Novel Agus Bandono tentang Makna Keluarga dan Kepulangan yang Sesungguhnya.

Ilustrasi Raga pulang ke rumah keluarga, disambut kakak dan ibunya.

Ilustrasi Raga pulang ke rumah keluarga, disambut kakak dan ibunya.

Review Buku

Agus Bandono. Surat dari Ibu. Bone: Alinea Indonesia, September 2026. Tebal: 308 halaman.

ORBITINDONESIA.COM - Novel Agus Bandono ini mengisahkan perjalanan hidup Raga, seorang anak desa dari Gerih, Ngawi, yang berhasil merantau dan sukses menjadi dosen ilmu sosial dan politik di kota.

Di tengah kenyamanan hidup akademisnya, Raga mendadak dikejutkan oleh sepucuk surat kusam dari ibunya yang mengabarkan bahwa sepeninggal ayahnya, rumah keluarga mereka terancam dilelang pada hari Jumat akibat lilitan utang.

Surat tersebut memaksa Raga pulang dan meninggalkan rutinitasnya demi menghadapi masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

Sekembalinya ke kampung halaman, Raga disambut dengan ketegangan oleh kakaknya, Bagus, yang merasa ditinggalkan seorang diri menanggung beban keluarga dan merawat ibu mereka.

Sebagai seorang akademisi, Raga mencoba menganalisis dokumen utang peninggalan ayahnya kepada rentenir desa bernama Pak Karto, namun ia menyadari bahwa persoalan keluarga ini tidak dapat diselesaikan sekadar dengan logika hukum atau materi belaka.

Konflik batin ini turut membawa Raga mengenang masa-masa sulit remajanya saat berjuang menempuh pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi dan rasa minder.

Menjelang pelelangan rumah serta penebangan pohon mangga tua di pekarangan, Raga dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup yang berat.

Pada akhirnya, novel Surat Dari Ibu menyampaikan kisah emosional tentang perjuangan seorang anak dalam memahami pengorbanan orang tua, mendamaikan rasa bersalah akibat mobilitas sosial, serta merajut kembali makna keluarga dan kepulangan yang sesungguhnya.

Penulis novel ini punya latar belakang sebagai ilmuwan sosial, dosen, yang juga lama bekerja sebagai konsultan. Latar belakang itu memperkuat penulisannya karena berbasis pada pengalaman pribadi, sehingga ia memahami dan menghayati berbagai persoalan sosial masyarakat pedesaan, seperti yang dituangkan dalam novel ini.

(Satrio Arismunandar, penulis SATUPENA) ***