Selat Hormuz Jadi Senjata Iran, AS Tertekan Negosiasi Nuklir

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Selat Hormuz kembali jadi keyword utama dalam perang Iran vs Amerika Serikat, bahkan melampaui isu nuklir. Teheran membaca jalur 20% pasokan minyak dan LNG dunia itu sebagai “berlian” yang tidak akan ditukar dengan “permen” pencabutan sanksi.

Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dipentaskan sebagai demonstrasi ketahanan negara. Kerumunan pelayat di Teheran mengirim pesan bahwa tekanan AS dan Israel tidak memecah Iran.

Perang yang dipicu serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 tidak menghasilkan efek gentar yang diharapkan. Iran justru menjadikan ketahanan perang sebagai modal tawar diplomasi.

Washington menawarkan gencatan senjata 60 hari untuk membuka jalan kesepakatan nuklir. Namun hitungan mundur itu, menurut para analis, bahkan belum benar-benar berjalan karena Iran menguasai tempo.

Inti strategi Iran adalah menggeser pusat negosiasi dari uranium ke geografi. Selat Hormuz diposisikan sebagai fakta politik yang harus diakui sebelum membahas program nuklir.

Alex Vatanka dari Middle East Institute menegaskan nilai Hormuz bagi Iran lebih simbolik daripada finansial. Ia menyebut Teheran mengincar “pengakuan simbolis” bahwa Hormuz berada dalam kedaulatan efektif Iran.

Pepatah Persia yang dikutip Vatanka merangkum kalkulasi itu: “Why give away a diamond for a lollipop.” Dalam bingkai Iran, Hormuz adalah berlian, sementara pencabutan sanksi dan pencairan aset hanyalah permen.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf bahkan menyebut Hormuz sebagai “anugerah ilahi.” Pernyataan itu mengunci narasi domestik bahwa selat tersebut bukan komoditas tawar-menawar biasa.

Alan Eyre, mantan diplomat AS yang menangani Iran, melihat pola mengulur waktu sebagai taktik sadar. Iran ingin pembicaraan dipakai untuk “melembagakan” kendali, dari pengaturan jalur hingga koordinasi pelayaran.

Jika skema itu terjadi, konsekuensinya bukan sekadar keamanan maritim, tetapi tata kelola energi global. Koridor yang dilalui sekitar 20% minyak dan LNG dunia akan memiliki “harga politik” baru yang ditentukan Teheran.

Dari sisi AS, tekanan politik domestik membuat posisi Washington rapuh. Eyre menilai Donald Trump membutuhkan kesepakatan lebih cepat karena kalkulasi pemilu paruh waktu Kongres.

Aaron David Miller menyebut tenggat 60 hari sebagai ilusi. Ia menilai operasi militer Washington gagal mengurangi daya tawar Iran, sehingga Teheran tak punya insentif untuk tergesa.

Ebtesam Al-Ketbi dari Emirates Policy Center menyimpulkan Hormuz kini menjadi sumber daya tawar permanen. Setelah menemukan “harta karun” itu, Iran dinilai tidak akan kembali ke status quo sebelum perang.

Dampak ekonomi perang mulai diuji saat emiten Teluk merilis laporan kuartal II-2026. FH Capital menilai perbankan dan properti paling rentan karena inflasi, suku bunga, dan pelemahan aktivitas.

Telekomunikasi relatif bertahan karena kontrak jangka panjang. Energi diuntungkan kenaikan harga, tetapi tetap menghadapi gangguan pasokan.

HSBC menaikkan proyeksi Brent menjadi US$95 per barel pada 2026, dengan rata-rata kuartal II US$114. Namun ADNOC Gas memperkirakan penjualan gas domestik turun 19% akibat gangguan operasional.

Ketergantungan pada Selat Hormuz menjadi variabel pembeda antarnegara Teluk. HSBC menilai Arab Saudi masih tumbuh 2,1% pada 2026 karena punya jalur Laut Merah, sementara Oman lebih tahan karena berada di luar selat.

UEA, Qatar, dan Kuwait diperkirakan lebih tertekan karena ketergantungan tinggi pada jalur itu. S&P Global Ratings memperingatkan ketidakpastian dapat menekan jasa dan konsumsi jika kepercayaan usaha melemah.

IMF dalam WEO Update Juli 2026 memperkirakan pertumbuhan Timur Tengah dan Asia Tengah turun ke 0,7% pada 2026 dari 3,7% pada 2025. Gangguan jalur energi dan lonjakan harga komoditas menjadi penjelasan utamanya.

Di pasar, konsumsi domestik menunjukkan anomali ketahanan. Saham Talabat disebut melonjak lebih dari 60% dalam tiga bulan, saat layanan pesan-antar menjadi substitusi di tengah ketidakpastian.

Namun properti memberi sinyal berbeda. Citigroup mencatat penjualan rumah di Dubai turun tajam dibanding sebelum perang, meski fundamental pengembang dinilai masih cukup kuat.

Iran tampak memahami satu hal yang sering diabaikan diplomasi modern: peta bisa lebih menentukan daripada persenjataan. Dengan mengunci Hormuz sebagai simbol kedaulatan, Teheran memaksa lawan bermain di papan yang ia kuasai.

AS terlihat memasuki negosiasi dengan asumsi “nuklir adalah pusat gravitasi.” Iran membaliknya, dan menjadikan pengakuan atas Hormuz sebagai prasyarat psikologis sekaligus politik.

Masalahnya, pengakuan semacam itu berisiko menciptakan preseden. Jika jalur perdagangan global dapat “dilembagakan” di bawah pengaruh satu negara melalui negosiasi pascaperang, maka hukum pasar berubah menjadi hukum tekanan.

Di sisi lain, menolak realitas geografis juga tidak menyelesaikan apa pun. Dunia tetap membutuhkan arus energi, dan Selat Hormuz tetap sempit, rentan, serta mudah dipolitisasi.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan hanya apakah Iran akan melepas Hormuz. Pertanyaannya adalah berapa harga stabilitas yang bersedia dibayar dunia, dan siapa yang akhirnya menanggungnya.

Perang 2026 membuat Selat Hormuz bukan sekadar jalur, melainkan bahasa baru dalam diplomasi. Iran menjadikannya “berlian” untuk mengubah ketahanan perang menjadi legitimasi politik jangka panjang.

Jika AS dan sekutunya menerima kerangka itu, maka negosiasi nuklir berubah menjadi negosiasi tata kelola energi. Jika menolak, risiko gangguan berulang akan terus membayangi pasar dan negara-negara yang bergantung pada selat.

Pada akhirnya, dunia dihadapkan pada paradoks yang getir: keamanan energi global ditentukan oleh titik sempit di peta, tetapi juga oleh kebanggaan dan pengakuan. Pertanyaannya, apakah diplomasi masih mampu menundukkan simbol, atau simbol akan terus menundukkan diplomasi.

(Orbit dari berbagai sumber, 22 Juli 2026)