Tony Gatlif Meninggal: Sutradara Film Roma dan Gadjo Dilo

Deadline

Deadline

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Tony Gatlif meninggal di Arles, Prancis Selatan, pada 3 September dalam usia 77 tahun. Kabar duka ini menutup perjalanan seorang sutradara film Roma yang mengubah luka diaspora menjadi sinema, dari Latcho Drom hingga Gadjo Dilo.

Nama lahirnya Michel Boualem Dahmani, lahir di Aljir pada 10 September 1948 dari ayah Kabyle dan ibu berdarah Andalusia serta Gitane. Masa kecilnya keras, tumbuh miskin di kawasan kumuh pinggiran ibu kota Aljazair sebelum pergi ke Prancis pada usia 14 tahun di awal 1960-an.

Di Prancis, hidupnya sempat diwarnai keterbatasan dan kriminalitas kecil. Titik balik datang saat ia bertemu idolanya, aktor Michel Simon, yang menuliskan surat rekomendasi untuk kursus seni drama di Saint-Germain-en-Laye dekat Paris.

Pengalaman sebagai aktor membuatnya mengenali panggung, tetapi kegelisahannya mencari bentuk ekspresi sendiri. Ia lalu menulis dan menyutradarai karya yang menyerap pengalaman migrasi serta menempatkan budaya Roma sebagai pusat narasi, bukan dekorasi.

Debut penyutradaraannya dimulai pada 1975 lewat La tête en Ruines, lalu berlanjut dengan Corre Gitano yang syuting dan berlatar Spanyol. Film itu mengisahkan pemuda gipsi yang dituduh melakukan kejahatan yang tidak ia lakukan, sebuah pola klasik tentang stigma dan salah-angka yang sering menimpa minoritas.

Di titik ini, Gatlif seperti sedang menyusun “arsip emosional” Roma Eropa melalui sinema. Ia tidak sekadar memotret kemiskinan atau kriminalitas, tetapi menyorot bagaimana prasangka bekerja sebagai mesin sosial yang memproduksi tersangka.

Puncak pengakuan datang pada 1992 ketika ia memenangi penghargaan Cannes Un Certain Regard lewat Latcho Drom, dokumenter tentang musik gipsi. Pilihan menempatkan musik sebagai tulang punggung narasi menegaskan bahwa identitas Roma hidup dalam ritme, bukan hanya dalam statistik.

Tahun 1997, Gadjo Dilo (The Crazy Stranger) memperluas jangkauan publik lewat tokoh pria Prancis yang pergi ke Rumania mencari penyanyi Roma dari kaset peninggalan ayahnya. Film ini tayang perdana di Locarno Film Festival dan memenangi Silver Leopard, menandai daya tarik universal dari kisah yang berangkat dari pinggiran.

Namun ada lapis penting yang sering luput: Gadjo Dilo juga menguji relasi “orang luar” dan komunitas yang dikunjungi. Tokoh asing itu bisa menjadi jembatan empati, tetapi juga berisiko menjadi lensa yang tetap memusatkan pengalaman pada penonton non-Roma.

Pada 2004, Gatlif meraih Best Director di Cannes lewat Exils, drama otobiografis yang kembali mempertemukannya dengan Romain Duris dan menghadirkan Lubna Azabal. Penghargaan ini mengukuhkan bahwa cerita migrasi dan pencarian asal-usul bukan tema kecil, melainkan arus utama yang terus relevan di Eropa modern.

Karya Gatlif penting karena ia memindahkan Roma dari objek pemberitaan menjadi subjek yang berbicara. Ia menawarkan sinema yang tidak meminta simpati murahan, tetapi menuntut penonton mendengar—terutama melalui musik—sebagai bentuk pengetahuan yang sah.

Meski begitu, sinema identitas selalu berada di wilayah rawan antara representasi dan romantisasi. Ketika tradisi ditampilkan sebagai energi estetika, ada risiko publik hanya mengingat eksotisme, bukan struktur diskriminasi yang membuat komunitas Roma terus rentan.

Di sinilah ketajaman Gatlif terasa sekaligus bisa diperdebatkan. Ia membuka pintu lebar untuk kebudayaan Roma masuk ke festival-festival besar, tetapi pintu itu tetap berada dalam bangunan industri film yang sering lebih nyaman merayakan “warna budaya” ketimbang membongkar politik ketidaksetaraan.

Namun, warisan terbesarnya justru pada keberanian memilih sudut pandang yang tak populer. Ia mengingatkan bahwa Eropa tidak hanya dibangun oleh pusat-pusat kota dan institusi, melainkan juga oleh perjalanan, pengusiran, dan lagu-lagu dari komunitas yang sering disisihkan.

Tony Gatlif meninggalkan filmografi yang membuat Roma terlihat sebagai manusia utuh: rapuh, marah, jenaka, dan bermartabat. Dari Latcho Drom hingga Exils, ia menunjukkan bahwa identitas bukan label, melainkan proses panjang yang sering dimulai dari kehilangan.

Kematian Gatlif di Arles pada 3 September menutup satu suara penting, tetapi tidak menutup pertanyaan yang ia tinggalkan. Apakah kita menonton kisah Roma untuk memahami ketidakadilan, atau sekadar untuk menikmati “keunikan” yang aman di layar?

Jika sinema bisa menjadi ruang belajar, maka film-film Gatlif adalah undangan untuk mendengar lebih pelan dan menilai lebih jernih. Pada akhirnya, ukuran penghormatan terbaik bukan hanya mengenang namanya, tetapi memastikan komunitas yang ia perjuangkan tak kembali dibungkam oleh stereotip. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)