Cuti Ayah di Kanada Naik, Tapi Hambatan Finansial Masih Kuat
ORBITINDONESIA.COM – Cuti ayah di Kanada meningkat, namun “financial barriers” dan budaya kantor masih menahan banyak pria untuk benar-benar mengambil waktu pengasuhan yang layak. Data terbaru klaim parental Employment Insurance (EI) menunjukkan porsi laki-laki mencapai 32 persen pada 2024/25, naik dari 30,5 persen setahun sebelumnya. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Kenaikan angka cuti ayah sering dibaca sebagai sinyal kemajuan kesetaraan gender di rumah dan tempat kerja. Namun, Andrea Doucet, profesor sosiologi dan women’s and gender studies di Brock University, menegaskan kemajuan itu belum otomatis mengubah struktur yang membuat pengasuhan tetap “pekerjaan perempuan”. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Di luar Quebec, skema standar EI mengganti 55 persen pendapatan, sedangkan skema extended hanya 33 persen. Dalam banyak rumah tangga berbiaya tinggi, pemotongan pendapatan sebesar itu membuat cuti ayah terdengar ideal, tetapi terasa mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Quebec menjadi pengecualian penting karena memiliki program asuransi parental terpisah dengan tingkat penggantian upah lebih tinggi dan jatah cuti yang ditujukan khusus bagi ayah. Perbedaan desain kebijakan ini menunjukkan bahwa pilihan keluarga bukan semata soal “niat”, tetapi juga soal insentif yang nyata. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Menurut laporan monitoring dan assessment EI pemerintah federal, porsi klaim parental oleh pria hampir dua kali lipat dibanding 2017/18. Kenaikan ini mengindikasikan norma sosial berubah, tetapi juga mengungkap bahwa mayoritas klaim masih dilakukan perempuan. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Riset baru di jurnal Human Relations menambah bukti bahwa cuti ayah bukan sekadar simbol, melainkan investasi relasi jangka panjang. Studi tersebut mengikuti 10 pasangan dual-career di Inggris selama lima tahun setelah para ayah mengambil periode solo parental leave, dan menemukan manfaat yang bertahan dalam hubungan ayah-anak. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Bagi perusahaan, Doucet menekankan poin yang sering luput: ketika ayah mengambil cuti, beban pengasuhan tidak terkunci pada perempuan. Dampaknya merembet ke isu yang lebih “korporat”, seperti pay equity, retensi karyawan, dan peluang promosi. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Namun, hambatan finansial tetap menjadi tembok pertama yang ditabrak banyak ayah. Ketika penggantian upah hanya 55 persen atau bahkan 33 persen, cuti mudah berubah menjadi keputusan yang menghukum stabilitas ekonomi keluarga. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Hambatan kedua adalah budaya tempat kerja yang tak tertulis, tetapi terasa. Doucet mencatat ayah memperhatikan apakah pria di posisi senior pernah mengambil parental leave, dan apakah karier mereka “baik-baik saja” setelahnya. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Di titik ini, cuti ayah menjadi semacam tes keberanian yang tidak adil. Keputusan ayah, kata Doucet, dipengaruhi pasangan dan uang, tetapi juga oleh dukungan atau stigma dari atasan dan rekan kerja. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Solusi di level perusahaan sebenarnya konkret dan terukur: transparansi kebijakan dan top-up. Doucet mengingatkan banyak pemberi kerja bersedia menambah manfaat maternity, tetapi tidak selalu memberi dukungan yang sama pada parental leave, sehingga struktur ketimpangan terus dipelihara. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Jika top-up hanya “ramah ibu” dan dingin pada ayah, pesan yang sampai jelas: pengasuhan adalah urusan perempuan. Di sinilah kebijakan HR berubah menjadi mesin budaya, karena ia menentukan siapa yang boleh absen tanpa rasa bersalah atau takut kehilangan momentum karier. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Doucet juga mendorong perusahaan memikirkan spektrum cuti perawatan yang lebih luas, dari reproduksi hingga perawatan orang dewasa. Parental leave, katanya, hanya satu bagian dari “care leaves and care time” yang akan makin relevan di masyarakat menua dan dunia kerja yang menuntut fleksibilitas. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Kenaikan cuti ayah di Kanada patut diapresiasi, tetapi angka 32 persen masih menunjukkan perubahan yang setengah jalan. Selama biaya cuti terasa seperti penalti finansial dan stigma kantor diam-diam menghukum, kesetaraan pengasuhan akan bergerak lambat. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Quebec memberi pelajaran penting bahwa desain kebijakan bisa “memaksa” norma baru menjadi kebiasaan. Ketika negara memberi penggantian upah lebih baik dan mengalokasikan cuti khusus ayah, keterlibatan ayah tidak lagi bergantung pada keberanian individual semata. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Perusahaan juga tidak bisa bersembunyi di balik jargon “family-friendly” tanpa pembuktian anggaran. Top-up parental leave untuk ayah bukan fasilitas mewah, melainkan strategi retensi dan produktivitas, karena karyawan yang didukung pada fase hidup krusial cenderung kembali dengan loyalitas dan fokus lebih kuat. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Yang paling sering dilupakan adalah dimensi anak, bukan hanya dimensi pekerja. Jika riset Human Relations menunjukkan manfaat relasional yang bertahan lima tahun, maka menahan ayah dari cuti berarti mengurangi kesempatan anak mendapatkan kelekatan yang lebih kaya sejak dini. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Cuti ayah di Kanada sedang naik, tetapi pertanyaannya bukan lagi apakah ayah “mau”, melainkan apakah sistem “mengizinkan” mereka tanpa risiko ekonomi dan karier. Ketika kebijakan publik, budaya kantor, dan dukungan finansial bergerak selaras, pengasuhan bisa benar-benar menjadi tanggung jawab bersama, bukan slogan. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)
Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan sekadar persentase klaim EI, melainkan apakah seorang ayah bisa pulang untuk merawat tanpa rasa takut kehilangan masa depan. Jika pengasuhan adalah kerja yang membentuk generasi, mengapa dunia kerja masih memperlakukannya sebagai gangguan sementara? (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)