat berharap China melunakkan retorika, tetapi yang muncul justru penegasan anti-hegemoni.
Walau kritik terhadap AS tidak selalu eksplisit dalam pernyataan bersama, pesan politiknya terbaca. Putin bahkan mengutip Mao Zedong tentang imperialisme Amerika, yang memperkuat framing perlawanan terhadap tatanan Barat.
Namun, retorika geopolitik tidak otomatis menjadi dukungan material tanpa batas. China tetap menjaga ruang manuver agar tidak terseret ke biaya perang Rusia secara langsung.
Soal perang Ukraina, para ahli menyebut posisi China sebagai “netralitas pro-Rusia.” Secara formal Beijing di luar konflik, tetapi secara ekonomi ia membantu lewat pembelian energi Rusia dan pasokan barang penggunaan ganda.
Urbansky menyatakan, dukungan itu “mengisi kas perang Rusia” melalui impor bahan baku dan ekspor semikonduktor serta barang ganda. Tetapi ia juga menilai dukungan China tidak maksimal, karena jika maksimal Rusia “sudah lama memenangkan perang.”
Di titik ini, Beijing memilih keseimbangan yang menguntungkan. Rusia tidak kalah berarti mitra strategis tetap hidup, tetapi Rusia tidak menang berarti risiko eskalasi global dapat ditekan.
Brown menyebut China tampak puas dengan status quo “Rusia tidak menang tidak juga kalah.” Ia menambahkan, jika Rusia di ambang kekalahan, China bisa memperluas dukungan menjadi lebih langsung.
Dari Kyiv, pakar Asia asal Ukraina Natalija Plaksijenko-Butyrska melihat ketergantungan Rusia pada China makin meningkat. Ia menilai negosiasi tertutup akan terlihat dari langkah Rusia berikutnya, dan ia memprediksi eskalasi perang akan berlanjut.
Plaksijenko-Butyrska juga memperkirakan China tidak akan menekan Rusia untuk mengakhiri perang. China baru aktif berdiplomasi jika Moskow sendiri siap bernegosiasi karena tekanan militer Ukraina di wilayah Rusia.
Inti pertemuan ini bukan romantisme “persahabatan tanpa batas,” melainkan transaksi kekuasaan. China memanfaatkan kebutuhan Rusia sebagai diskon geopolitik, sambil menjaga citra sebagai mediator netral.
Putin datang membawa kebutuhan yang mendesak, sedangkan Xi membawa kesabaran strategis. Dalam hubungan seperti ini, penundaan sering kali adalah bentuk kemenangan.
Power of Siberia 2 menjadi simbol bahwa Beijing tidak ingin “menghadiahkan” apa pun, seperti kata Brown. China ingin harga terbaik, syarat paling fleksibel, dan risiko paling kecil, sementara Rusia ingin kepastian cepat.
Di Eropa, pertemuan ini dibaca sebagai sinyal bahwa perang Ukraina masih akan panjang. Jika China terus membeli energi Rusia dan memasok barang ganda, maka sanksi Barat akan terus bocor di celah perdagangan.
Namun, membingkai China semata sebagai penyelamat Rusia juga menyesatkan. Beijing tidak sedang menyelamatkan Moskow, melainkan mengelola Moskow agar tetap berguna dan tetap bergantung.
Retorika anti-AS memberi panggung politik bagi kedua pemimpin, tetapi panggung itu dibangun di atas kalkulasi biaya-manfaat. Jika biaya meningkat, China akan mengubah intensitas dukungan tanpa harus mengubah narasi publiknya.
Kunjungan Putin ke China menghasilkan banyak tanda tangan, tetapi tidak menghasilkan satu kepastian yang paling dicari: pipa gas Power of Siberia 2. Itu menegaskan satu pelajaran, bahwa kepentingan nasional China tetap menjadi kompas utama, bahkan saat retorika kemitraan terdengar absolut.
Perang Ukraina menjadi latar yang mempercepat ketergantungan Rusia, tetapi tidak menghapus kemampuan Beijing untuk berkata “tunggu.” Pertanyaannya kini bukan apakah Rusia dan China dekat, melainkan seberapa jauh China bersedia menanggung biaya kedekatan itu ketika perang terus menyala.
(Orbit dari berbagai sumber, 25 Mei 2026)