Safety Forum PT Terminal Teluk Lamong Dorong Budaya K3 Pelabuhan

islnewstv.com

islnewstv.com

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Safety Forum PT Terminal Teluk Lamong kembali menegaskan bahwa budaya K3 pelabuhan tidak boleh berhenti di spanduk dan slogan. Di TPK Teluk Lamong, capaian 25.372.483 jam kerja aman pada April–Juni 2026 dipamerkan sebagai bukti, sekaligus pengingat bahwa satu celah kecil dapat berujung fatal.

Forum keselamatan kuartal II 2026 digelar di Surabaya dengan tema “Lessons Learned by Pelindo Group Fatalities in 2026 and Blind Spot Awareness.” Pesannya jelas: keselamatan kerja harus dibaca sebagai sistem, bukan sekadar kepatuhan administrasi.

Manajemen PT Terminal Teluk Lamong hadir bersama deretan mitra operasi, dari PT Pelindo Daya Sejahtera hingga PT BST. Kolaborasi ini penting karena risiko di pelabuhan bukan milik satu perusahaan, melainkan rantai kerja yang saling bertaut.

Acara dibuka dengan penanaman pohon di area terminal sebagai simbol komitmen HSSE yang ramah lingkungan. Simbol ini menarik, tetapi publik akan menilai dari konsistensi praktik di lapangan, bukan dari seremoni.

Capaian 25.372.483 jam kerja aman selama tiga bulan terdengar impresif, apalagi melibatkan 175 pekerja internal dan 945 pekerja mitra. Namun angka “jam aman” sering menipu bila dibaca sebagai garis finis, padahal ia lebih tepat menjadi dashboard yang harus terus diawasi.

Di industri berisiko tinggi seperti terminal petikemas, statistik keselamatan bisa naik sementara potensi bahaya tetap mengendap. Banyak insiden serius berawal dari “near miss” yang tidak dilaporkan atau dinormalisasi sebagai rutinitas.

Karena itu, sesi “Fatality Lessons Learned” dari Pelindo Group menjadi inti yang paling relevan. Membahas kronologi, akar penyebab, dan pengendalian adalah cara paling jujur untuk mengubah tragedi menjadi kebijakan yang hidup.

Masalah klasiknya bukan ketiadaan prosedur, melainkan jarak antara prosedur dan praktik. Pengendalian sering berhenti di dokumen, sementara tekanan target, pergantian shift, dan kebiasaan kerja membuat disiplin runtuh perlahan.

Materi “Blind Spot Awareness” juga menyasar titik rawan yang sering diremehkan di pelabuhan. Mobilitas alat bongkar muat dan kendaraan operasional menciptakan area tak terlihat, sehingga satu langkah pekerja dapat hilang dari pandangan operator dalam hitungan detik.

Blind spot bukan sekadar isu teknis, melainkan isu desain kerja dan komunikasi. Tanpa pengaturan jalur, spotter yang kompeten, rambu yang konsisten, dan disiplin kecepatan, edukasi hanya menjadi pengingat sesaat.

Direktur Operasi dan Teknik TTL, Muhammad Syukur, menegaskan “safety is a core value that cannot be compromised.” Pernyataan ini kuat, tetapi nilai inti baru terbukti ketika perusahaan berani menghentikan pekerjaan yang tidak aman meski berdampak pada produktivitas.

Kepala Terminal TPK Teluk Lamong, Pierre Rochel Tumbol, menekankan evaluasi menyeluruh dan implementasi pencegahan di lapangan. Di titik ini, indikator keberhasilan seharusnya bergeser dari “berapa kali sosialisasi” menjadi “berapa banyak temuan ditutup tuntas dan diaudit ulang.”

Safety Forum berfungsi sebagai ruang konsolidasi, tetapi ia juga bisa berubah menjadi ritual tahunan bila tidak diikat oleh target perbaikan yang terukur. Budaya keselamatan lahir dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten, terutama saat tidak ada kamera dan panggung.

Keberadaan 945 pekerja mitra menunjukkan operasi terminal bertumpu pada ekosistem kerja, bukan satu entitas. Artinya, standar K3 harus seragam lintas perusahaan, termasuk hak pekerja untuk menolak pekerjaan berbahaya tanpa takut kehilangan jam kerja.

Di pelabuhan, risiko terbesar sering datang dari “normalisasi penyimpangan,” ketika pelanggaran kecil dibiarkan karena pekerjaan tetap selesai. Jika ini dibiarkan, jam kerja aman bisa tetap tinggi sampai hari ketika satu kombinasi faktor berubah menjadi fatalitas.

Karena itu, pelajaran dari fatalitas 2026 semestinya diterjemahkan menjadi perubahan nyata: pengawasan blind spot yang lebih ketat, pelaporan near miss yang dilindungi, dan audit perilaku yang tidak sekadar mencari kambing hitam. Keselamatan tidak boleh bergantung pada orang baik, melainkan pada sistem yang membuat orang biasa tetap aman.

PT Terminal Teluk Lamong menunjukkan keseriusan lewat forum, kolaborasi mitra, dan narasi HSSE yang berkelanjutan. Tantangannya kini adalah memastikan setiap pelajaran fatalitas benar-benar mengubah cara kerja harian, bukan hanya menambah slide presentasi.

Jika keselamatan adalah budaya, ukurannya bukan tepuk tangan di ruang forum, melainkan keberanian menghentikan pekerjaan saat situasi tidak aman. Pada akhirnya, pertanyaan paling sederhana tetap yang paling keras: apakah setiap pekerja, internal maupun mitra, benar-benar pulang dengan selamat hari ini? (Orbit dari berbagai sumber, 15 September 2026)